SURAT UNTUK PAK NADIEM

 


        Selamat Malam Pak Nadiem, Perkenalkan saya mahasiswa salah satu kampus swasta di kota kecil di Jawa Timur, Yang masa sekolahnya merasakan bagaimana dunia pendidikan dipimpin oleh bapak.

      Sungguh hari yang melelahkan bagi bapak, dan keluarga menghadapi persidangan panjang nan menjemukan, yang berakhir amat sangat mengecewakan, tangis bapak pecah, tangis keluarga besar bapak pun tak bisa dibendung, bahkan tangis saya juga tidak tertahankan, melihat bagaimana bapak, yang telah berjasa begitu besar pada bidang ekonomi, teknologi dan bahkan pendidikan negeri ini, berakhir tanpa balasan begitu saja. 

Sedikit bercerita pak… 

       Saat mendengar berita di pagi hari yang cerah, saya melihat di televisi, bahwa presiden telah mengangkat bapak menjadi menteri pendidikan, sungguh kabar yang membawa harapan besar bagi saya. Berharap dunia pendidikan di Indonesia, bagi kami para siswa, tidak lagi sekedar tentang teori menjemukan, ujian yang selalu dihantui ketakutan dan budaya contekan, dari pengetahuan yang terkekang, berkat bapak, sekolah menjadi sebuah gerbang ilmu pengetahuan yang bebas kami naungi. Bagi para guru, bapak adalah harapan akan kesejahteraan mereka, kebebasan mereka dalam mengajar murid-muridnya, kemudahan akan penggunaan teknologi yang sudah didahului oleh negara tetangga. 

        Saya sadar, saat menjadi menteri pendidikan, bapak tidak sesempurna yang banyak orang harapkan. Namun, menjadi menteri tidak ada sekolahnya pak, layaknya pernikahan, yang tidak ada kursusnya. Bapak adalah menteri yang selalu belajar, mau mendengar, bahkan dari seorang guru di pelosok negeri pun bapak dengar suaranya. Saya sendiri melihat, melalui kakak perempuan saya yang pernah berkesempatan mengobrol dengan bapak. Bapak datang bukan sebagai seorang pejabat dengan pengawalan ketat nan padat sehingga suara kecil kami dapat diredam, namun bapak datang sebagai Nadiem, seorang anak bangsa, yang memimpikan perubahan besar, masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik. 

        Gerakan Merdeka Belajar yang bapak gagas, hasil dengar pendapat berbulan-bulan, menjadi salah satu upaya bapak, agar kami, para murid tidak terkekang dan puas akan setetes ilmu pengetahuan di sekolah saja, bagai burung dalam sangkar. Namun, bapak telah membebaskan kami, agar lebih merdeka dalam belajar apapun, kapanpun, dimanapun bersama siapapun, karena ilmu pengetahuan sesungguhnya seluas samudra. 

        Betapa besar jasa bapak kepada bangsa ini, bapak mendirikan salah satu perusahaan rintisan dengan valuasi terbesar kala itu, dan bahkan menjadi UNICORN pertama di Asia Tenggara. Bapak telah membantu banyak ayah yang berjuang mencari sesuap nasi dan sekotak susu untuk anak-anaknya mendapatkan pekerjaan bermodalkan motor bututnya. Bapak juga telah membantu banyak ibu yang berjualan masakannya agar bisa membayar uang SPP anaknya melalui warung dari ponselnya. Bapak bahkan telah mengubah kesulitan yang hampir dialami semua orang, menjadi kemudahan dalam genggaman. 

        Tak terkecuali ayah saya, yang kala itu di PHK perusahaan tempat ia mengabdi bertahun-tahun. Bermodalkan motor Supra dan ponsel satu jutanya, ia kembali bisa menafkahi kami sekeluarga hingga akhir hayatnya. Bahkan saya pernah bertekad, ketika lulus SMK nanti, saya akan masuk perguruan tinggi negeri dengan jurusan teknologi, hingga bisa kembali bekerja dan mengabdi di perusahaan yang bapak dirikan, bukan karena apa, saya hanya ingin membalas kebaikan bapak. Bapak mungkin bisa mendirikan perusahaan di negara lain yang lebih mudah dan lebih maju, namun atas rasa cinta yang besar kepada tanah air, bapak kembali dari perantauan, kembali mendirikan Gojek, yang telah membantu jutaan masyarakat di negeri ini. 

