PERTAMA KALI IKUT LOMBA ESAI BARENG MABA!? SIAPA TAKUT?

 


Bulan April tahun lalu, aku berkesempatan menjadi pembawa acara pada acara orientasi mahasiswa baru. Sebuah kebanggan dan kehormatan tentunya bisa membawakan acara tahunan terbesar yang meriah dan penuh kenangan bagi mahasiswa baru di kampusku. Aku tidak sendirian, aku bersama Putri, temanku yang pernah aku ceritakan mengajarkan aku menari.


Singkat cerita, untuk mengisi kekosongan saat acara istirahat waktu orientasi, kami mencoba berkeliling untuk mencoba bertanya-tanya ke mahasiswa-mahasiswi baru. Aku mencari mahasiswa sedangkan Putri mencari mahasiswi untuk diajak ke depan panggung untuk kita “interogasi”. Aku secara acak menarik salah satu mahasiswa yang tampak menarik dari arah belakang, ia sedikit malu-malu saat maju ke depan, namun aku yang ngeyelan ini menarik tangannya sampai mau maju ke panggung. Akhirnya kita tanyai mereka berdua alasan mereka berkuliah di kampus kami dan memilih program studi yang mereka ambil sekarang.


Kebetulan mahasiswa yang aku pilih satu program studi denganku. Dia dua tingkat di bawahku, dan sampai sekarang kami akrab karena cukup sering mengikuti lomba bersama.


Deska namanya, dia berasal dari tanah kelahiran yang sama dengan ayahku. Saat itu kami berdua dipanggil oleh dosen pembimbing akademiknya Deska, yang tidak lain dan tidak bukan adalah dosen yang aku asistensi sejak aku semester 3, Pak Andy namanya. Kami dikumpulkan bersama dengan beberapa mahasiswa bimbingan skripsinya di sebuah kelas. Tiba-tiba kami diminta untuk mengikuti lomba esai di salah satu perguruan tinggi negeri ternama di Sumatera. Awalnya aku ragu, bagaimana tidak, ini pertama kalinya aku mengikuti lomba esai ilmiah dan ditambah lagi aku dijadikan setim dengan mahasiswa baru kemarin sore yang bahkan baru mulai kuliah kemarin. Bukan bermaksud meremehkan, tapi, bukannya nanti bakalan berat sebelah, alias, lebih banyak aku yang kerja daripada si Deska.


Namun, karena kami diyakinkan oleh pak Andy, bahwa pasti bisa, topik dan temanya sudah disiapkan, kita hanya perlu merancang esainya agar dapat sesuai dengan ketentuan penilaian.



Pengerjaan pun dimulai, Besoknya aku membuat janji dengan Deska untuk bertemu di perpustakaan kampus untuk menyusun latar belakang sampai isi. Sebenarnya kami sudah diberi arahan oleh pak Andy untuk kerangka esai yang harus diisi, hanya tinggal mengisi sesuai dengan ketentuan penilaian lomba dan panduan. Tidak seperti yang kukira awalnya, ternyata dia cukup kooperatif dan mau membantu, apapun yang kuminta untuk mendukung penyusunan esai, ia lakukan. Sesekali kami mengobrol, mengapa kami bisa berakhir di jurusan Keperawatan, kalau aku jelas karena mencari pekerjaan yang nggak akan digantikan oleh AI. Nah, Kalau Deska katanya ingin melanjutkan mimpi kakaknya yang sudah meninggal dan dulunya berprofesi sebagai perawat juga. Kami di perpustakaan itu dari pagi hingga perpustakaan tutup, karena aku tahu, pak Andy adalah orang yang tidak mentoleransi kesalahan sedikitpun, semua harus sempurna kalau mau menang.


Esok harinya, setelah ujian aku bersama Deska menemui pak Andy di kelas biasanya untuk konsultasi esai yang kami kerjakan kemarin. Apakah beliau langsung menerima dan bilang “ACC!” tentu tidak! Masih terdapat detail yang salah. Mulai dari alur penulisan yang kurang pas lah, kalimat yang kurang efektif lah, daftar pustaka dan penelitian terdahulu yang kurang relevan lah, ada saja pokoknya. Namun di hari itu juga kami perbaiki, Mulai dari siang hari hingga lepas Isya kami baru selesai.


