(THE HEROES) BU SRI, SANG MENTARI DI SORE HARI
Bu Sri, Itulah panggilan murid-murid dan masyarakat luas kepada beliau, Perawakannya kurus, berkerudung, berkacamata, memakai baju panjang biasanya berwarna netral yang lebih cenderung ke pudar akibat pencucian berkali-kali dan dijemur langsung dibawah terik matahari. Saat bersalaman, kami pasti merasakan kelembutan tangan beliau yang sudah cukup keriput. Dalam setiap tutur katanya, ketika kami mengajak berbicara beliau selalu memastikan apa yang kami bicarakan, agar beliau merespon dengan tepat, selain dari pendengarannya yang cukup lemah, tapi jangan tanya soal pendengarannya soal bacaan AL-Quran yang salah dan benar, beliau sangat sensitif dengan bacaan yang tidak tepat, mulai dari panjang, pendek, harakat, beliau ahlinya.
Sri Handayani, beliau adalah guru ngaji ku semasa sekolah dasar. Sebenarnya sebelum Bu Sri, aku mengaji di salah satu rumah seorang guru, namun metode mengaji beliau harus mengantre satu-satu, orang yang sabarnya setipis kulit bawang ini tidak cocok, akhirnya pindah mencari dan bertanya ke teman sekelas dimanakah tempat mengaji yang seperti aku mau itu.
Letaknya di masjid besar, tidak jauh dari sekolahku, mungkin hanya 40 langkah saja. Ketika itu Bu Sri adalah orang yang pertama kali ku temui, aku datang lebih awal karena agar bisa mengenal lingkungan baru itu. Beliau menyambutku dengan ramah dan sukacita, akupun merasa senang disambut dengan baik disitu, tutur katanya lembut dan penuh perhatian. Beliau memintaku untuk membaca AL-Quran yang kubawa dari rumah sambil diperhatikan lebih serius dengan beberapa teman yang lain, mungkin beliau ingin tahu selancar apakah mengaji ku. Beliau tidak mengajar sendiri, setelah selang beberapa waktu, ada satu guru ngaji yang datang menggunakan motor ethek-ethek, istilah untuk motor tua. Beliau juga menyambutku dengan senang sambil mengulurkan tangannya, aku pun mencium tangan beliau dan tersenyum sambil memperkenalkan nama, Beliau adalah Bu Mujiati, tidak kalah semangatnya ketika mengajar bersama bu Sri.
Bu Sri sudah mengabdi puluhan tahun, aku bahkan tidak tahu detailnya, intinya lama sekali beliau mengajar ngaji dan mengabdi di masjid itu. Kami mengaji tanpa dipungut biaya sama sekali, dan aku tidak tahu apakah beliau juga diberi gaji dari masjid. Terlepas dari itu, Hampir setiap hari, kecuali hari kamis, beliau selalu hadir di jam yang sama tidak peduli hujan, badai, angin ribut, panas menthang-menthang di jam 3 sore. Tidak peduli jika yang datang satu, dua anak beliau tetap konsisten mengajar, hal yang sulit untuk dilakukan bahkan saya sendiri dan kebanyakan gen Z sekarang, konsisten. Ketika yang datang ramai pun, meski sedikit kewalahan dengan ramainya suara dari anak kecil usia toddler sampai remaja, beliau tetap fokus dan memperhatikan setiap anak, tidak pernah marah kecuali terlalu banyak anak yang ramai, tapi meskipun marah beliau tidak pernah dibenci, kami tahu, marahnya beliau agar kami bersikap lebih baik.
