SENI HIDUP SEBAGAI KOREA


“Mental ‘korea’ terjadi ketika kamu mengalami kemiskinan ekstrim, ketika kamu tidak tahu kapan kamu bisa makan. Inilah yang merubah mentaliteit seseorang menjadi ‘korea’ sejati, dihina sudah tidak ada lagi masalah. Ini yang akan melenting ke atas dan tidak akan bisa turun” Bambang Pacul.


Awalnya aku melihat beliau sebagai sosok yang ekstrim, anti-kritik, bossy, dan setelan politikus yang berperangai buruk pada umumnya. Ternyata memang benar kata pepatah, “Jangan Mengukur Kedalaman Danau Dari Permukaannya Saja” beliau tidak seperti yang aku bayangkan. Beliau ternyata adalah sosok yang begitu pekerja keras, sudah merasakan pahitnya kehidupan berdasarkan ceritanya pada beberapa siniar dan acara bincang-bincang, yang saat ini sudah berhasil menjadi Korea yang melenting.


Beliau mengingatkanku bagaimana nasib pribumi di zaman kolonialisme dahulu saat membaca buku karya David Van Reybrouck “Revolusi” yang menceritakan lahirnya Indonesia dan dunia modern. Buku yang tebalnya 700 halaman yang masih kubaca hingga saat ini. 


Ia berkelana ke pelosok Indonesia untuk menemukan kepingan-kepingan sejarah untuk disusun dalam bukunya, menariknya, David memulai dengan perjalanan mengenalkan kita dengan VOC pada bab pertama. Perusahaan dagang terkaya dalam sejarah manusia dengan valuasi 100 kuadriliun lebih, yang jika perusahaan teknologi di Silicon Valley digabung menjadi satu perusahaan pun tidak akan pernah bisa menyamai seperempat nilainya. 



Lalu pada bab ketiga, ia menceritakan perjalanan kapal uap kolonial, Kapal Van Der Wijck yang dikenal dengan “Sang Burung Camar”. Dalam kapal itu, terbentuk semacam kelas sosial. Tidak diragukan lagi, toh di zaman modern ini pun naik kendaraan umum pun juga ada kelasnya. Terdapat tiga kelas, kelas pertama, merupakan kabin paling mewah yang hanya menampung enam puluh penumpang. Di kelas satu, terdapat wastafel, toilet dengan air mengalir, kipas angin listrik, ruang makan, ruang merokok dan berbagai fasilitas eksklusif lain, terbilang cukup mewah untuk ukuran kapal di tahun 1900-an. Dibawah dek kelas pertama, terdapat kelas dua, disediakan kabin yang nyaman namun penumpang harus berbagi tempat dengan penumpang lain. Selain itu tempatnya juga lebih dekat dengan mesin kapal, sehingga lebih terdampak jika kapal bergoyang atau miring. Kelas satu untuk orang kaya raya, kelas dua untuk kaum menengah, kelas tiga? hanya diatas kertas, nyatanya mereka disamakan dengan kelas empat, lebih dari seribu penumpang berjejal di dek paling bawah kapal, jangankan nyaman, mereka harus puas dengan ruang seluas satu setengah meter untuk dirinya sendiri dan barang bawaannya. Saat cerah cuacanya, mereka menggelar terpal, bahkan mereka kadang harus berbagi tempat dengan hewan ternak seperti sapi, kambing, domba atau kuda. Jika malam tiba, mereka harus menutupi kepalanya dengan sarung, agar terhindar dari gemerlap cahaya dek kelas pertama. Jangankan toilet, air saja mereka tidak ada, jika ingin buang hajat, mereka harus bertaruh nyawa dengan hantaman ombak lautan. Bagian depan kapal terdapat dudukan toilet dan pijakan kaki diluar, kotoran mereka langsung terbuang ke laut, bayangkan saja jika aku diposisi mereka, yang pasti sudah overthinking duluan, gimana kalau tiba-tiba ada hiu melompat memakan pantatku, hiiiii.


