SEBUAH SENI UNTUK MARAH (BAGAIMANA AKU MENGUNGKAPKAN AMARAHKU)

 

    Seyogianya manusia, kita semua pasti memiliki satu hal yang tentu tidak lepas dari kehidupan, Tidak lain tidak bukan adalah emosi. Manusia sendiri akan dikatakan sehat, tidak hanya dari segi fisiologisnya saja, namun juga dari segi psikologis-nya. Bahkan kesehatan mental sendiri akan sangat penting, karena ia mempengaruhi bagaimana tubuh kita bekerja dan merespons setiap penyakit yang datang. Ibnu Sina, sebagai bapak kedokteran pernah berkata “Kepanikan adalah separuh penyakit, ketenangan adalah separuh obat, dan kesabaran adalah permulaan kesembuhan” Tentu, kesehatan mental menjadi hal penting untuk selalu dijaga, dan terkadang penyakit mental muncul akibat emosi yang dipendam terlalu lama dan puncaknya akan menjadi gangguan jiwa, alias, gila, meskipun tidak bisa secara tiba-tiba gila ya...


    Yah… Memang manusia semakin hari semakin memiliki perilaku yang unik, dan respons yang bermacam-macam ketika mereka merasa emosional, dan kali ini yang akan aku bahas adalah respons marah.


Ada yang kalau sudah badmood kebawa sampe kerjaan, nggak selera makan, minum, bahkan diajak ngomong udah kaya ditantang MMA. Namanya juga hidup, nggak mungkin terlepas dari yang namanya masalah, entah masalah dari diri kita sendiri, atau diluar diri sendiri, kaya teman, keluarga, keluarga atau yang paling sering dan menjadi masalah utama gen z, apalagi kalau bukan cinta. Semua hal itu bisa menjadi pemicu kita dalam merespons emosional kita.


    Terus, apakah marah itu normal? Oh tentu, normal banget, kita bukan nabi bos…. yang kesabarannya setebal dan setinggi gunung Everest. Jadi normal banget kalau kita bisa marah, tapi… yang nggak normal itu, pemarah, alias dikit-dikit marah, dikit-dikit ngamuk, itu berarti kita kurang dalam mengontrol dan mengelola emosi.


    Kadang sikap pemarah atau tukang ngamuk bisa menjadi tanda, kalau kita terlalu berusaha untuk merespons semua hal, bahkan yang ada diluar kendali kita.  Tentu kita akan dibuat emosi ketika lagi enak-enak makan tiba-tiba ada cicak jatuh ke makanan kita yang kita sudah order lewat ojol nunggu berjam-jam dengan harga mahal, mana lagi jam makan siang, tau-tau lagi enak makan, si cicak biadab menjatuhkan diri ke makanan kita, siapa yang nggak emosi? Atau mungkin kita yang lagi berusaha menjadi pengendara yang baik, udah nyetir se hati-hati mungkin, eh didepan ada emak-emak mau belok ke kanan tapi lampu sein yang dinyalain malah kiri. Banyak banget hal kecil yang kadang suka bikin mood kita bahkan hari kita jelek seharian. Itu contoh sederhananya, tapi kadang kita juga punya beberapa masalah yang, bahkan kemarahan kita nggak bisa ditahan, yang pacarnya selingkuh lah, yang kita punya teman yang sudah kita anggap sauara malah nyatanya pengkhianat-lah, yang dicurangi waktu ikut kompetisi-lah,  yang lagi nggak punya uang lah, tapi tiba-tiba ada chat masuk “Wahai temanku yang ganteng dan bagus, adakah seratus?” (ini kayaknya masalah pada umumnya sih, wkwkwk), Siapa sih yang nggak emosi dibuatnya.