Ada pengalaman menyenangkan dari aku dan tiga temanku lainnya. Kami bisa disebut circle meski aku satu-satunya laki-laki, karena di tempat mengaji kami rata-rata masih dibawah umurku, palingan ada juga jarang masuk. Aku, dua sahabat cewek kembar dan adik keponakanku adalah satu sahabat yang mengaji bersama bu Sri. Suatu ketika kami berempat datang lebih awal, kami datang ke ruang tempat kami biasa mengaji, ruangannya kecil, tidak terlalu luas, hanya memanjang, ada satu rak berisikan AL-Quran dan beberapa kertas sobekan buku IQRO, ada meja panjang untuk kami mengaji, dan tidak seperti biasanya, Ada meja lengkap dengan kompor gas, gula, kopi dan teh juga lengkap dengan gelas dan tatakannya. Kami pun berinisiatif untuk membuat teh untuk bu Sri, mumpung beliau belum datang. Kami pun bersemangat saling membantu untuk membuat teh, aku dan adik keponakanku bertugas membersihkan tempat kami mengaji, si kembar bertugas membuat hidangan teh hangat untuk bu Sri dan bu Mujiati. Setelah tempat mengaji sudah siap, bersih, rapi, teh juga siap, bu Sri, seperti biasa, selalu datang lebih awal, oh tapi tidak, kali ini beliau kami dahului, wkwkwk. Beliau terlihat senang dengan yang telah kami lakukan, ditambah lagi dibuatkan teh hangat di sore hari yang lelah itu, ngomong-ngomong, beliau selalu berjalan kaki, meskipun dirumah mempunyai suami dan dua anak laki-laki yang senantiasa siap mengantar, Jarak rumah beliau dengan masjid cukup lumayan, Kalau berjalan kaki mungkin 5-10 menit. Beliau sangat berterimakasih dan memuji kami berempat karena sudah mau berbaik hati membersihkan tempat mengaji dan dibuatkan teh manis hangat pula.
Kegiatan yang kami lakukan berempat itu tidak hanya kami laksanakan hari itu, Kami terus membersihkan tempat mengaji sebelum bu Sri dan murid lain hadir, dan si kembar terus membuat teh hangat untuk guru-guru ngaji kami. Bu Sri tentu merasa bahagia dan terbantu, mengingat tempat mengaji kami kurang terawat dan bersih.
Singkat cerita, setelah kami terus melakukan hal itu, karena kecintaan kami atas kasih sayang dan kesabaran beliau, kami berniat untuk memberi surprise kepada bu Sri di hari ulang tahunnya. Karena kami tidak tahu kapan beliau lahir, terang-terangan kami meminta bu Sri untuk menunjukan KTP nya, tentu dengan pembicaraan panjang lebar yang nylimur ngalor ngidul biar nggak ketahuan niat kami. Setelah harinya datang kami berempat iuran uang saku untuk dibelikan kue ultah sederhana, ya, cuma roti gembos yang bentuknya hampir mirip dengan kue tart, lalu kami tancapkan beberapa lilin kecil warna-warni, Aku membawakan hadiah berupa kerudung murah, ya karena memang aku hanya mengumpulkan uang saku yang tidak seberapa itu. Seperti biasa, kami bersihkan tempat mengaji dulu, membuatkan teh, setelah selesai semua kami tutup pintu ruangannya, sambil mengintip lewat ventilasi ruangan untuk memastikan kedatangan bu Sri dan momen si kembar membuka pintu tepat. Dan “BWAAAAAAA, SELAMAT ULANG TAHUN BU SRI!!!!!!!!!!!!!!!!!” beliau terkejut bukan main, lalu beliau tersenyum lebar melihat yang kami lakukan, beliau terharu, Bu Sri menyuruh kami duduk setelah nyanyian lagu selesai. Beliau dengan suara bergetar terharu, Mengucapkan terima kasih dan mendoakan agar kami sukses dan berumur panjang, Padahal itu ulang tahun beliau, seharusnya kami yang mendoakan beliau, tapi, Itulah bu Sri, selalu mengutamakan kepentingan murid dan masyarakat alih-alih untuk dirinya sendiri. Kami pun memberikan hadiah yang kami bawa dengan bungkus koran seadanya, Saat ingin memotong kue (maaf, maksudku roti) kami bingung karena tidak ada pisau, Bu Sri tidak bingung, buat apa juga pisau, wong ini roti gembos, tinggal di sobek saja pakai tangan, Kami kira roti itu akan bu Sri bawa kerumah, tidak, lagi-lagi, beliau membaginya rata kepada kami semua, beliau hanya pulang membawa hadiah kecil kami.