Kelas sosial di kapal itu sebenarnya sebuah miniatur kehidupan masyarakat kolonial, kehidupan antara kelas satu dan tiga atau empat, tidak pernah beririsan, mereka hidup dengan kehidupan masing-masing tanpa tahu satu sama lain. Kabin di kelas satu sebenarnya tidak hanya diisi oleh orang-orang barat saja, disana juga terdapat orang-orang super kaya, Tuan dan Nyonya Carli dari Bandung. Mungkin juga terdapat beberapa pribumi yang beruntung menikah dengan atau menjadi istri pejabat VOC, hal yang sudah lazim di zaman itu.


Kelas dua lebih banyak dihuni oleh pengusaha, seperti J. van Egmond pelayan toko di Java Stores. C. Brandes, nyonya berusia enam puluhan yang berjasa di Ondernemersbond (Asosiasi Pengusaha). Ada juga beberapa teknisi dan operator radio yang memang bekerja di kapal itu. Apakah ada orang Indo? Tentu ada, bahkan proporsinya lebih besar, mereka disebut “Indo Kecil” meskipun masih terdapat aturan atau larangan implisit berdasarkan corak warna kulit. Ada juga keluarga Makatita, keluarga elit dari Ambon yang secara gamblang menyatakan diri mereka sebagai bagian dari kaum kelas atas bangsa Eropa, dan hal yang sangat jarang terjadi di akhir abad kesembilan belas. Bahkan menurut catatan, hanya terdapat 871 orang Jawa saja yang memiliki status ini.


Beralih ke kelas para Korea, sudah tentu diisi oleh budak dan pribumi yang tidak memiliki harta benda dan hanya berisi kelas pekerja atau buruh.


Seratus tahun yang lalu, 1925 tepatnya, Undang-undang pemerintahan Kolonial Hindia Belanda membagi populasi menjadi tiga “status kebangsaan” atau sistem tripartit, yang dirasa lebih memuaskan dibanding hanya dengan membagi menjadi dua golongan saja, yaitu bangsa Eropa dan pribumi. Orang yang dikatakan bangsa Eropa adalah orang keturunan Eurasia, orang barat lainnya termasuk orang Jepang dan orang Turki. Kelas kedua merupakan orang dengan berasal dari Timur Asing seperti orang Cina, Arab dan India. Kelas ketiga atau pribumi (inlander) sejak lama dipakai untuk menunjuk penduduk asli kepulauan pada masa kolonial. Miris bukan? Pemilik pulau malah menjadi strata dalam sistem hukum kolonial Belanda dahulu.

Sistem ini tercermin pada tiga kelompok pada kapal Van Der Wijck. Dek 1 berisikan orang-orang Eropa dan kaum elit super kaya. Orang-orang Timur Asing sebagai pengusaha  kecil atau pekerja kelas atas di Dek 2. Dek 3 berisikan kaum pribumi, meskipun begitu orang Cina sebetulnya mengisi hampir di setiap dek. Salah satu yang aku tahu ceritanya dari kanal Youtube Nadia Omara dan kebetulan disebutkan oleh David dalam bukunya adalah Oei Tiong Ham, sang Raja gula dari Semarang. Ya, bukan raja abal-abal, jika di kota ku ada Almarhum Surya Wonowidjojo sang raja kretek, dahulu di Semarang Oei Tiong Ham adalah raja gula yang jika dibayangkan kekayaannya begitu luar biasa, buka kaya yang nanggung. Oei pernah memiliki seperempat tanah di Singapura, Putrinya, Oei Hui Lan bahkan pernah menjadi First Lady Republik Rakyat Tiongkok, Sebagai istri dari Wellington Koo, diplomat ulung Republik Tiongkok.


Terus artinya apa sih cerita panjang lebar ku itu tadi?


Kita semua tahu, sudah lebih dari 80 tahun Indonesia merdeka, namun masalahnya masih itu-itu saja, kita sudah bebas dari kolonialisme bangsa lain, namun sepertinya tidak akan lepas dari kolonialisme bangsa sendiri.

Harapanku dan mungkin kita semua, setelah merdeka dari kolonialisme antek-antek asing, kita bebas dari yang namanya kesengsaraan, penindasan, kemiskinan dan pengangguran. Eh nyatanya, malah disengsarakan sesama bangsa sendiri dengan sistem yang tidak beda jauh dengan kapitalis di negerinya Trump. 


