Kali ini aku bakal ngebahas dunia cinta-cintaan. Agak aneh memang, seorang saya, nulis, ngobrol atau bahkan diskusi tentang dunia percintaan bukan antara cinta ibu ke anak, cinta suami ke istri atau kakak ke adik, tapi cinta-cintaannya anak jaman sekarang, Yup, Pacaran.
FYI aku nggak pernah pacaran, sama sekali, bahkan dari SD sampe sekarang udah kuliah. Tapi meskipun aku bisa dibilang jomblo to the bone, entah kenapa teman-temanku yang pacaran duluan sering minta saran percintaan ke manusia yang masih single ini, Kan bingung ya? yang pacaran siapa yang bingung siapa? Kenapa sih mereka curhatnya malah ke orang yang bahkan cara nembak cewe aja masih bingung.
Sebenarnya kalau masalah ketertarikan ke lawan jenis aku selalu ada pengalaman dan rasa interest ke someone, tapi ada satu hal yang bikin aku selalu mundur, Karena banyak alasan, Salah satunya karena kurang PD. Sebenernya aku orangnya selalu percaya diri dalam hal apapun, nulis misal, ngomong didepan umum, ngomong sama orang dari semua kalangan, presentasi di depan kelas, aku pede di semua itu, tapi entah kenapa aku ngerasa nggak pede kalau harus memulai untuk pacaran. Aku selalu bingung “emang kalau pacaran harus ngapain gitu? harus gandengan tangan kah? panggilannya harus babe gitu? harus cuddling gitu? atau harus selalu ngabarin bahkan kalau lagi pup? ya kali!”
Ada tiga alasan kenapa aku masih milih untuk gak pacaran (setidaknya untuk saat ini).
Pertama, aku orangnya pemilih banget, bukannya sok jual mahal, Tapi, boleh dong setiap orang punya kriteria dalam memilih pasangan masing-masing? Dan kriteriaku nggak sebatas fisik atau materi, tapi juga visi. Mungkin fisik oke, materi oke, tapi visi nggak sama, mungkin aku akan tetap milih sendiri, karena visi atau mimpi yang pengen aku capai bisa jadi lebih cepat tercapai tanpa pasangan, karena kalaupun ada pasangan tapi beda visi, tujuanku gak nyampe-nyampe dong? Aku punya satu prinsip, Sepasang kekasih itu harusnya saling melengkapi, saling memahami, dan saling support dan aku percaya, Kalau pasangan kita cocok, Visi dan mimpi sebesar apapun itu, pasti didukung.
Kedua, aku gak tau cara pacaran, jujur, aku taunya pacaran ya cuman lewat drama Korea, FTV, sinetron atau drama nyata yang dialami sama teman-temanku. Aku lebih seneng ngeliatin drama percintaan orang-orang di layar drama atau drama temen-temenku, daripada jadi aktor di dalamnya. Bagiku, hidup kayaknya terlalu repot untuk ngurusin drama percintaan dunia nyata, dan mending aku lebih fokus ke episode drama yang aku tonton sekarang LOL. Mungkin ini juga salah satu masalah yang banyak dihadapi temen-temenku sekarang, Mereka pacarannya terlalu rajin sampe lupa kalau kuliah itu lebih penting, Nggak semua sih, Tapi yang kaya gitu banyak. Mereka lebih milih main-main keluar kota daripada ikut kuliah yang jelas-jelas buat jamin masa depan mereka. Tapi juga ada tuh temenku yang pacaran buat cari support system di kampus, Interaksi mereka juga nggak berlebihan, Kaya pamer kemesraan di sosmed atau di depan umum, No, Hubungan mereka lebih silent but resilience karena kata mereka, Pasangan mereka saat ini adalah support system, bukan pemuas hasrat belaka.
Terakhir nih, sampe sekarang aku masih belum nemuin manfaat dari pacaran, kecuali kerugiannya.
Mungkin kalian yang baca banyak yang pacaran, tapi it’s fine bukan bermaksud untuk ikut urusan “rumah tangga” kalian, bukan bermaksud untuk judgmental juga, Tapi ya sebagai sesama manusia, cuman pengen ngingetin aja, Sambil sedikit cerita dari pengalaman pribadi dan pengalamanku ikut pengabdian masyarakat tentang stunting dari BKKBN.
Dari pengamatan yang aku lihat di lingkunganku sendiri, yang memang di daerah pedesaan, rata-rata mereka milih nikah muda karena style pacaran yang kebablasan. Sebenernya itu hak mereka juga buat nikah muda, entah karena keinginan atau kejadian yang “tidak diinginkan”. Dan sejauh pengalamanku ikut volunteer bareng BKKBN untuk mengatasi masalah stunting, ternyata nikah mudah jadi salah satu penyebab bayi lahir stunting dan kurang gizi di 1000 hari pertama, Ditambah, buat orang tua yang hidup di daerah pedesaan, minim pengetahuan dan putus sekolah tentu ayah dan ibu dari bayi kurang banget pengetahuannya tentang gizi bayi, taunya paling, asal si anak kenyang dan gak nangis, masalah beres.
Dan Guys ternyata stunting gak sesederhana anak yang lahir dengan fisik pendek aja lo, Tapi juga anak yang kurang gizi dan tumbuh kembang secara fisik atau psikis. Tumbuh kembang mereka bisa jadi lebih lambat dari anak-anak lain yang masih seusianya dan kalau gak diatasi segera, mereka bakal ngalamin keterlambatan pertumbuhan entah secara fisik dan mentalnya. Anak yang kena stunting biasanya juga lebih sering sakit-sakitan, dan otomatis mereka harus sering bolak-balik ke dokter dan tau sendiri, kebanyakan dari mereka punya masalah ekonomi, kalau udah kaya gini, siapa yang susah? Gak cuman orang tuanya kan? kalau orang tuanya dari keluarga menengah kebawah atau bahkan kurang mampu, negara harus ikut bantu biar si anak tetap sehat, demi masa depan negara, biar penerusnya ada. Mau gak mau beban negara jadi bertambah, so, reminder buat kalian atau teman, saudara, tetangga kalian, please be aware sama gizi anak kalian buat yang memang udah terlanjur dan yang masih aman, jaga masa muda kalian, perjalanan kalian gak se-simple itu, gapai mimpi kalian, jadiin pacar buat penyemangat, bukan pelampiasan hasrat.
Wait for the next content
BalasHapus