Singkat cerita, setelah seminggu kami membuat esai, waktu pengumpulan tiba, Aku yang juga sibuk bekerja kebetulan hari itu sedang sangat sibuk, aku serahkan esai yang sudah kami perbaiki ke Deska untuk dikumpulkan, beserta semua berkas administrasi yang harus dipenuhi, karena aku yakin dia punya lebih banyak waktu luang, sekalian biar dia belajar mengurus administrasi lomba yang segitu banyaknya.


Esai sudah kami kumpulkan, berkas administrasi sudah kita penuhi semua, pak Andy sudah mengingatkan berkali-kali, agar berhati-hati dengan urusan administrasi, jangan sampai esai yang dibuat dengan sangat amat teliti dan dikerjakan berhari-hari, dari pagi hingga malam hari tidak lolos seleksi 10 besar hanya karena kurang berkas. Seperti pada umumnya lomba esai, panitia akan menyeleksi 10 terbaik esai dari sekian ratus esai, dan setelah itu, 10 besar finalis akan mempresentasikan esainya di depan dewan juri untuk memperebutkan posisi juara pertama hingga ketiga.



Setelah dua minggu kami menanti pengumuman, akhirnya tibalah saat pengumuman 10 besar finalis. Pengumuman dilakukan di sosial media kampus yang melaksanakan lomba esai itu, di akun Instagram. Hanya Deska yang mengikuti akun Instagramnya, kalau aku karena sudah sibuk kerja sambil kuliah, boro-boro mikir nge-follow mikirin kerjaan sama tugas aja udah pusing. Dia mengabarkan melalui pesan Whatsapp “Mas, kita lolos 10 besar!” aku pun terkejut bukan main, senang dan sedih bercampur jadi satu. Senangnya adalah karena ternyata kita baru pertama ikut lomba esai saja dengan perpaduan tim yang “agak lain” saja lolos, bahkan kita bersaing dengan kampus-kampus ternama seperti UGM, UNHAS, UMS, UDAYANA, UNS dan universitas-universitas ternama lainnya. Sedihnya, berarti kita harus kerja pagi-malam lagi untuk membuat salindia, Karena saingan kita kampus top semua nih.


Apakah kita cukup membuat salindia dalam 3 hari? Oh tentu tidak! Seminggu lagi dong. Kalau esai saja satu minggu, ya masa salindia yang lebih detail menyusun gambar dan kata bahkan video agar sesuai dengan konten dalam esai cukup selesai dalam sehari? wkwkwk. 


Kali ini aku bisa membagi tugas, Deska aku beri tugas untuk menyusun peta jalan, peta konsep dan contoh prototipe produk kami. Seperti biasa sehari kita menyusun bareng-bareng, setelah selesai besoknya kami konsultasikan ke pak Andy, begitu terus hingga hari presentasi kurang 2 hari. Pak Andy adalah tipe orang yang akan selalu memberikan dukungan secara maksimal, untuk presentasi saja beliau mencarikan kami tutor untuk kelas presentasi esai. Jadi kami dilatih selama 2 hari secara intensif untuk belajar mempresentasikan esai kami seolah-olah di depan juri, dan menjawab semua perkiraan pertanyaan yang mungkin ditanyakan, ada mungkin hingga 50 pertanyaan yang harus kami jawab bergantian. Kami berlatih cukup intens saat itu, dari siang hingga malam dan berjalan selama 2 hari hingga hari H tiba.


Aku dan Deska dipinjamkan ruang sidang kampus yang sangat tertutup dan terpisah dari keramaian, tentu itu inisiatif dari pak Andy, ia tidak mau saat presentasi ada gangguan sedikitpun. Kami datang pagi-pagi sekali, kami mendapat urutan tengah-tengah, urutan keenam. Tidak cukup berlatih dengan tutor kemarin, kami berlatih lagi untuk presentasi, karena dibatasi waktu hanya 7 menit dengan salindia sebanyak 25 halaman. Kami berlatih berbicara seefektif dan seefisien mungkin, kami berlatih biar nggak belibet waktu ngomong didepan para profesor nanti. Oh ya, sebenarnya untuk Grand Final lomba dilakukan di universitas penyelenggara, namun karena jarak yang sangat jauh, kami diperkenankan mengikuti secara daring. Tantangannya adalah jaringan jelek atau salindia yang terlambat berpindah ke lembar selanjutnya.