    Semua pengalaman-pengalaman tadi, aku sendiri pernah mengalami, dan jika aku mau meluapkan amarahku, mungkin sudah keluar masuk penjara aku dari dulu. Karena apa? Jujur, respons marahku sangat buruk, dalam imajinasiku, jika aku merasa marah, pasti bayangan di otakku adalah kriminal. Contoh,  Pernah suatu ketika, saat kelas 3 SMK, aku hanya ingin belajar dalam keadaan tenang saat guru tidak ada di kelas, karena memang kebetulan, beliau ada kepentingan dan memberikan tugas pengganti. Seorang teman yang memiliki suara melengking, sumbang dan tidak enak untuk didengar dengan percaya dirinya menyanyi dengan nada begitu tinggi sambil memukul-mukul meja sebagai alat musiknya. Dan apakah menurut kalian itu terjadi hanya sekali? Oh tidak! NYARIS SETIAP HARI! Sedang aku adalah tipe orang yang suka belajar atau mengerjakan sesuatu di tempat yang tenang. Namun akibat moncong berisiknya itu, kelas bukan tempat belajar yang sangat amat sangat mendukung. Dalam imajinasiku kalian tau apa yang kupikirkan tiap ia menyanyi dan mengganggu ketenanganku? Ingin kubawa ia ke tempat sepi, seperti gudang mungkin, kutali ia di sebuah kursi, dengan tali tambang putih besar, kubebatkan pula rantai besar ke seluruh tubuhnya sangat kencang, setiap jemarinya aku tali dengan kawat, mulutnya akan kubiarkan ternganga dengan kumasukan bola besi hingga air liurnya terus menetes, aku bawakan sound horeg satu set, di telinga sebelah kanan dan sebelah kiri, ku putarkan suara orang menggergaji kayu dengan mesin selama 24 jam non-stop hingga telinganya tidak kembali berfungsi dan mulutnya tidak bisa menutup kembali, INGAT! INI HANYA IMAJINASIKU! Nyatanya, aku memilih untuk pergi ke perpustakaan setiap kali ia memulai bernyanyi dengan suara sumbangnya itu. Dan itu aku alami selama 3 tahun sampai aku lulus sekolah, dan hal yang paling aku syukuri hanyalah itu, lulus dan tidak mendengarkan suaranya lagi. Kenapa aku bisa bertahan selama itu? Aku pernah membaca satu buku, bagus sekali, karya Henry Manampiring berjudul “Filosofi Teras” yang membahas tentang Stoikisme. Dalam bukunya yang ditulis dengan gaya bahasa gen z, seru, asyik namun tetap penuh makna, Ia mengajarkan kita untuk dapat mengendalikan apa yang bisa kita kendalikan, emosi kita misalnya. Dan tidak terlalu ambil pusing atas hal-hal yang diluar kendali kita, mulut temanku itu salah satu contohnya. Buku itu membawa pengaruh yang sangat baik bagi emosiku, apakah sebenarnya aku seorang penyabar? Oh tidak! Kenapa harus sabar jika Tuhan menciptakan emosi, sangat mubazir jika aku tidak menggunakannya, itu pikirku dulu, sebelum mengenal Stoikisme. Mana mungkin orang dengan kesabaran setipis tisu harga lima ribu dibagi tujuh ini bisa bertahan selama itu menahan emosi? Untungnya aku memiliki tips sendiri jika ada beberapa hal yang membuatku marah, alih-alih menganiaya manusia, aku lebih memilih untuk menikmatinya. Musik jawabannya. Beruntung bagi kalian yang suka bermain musik atau bahkan hanya sebagai penikmat. Berdasarkan salah satu penelitian yang aku baca, disebutkan bahwa, terapi musik memiliki efektifitas cukup tinggi dalam mengurangi emosi, khususnya pada penderita gangguan mental. Ada dua jenis terapi musik sebenarnya yang disebutkan dalam penelitian tersebut, ada yang pasif, yaitu kita sebagai pendengar atau penikmatnya saja, ada juga yang aktif, kita berperan sebagai pemain musiknya. Namun karena faktor "u"ang, kita semua tahu, alat musik tidak ada yang harganya semurah earphone bluetooth yang kalau di toko oren bisa dapat harga sepuluh ribu, jadi aku lebih memilih untuk menikmati musik saja. Kalau aku memaksa bermain musik untuk meluapkan emosi, mungkin emosiku berkurang, pun juga dengan isi dompet