Bagaimana tidak, presiden sudah berganti berkali-kali, ibarat kata, laptop sudah ganti processor berkali-kali, namun sayang, processor yang diganti masih juga sekelas Pentium, Mungkin hanya dua kali kita memiliki presiden dengan kapasitas processor selevel Intel Core i9.


Ada yang merasa akhir-akhir ini bahan baku semakin naik harganya sedangkan gaji segitu-gitu aja? Senyum Bung Karno dan Bung Hatta di uang seratus ribu mu semakin melesu disandingkan dengan wajah judes George Washington di USD-nya. 19 juta lapangan pekerjaan yang diiming-imingi pangeran Solo dan masih saja tingkat pengangguran tinggi, dan mungkin kalau ditanya “Ya ndak tau, tanya bapak, kok tanya saya”. Ayah dan Ibu bekerja siang malam semakin tidak terlihat hasilnya. Biaya sekolah semakin mahal menuruti gengsi dan persaingan tidak sehat antar perguruan tinggi, biar dipandang sebagai sekolah elit dan bermerk. MBG masih jalan meskipun masih saja ada anak putus sekolah. Namun, dengan entengnya, si bapak berpendapat akan memberikan MBG pada anak putus sekolah, padahal bukan urusan perut jika ingin mengubah bangsa lebih baik dan maju, tapi otak. Mungkin si bapak bisa memperbaiki logika berpikirnya dulu? 


Bukankah lebih bijak jika bapak mencoba ngopi sambil ngobrol santai dululah dengan menteri pendidikan guna kerja sama agar mereka, anak-anak bangsa yang putus sekolah bisa sekolah, hingga bapak tidak perlu sukar mencari anak jalanan untuk diberi MBG yang entah itu benar-benar tersampaikan dengan baik atau tidak. Belum lagi, pajak kami harus membelikan bapak kaus kaki, motor listrik yang harganya bahkan bisa membayar SPP saya sampai lunas hingga lulus nanti, unik memang bapak satu ini.


Belum lagi bapak/ibu dewan yang dulu sempat heboh dengan tunjangan tetek bengek-nya yang jika dinalar sudah sangat diluar nalar akal pikiran manusia. Sudah cukup kaya, namun masih saja beralasan modal politik yang mereka korbankan terlalu besar, jadi sulit mencari untung. Sudah tahu banyak ruginya, kok masih juga nyalon pak/bu? Kesempatan buat memperkaya bisnis keluarga ya?


Muak rasanya hidup di negeri yang hukumnya hanya untuk menguntungkan segelintir pihak, agar lebih mulus proyeknya lah, agar lebih untung usahanya lah, agar lebih sukses PT-nya lah, dengan embel-embel memajukan ekonomi bangsa, bangsa keluargamu!


Koruptor? Ah sudahlah, muak aku membahasnya. Aku kira kepala yang saat ini bisa bekerja lebih baik dari kepala yang dulu, nyatanya, memang sama saja tidak ada gunanya. Apa gunanya kepala jika telinga yang digunakan untuk mendengar adalah dari telinga orang lain.


Sedih sebenarnya mendengar keluhan ibu setiap malam, merawat lahan sendiri tiada hasil, pupuk sulit didapat, pun jika didapat mahal harganya, padahal tanaman itu juga untuk mencukupi kebutuhan kita semua. Berjualan es untuk memenuhi kebutuhan rumah pun harus bergelut dengan harga plastik yang melonjak tinggi, uang berapapun semakin tak berarti, rasa makanan semakin hambar karena bumbu dapur pun sulit digapai jika hanya dengan uang selembar.


Istilah yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin nyata adanya. Mereka yang dekat dengan kaum bangsawan dan pejabat di dek kelas 2 dengan mudah bisa merebut hati penumpang di dek kelas 1. Yang penting adalah uang, dengan kedok investasi, regulasi bisa mudah diatur, asal mereka sama-sama untung.