Tibalah giliran kami, kami sudah menyiapkan banyak catatan berlembar-lembar berisi poin-poin yang akan kita sampaikan, pertanyaan yang mungkin keluar beserta jawabannya, dan apa yang terjadi saat sesi tanya jawab? TIDAK ADA SATUPUN PERTANYAAN YANG KAMI SIAPKAN KELUAR DARI MULUT DEWAN JURI! 🥴(Benjut ra koe!)


Namun untungnya, karena kami yang menyusun esai dan salindia, berkutat dengan mereka selama berhari-hari yakali kita nggak paham produknya. Yah meskipun kita menjawab dengan penuh deg-deg an, pertanyaan dari dewan juri seluruhnya kami jawab.


Dan ada satu hal unik, ternyata Deska adalah anak yang pemalu, dia punya trauma masa lalu saat berbicara di depan umum dia pernah nge-blank cukup lama, dan orang-orang memperhatikannya. Dia berkali-kali bilang kepadaku, gimana nanti kalau aku nge-blank lah, gimana kalau tiba-tiba nggak bisa ngomong di tengah-tengah presentasi lah, gimana nanti kalau dia grogi lah, ada ajalah pokoknya yang dia takutkan. Tapi aku cuman bilang ke Deska “Ga usah takut, belum tentu yang kamu takutkan terjadi, toh kamu juga udah latihan kan, nanti aku bantu, gampang” Dan yup, dia berhasil mempresentasikan esai bersamaku secara bergantian dan tidak nge-blank meskipun aku lihat tangan, kaki hingga jari-jari bergetar semua, wkwkwk. Keringatnya bercucuran bukan main, seperti habis jogging keliling Monas, bahkan degup jantungnya terdengar hingga ditelingaku. Ketika selesai presentasi, kulihat ia seperti habis BAB, sangat lega dan plong katanya.


Setelah selesai presentasi, kami pulang, saat itu sudah sore hari, Pak Andy yang setia menemani kami juga pulang dan mengapresiasi hasil kerja keras kami, dan ia percaya 100% kalau kami bakalan menang, aku aja ragu, Deska apalagi, namun ya sudahlah, sisanya kita serahkan ke yang maha kuasa.




Malamnya, adalah waktu pengumuman hasil pemenang, kita diminta untuk bergabung ke siaran langsung akun Instagram kampus penyelenggara. Aku menonton dari rumah, di grup obrolan kami, aku bagikan tautan agar pak Andy dan Deska bisa ikut melihat. Aku tidak berharap banyak, namun, tidak disangka, tidak diduga, tidak dikira-kira, saat pengumuman juara aku cukup tertinggal, juara ketiga dan kedua sudah diumumkan dan aku tidak tahu dari kampus dan tim mana mereka, namun, saat pengumuman juara pertama



“Juara pertama, diperoleh oleh tim Bhakta Muda dari IIK Bhakti Wiyata Kediri!!!”


Betapa kaget, senang, tidak kusangka, kami tim yang baru saja ikut lomba esai untuk pertama kalinya, bersaing dengan perguruan-perguruan tinggi negeri bergengsi, bahkan bisa dibilang kampus top 10, dan pemenangnya adalah kampus swasta seperti kami. Akupun langsung merekam dan membagikan momen itu di grup obrolan. Pak Andy tentu senang, tapi tidak se-terkejut kami, karena ia sudah menduga dan yakin 100% bahwa kita akan mendapatkan juara pertama. 


Hari itu menjadi pembuktian bagiku, bahwa ketelitian, kedisiplinan, ketekunan dan keberanian adalah kunci utama jika ingin berhasil. Dan hari itu juga menjadi pembuktian untuk Deska, ia berani melawan trauma masa lalunya, dan berhasil berdamai bahkan memenangkan traumanya, berbicara didepan umum. Saat itu juga aku sadar, aku tidak boleh sombong, siapapun partner dalam tim, kita harus selalu mengutamakan kerja sama, sekecil apapun usaha partner kita, kita harus mengapresiasi dan memastikan mereka merasa berguna dalam sebuah proyek.


Sebagai orang yang cukup individualis dan tidak terlalu suka berkelompok, kompetisi yang aku ikuti bersama Deska memberikan pelajaran, bahwa kemenangan yang diraih atas kerja sama, rasanya akan lebih menyenangkan alih-alih kemenangan yang diraih sendirian.

Komentar