        Kecintaan bapak akan negeri ini diuji dengan jabatan yang bapak mungkin tidak harapkan. Bapak diangkat menjadi menteri pendidikan, posisi krusial yang mengemban beban tugas berat, menjamin sumber daya manusia Indonesia kedepannya berkualitas, beradab dan berpendidikan. Mimpi-mimpi bapak begitu besar untuk dunia pendidikan negeri ini, namun, mungkin orang-orang diatas sana tidak siap akan kerugian yang akan mereka tanggung. 

“Jika tidak menguntungkan, kenapa harus dijalankan?” 
Begitu mungkin kata mereka. 

        Dari semua persidangan, setiap perdebatan, setiap kesaksian, setiap suara dan dukungan, menunjukan betapa besar kekuatan akan kebenaran dan harapan akan keadilan, namun, sepertinya negeri ini masih murah soal hukum dan fitnah. 

        Tidak sepeserpun bapak mengambil keuntungan, memang betul bapak, saya meyakini hal itu. Saya yakin bapak akan lebih makmur dan sejahtera dengan tetap berada di singgasana kerajaan yang bapak bangun, namun bapak memilih turun “gunung” mengabdi, bekerja keras, bermimpi akan perubahan besar di negeri ini, untuk kesekian kalinya.

        Namun mungkin bapak lupa, hal yang tidak mungkin bisa diubah dari negeri kita tercinta ini adalah, kegilaan akan uang dan posisi. Semua orang, akan melakukan apapun untuk 2 hal itu, apapun.

        Bahkan ketika kami sudah muak dan membenci setiap kalimat tuntutan dari jaksa kepada bapak, bapak tetap meminta kami mencintai negeri ini. Entah terbuat dari apa hati bapak.

18 tahun? Amat sangat tidak masuk akal! 
Tanpa bapak, mungkin kita telah 18 tahun lamanya tertinggal dari negeri lain, tentang teknologi. 
Tanpa kepemimpinan bapak di dunia pendidikan, mungkin kita akan mundur 18 tahun lamanya, tertinggal jauh dari negeri maju yang bahkan sudah tahu cara menggunakan komputer jinjing.

        Pak Nadiem, bapak tidak pernah sekalipun membunuh, tidak sekalipun mencuri bahkan merugikan, namun begitulah pak, negeri ini dijalankan, yang jujur bukannya mujur, tapi akan dipaksa mundur, jika tidak mau, maka harus dikubur.

        Saya yakin, dan bahkan kita semua yakin, bapak tidak bersalah, pun jika bapak masuk ke dalam jeruji besi, kami akan selalu mengingat bapak sebagai salah satu tokoh pejuang keberanian yang cinta tanah air lebih dari apapun.

        Saya takut pak Nadiem, jika perlakuan mereka kepada bapak akan menjadi karma bagi kami semua. Perlakuan jahat, fitnah, kemunafikan, kebohongan dan kezaliman mereka akan diganjar tuntas oleh Tuhan kepada kami, kami takut pak…

        Saya ingin mendukung bapak, namun, kami tidak memiliki kekuatan sebesar mereka, yang memiliki segalanya, seakan hidup berada di surga, apa yang mereka inginkan, langsung dikabulkan berkat kekuatan harta.

Namun dari bapak, saya belajar,
Titik tertinggi dalam mencintai adalah, keikhlasan
Bapak tetap terus mencintai negeri yang bapak ikut rawat dan kembangkan ini meskipun negeri ini telah melukai hati bapak.

Pak Nadiem, kami selalu bersama bapak, doa, harapan akan kesehatan, kekuatan dan keteguhan hati bapak akan senantiasa kami langitkan kepada tuhan.

Komentar