Bagaimana dengan kaum pribumi di dek paling bawah kelas 3? Jika wanita, mungkin nasib  mereka bisa berubah dengan menikah saja dengan penumpang di dek kelas 1 atau 2. Menjadi istri kesekian dari seorang tuan atau pengusaha, atau menikahi anak cucu mereka. Jika seorang pria, mungkin bisa mencoba menjadi simpanan istri pejabat atau pengusaha? wkwkwk, entahlah, itupun kalau rupawan. Jika buruk rupa macam saya, tiada hal lain selain bekerja keras atau mengharap mukjizat dari Tuhan agar aku bisa membawa diriku ke dek kelas 1.


Selama di dek kelas 1, posisi kita berarti masih menjadi Korea, seperti kata Bambang Pacul, Korea itu harus kerja keras dan anti baper. Karena hidup seorang Korea tidak punya banyak pilihan, setiap ada peluang, maka itu kesempatan yang tidak akan terulang untuk kedua kalinya. Kita bukan anak pengusaha yang jika usahanya bangkrut akan di subsidi ayah ibunya, kita saja masih mengantri membeli gas melon subsidi pemerintah. 


Korea tidak boleh merasa terhina atau gampang tersinggung, kita tidak punya backing dalam bentuk apapun kecuali gusti Allah, Toh jika mereka yang salah, berarti kita yang harus minta maaf, mereka punya segala macam senjata, sedangkan kita? beras untuk makan besok entah dapat sumbangan lagi darimana. Sebagai kaum yang masih dikoloni oleh bangsa sendiri dari segi ekonomi atau strata sosial, kita tentu harus memahami posisi, jika posisimu masih ada di dek kelas 1, tanpa bekal dan kemampuan apapun, jangan berani-beraninya naik ke dek kelas 2. Jangan sok di depan kaum menengah ke atas, mati kutu kalian dibuatnya. Kita bukan menganggap mereka sebagai musuh, namun sebagai sebuah peluang, agar bisa melenting ke dek kelas 2 atau bahkan jika beruntung dengan berusaha lebih keras, bisa saja mencapai dek kelas 1 seperti pria Solo yang ada dibalik tembok ratapan itu. 


Terakhir, kata Pak Bambang Pacul “Di Indonesia, kalau kamu nggak punya jabatan, kamu harus punya uang. Kalau kamu nggak punya uang, kamu harus pinter. Kalau tiga-tiganya nggak punya itu lumpen (orang yang tidak dihargai)” Nah, ini aku banget, diluar semua faktor yang aku curhatin diatas tadi, aku sadar, kita enggak bisa menyalahkan keadaan, wong pak Bambang Pacul saja bisa, berarti aku harus bekerja dan berusaha lebih keras, sembari mencari batu untuk melenting. Mari kita nikmati masa-masa menjadi cacing ini, sambil berharap suatu hari menjadi naga ketika sudah melenting di puncak, Salam Korea.


Sumber: 

Daftar Nama, Nomor, dan Generasi Prosesor Intel®. (n.d.). Intel. Retrieved May 8, 2026, from https://www.intel.co.id/content/www/id/id/processors/processor-numbers.html

Intan, K. (2026, Januari). Kepala BGN: Anak Tanpa NIK hingga Putus Sekolah Akan Dapat MBG. Kepala BGN: Anak Tanpa NIK hingga Putus Sekolah Akan Dapat MBG. https://nasional.tvrinews.com/berita/tzdvmin-kepala-bgn-anak-tanpa-nik-hingga-putus-sekolah-akan-dapat-mbg

Raja Gula RI Terkenal di Singapura, Namanya Diabadikan di Jalan. (2026, April 5). CNBC Indonesia. Retrieved May 8, 2026, from https://www.cnbcindonesia.com/market/20260405142509-17-723981/raja-gula-ri-terkenal-di-singapura-namanya-diabadikan-di-jalan

Reybrouck, D. V. (2024). Revolusi: Indonesia and the Birth of the Modern World (SHORTLISTED FOR THE BAILLIE GIFFORD PRIZE) (D. Colmer & D. McKay, Trans.). Vintage Publishing.

Tim Editor. (2024, Mei 15). Quotes Bambang Pacul untuk Para ‘Korea’ yang Sedang Berjuang. Quotes Bambang Pacul untuk Para ‘Korea’ yang Sedang Berjuang. https://derapjuang.id/featured/quotes-untuk-para-korea-yang-sedang-berjuang/

Komentar