Semenjak lulus SD dan lanjut pendidikan di pesantren, aku sudah jarang bertemu Bu Sri, Tapi ketika hari raya aku selalu menyempatkan berkunjung ke rumah beliau, menanyakan kabarnya dan mengobrol sedikit panjang tentang kehidupan pesantren. Beliau selalu berharap agar aku terus menuntut ilmu agama baik di pesantren dan menjadi orang baik bagi agama dan keluarga. Kabarnya saat itu beliau sudah tidak mengajar ngaji di masjid itu lagi. Kata ibuku, Bu Sri diminta untuk pergi karena ada “kelompok” tertentu yang ingin mengajar AL-Quran dengan metode yang katanya lebih modern, lebih baik dan lebih cepat lancar, menurutku itu aneh, Dari dulu atau sekarang, bukankah AL-Quran akan tetap saja seperti itu? Hukum bacaannya, Tajwidnya bahkan cara membacanya? Mereka datang dengan sikap yang kurang baik, Bahkan sampai terjadi perdebatan antara takmir masjid yang ingin bu Sri tetap disana mengajar anak-anak dan beberapa pihak yang memang memiliki pengaruh besar di masjid itu ingin bu Sri pergi, karena ia adalah donatur besar istilahnya disana. Bu Sri tidak mau ambil pusing, menurut kabar dari ibuku dan orang-orang dekat beliau, Bu Sri memilih mengajar di tapos (Taman Posyandu) yang letaknya lebih jauh ke timur daripada masjid, bahkan jika berjalan kaki mungkin hampir 15 menit, Lokasinya juga tidak begitu strategis, Tapos itu hanya ruangan terbuka, tidak memiliki pintu ataupun jendela, hanya tembok yang menutup 3 sisi dan atap terbuat dari asbes saja, tempatnya saja dekat dengan kali dan toilet umum. Beliau memilih mengajar sisa murid-murid yang masih mau mengaji bersama beliau, tanpa dipungut biaya sedikitpun. “Kelompok” itu tadi tetap mengajar dan bahkan memungut biaya, Yah, mau bagaimana lagi, itu hak mereka, tapi aku nggak pernah suka dengan cara mereka berdakwah yang kurang pas.
Bu Sri telah mengajarkanku keikhlasan, konsistensi dan pengabdian sejati. Kecuali sakit yang parah beliau tidak pernah berhenti mengajar, meskipun tidak dibayar. Beliau terus konsisten mengajar ngaji dan ilmu agama, tidak berhenti beliau menasehati kami agar tetap menjadi anak baik dan tidak menyalahi aturan agama. Beliau sampai akhir hayatnya terus mengabdi kepada agamanya demi menyuarakan kebenaran dalam membaca AL-Quran, meskipun terusir dari tempat beliau mengajar selama puluhan tahun, Bu Sri tidak lupa tujuan utamanya, bukan untuk menguasai wilayah atau masjid atau apapun itu, Niat beliau hanya lillah, mengabdi kepada Allah dan AL-Qur’an.
Sekarang Bu Sri sudah menghadap kepada Sang Penipta, Entah mengapa orang-orang baik selalu dipanggil lebih cepat oleh tuhan, Mungkin beliau sudah dirindukan oleh-NYA dan ingin segera ditempatkan di surga (Insyaallah, Aamiin). Seandainya ibu datang ke mimpi saya, saya hanya ingin bilang “Terima kasih ya bu Sri, terima kasih sekali, Saya juga minta maaf jika ada perkataan atau perbuatan yang membuat ibu mungkin jengkel, maklumi ya bu, namanya waktu itu masih kecil, Dan semoga saya bisa melanjutkan perjuangan bu Sri, tenang disana ya bu Sri, Tanta Cinta bu Sri” Salam Tan, Kamsia.
Komentar
Posting Komentar