dan rekening ku, otakku waras, keuanganku tidak, wkwkwk. Jika ditanyakan, efektif mana antara terapi musik pasif atau aktif? Keduanya sama-sama efektif untuk menjadi opsi kita dalam mengendalikan amarah. Memangnya iya? Iya, aku merasakan sendiri. Aku menyukai hampir semua genre musik, dangdut, K-Pop, Musik klasik seperti Mozart, Karya Pachelbel seperti Canon in D Major, Beethoven, Pop Indonesia, Rock-nya Avenged Sevenfold, DJ Remix yang biasa diputar di sound horeg, lagu-lagu sakit hatinya Denny Caknan hingga Happy Asmara, Musik tradisional Gending Jawa yang membawa ketenangan hingga alunan Gamelan Bali yang ketukannya selalu penuh semangat, Semua kudengar. Bukan karena apa, musik yang kudengar selalu aku dengar sesuai dengan momen dan suasana hati. Karena kali ini membahas bagaimana aku mengendalikan amarahku, aku suka mendengar beberapa alunan instrumen musik yang tidak ada lirik lagunya, namun mungkin bisa jadi rekomendasi untuk kamu. Kadang, jika aku merasa kesal dengan sesuatu hal, aku mendengarkan daftar putar di Spotify alunan musik tradisional Jawa dari Keraton Yogyakarta, Namanya Gending yang dimainkan oleh KHP Kridhamardawa Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat. Disana terdapat beberapa album, salah satu album favoritku adalah Gendhing Soran. Gendhing Soran berasal dari kata “Sora” yang berarti lantang atau keras. Karena jika kalian dengarkan teknik soran merupakan cara menyajikan gendhing dengan volume keras dan penuh semangat. Dalam albumnya terdapat gendhing favoritku bernama Gendhing Kagok Liwung. Gendhing ini selalu aku dengarkan ketika aku merasa sangat kesal, karena instrumennya sendiri menggambarkan emosi yang sangat jelas, dari ketukan setiap komponen musik yang cepat dan keras, ketika mendengarkannya aku merasa amarahku terlampiaskan dalam diam. Uniknya, Gendhing Kagok Liwung sendiri memang menggambarkan amarah, dilihat dari kata “Liwung” yang berarti marah atau mengamuk. Namun, Jika amarahku benar-benar dalam kondisi, marah besar yang hampir tidak tertahankan, aku memerlukan alunan musik yang lebih kencang dan lebih kuat karakter alunan musiknya. Akhir-akhir ini aku sedang suka mendengarkan musik pengiring ogoh-ogoh khas Bali, aku kurang tahu karya siapa, namun musik itu diproduksi dan dipublikasi oleh salah satu kanal Youtube bernama Palawara. Disitu sudah lengkap tersedia daftar putar musik iring-iringan untuk ogoh-ogoh yang diberi judul sesuai dengan nama masing-masing dari karakter Bhuta Kala. Ogoh-ogoh sendiri adalah representasi yang menggambarkan Bhuta Kala melambangkan energi negatif dalam bentuk makhluk buruk rupa berukuran raksasa, Dimana setiap Hari Raya Nyepi pasti ogoh-ogoh diarak sebelum hari pelaksanaan Nyepi berlangsung. Fungsinya sendiri untuk menetralisir energi buruk yang ada pada diri manusia. Benar nyatanya, ketika aku mendengar alunan musik setiap karakter Bhuta Kala itu, dengan tempo musik yang sangat cepat, penuh dengan teriakan amarah dari karakter Bhuta, aku merasa amarahku menjadi ternetralisir dengan baik dan menjadi lebih eksotis, wkwkwk. Kadang, jika amarahku disebabkan oleh tingkah laku "unik" manusia, aku bisa berimajinasi yang bisa dibilang, sangat jahat. Dalam imajinasiku, aku adalah sang Bhuta Kala, yang disitu aku datang untuk membawa ketakutan dan malapetaka bagi manusia-manusia yang sudah membuatku marah akibat tingkah “lucunya”. Agar lebih puas dalam mendengarkan musik, aku selalu menggunakan penjemala atau earphone yang sangat kedap suara. Dengan begitu aku bisa fokus untuk menghilangkan dan mengurangi rasa marah dalam hati. Ya… sebagai manusia kita selalu berusaha agar tidak merugikan orang lain namun tentu kita tidak bisa membiarkan diri kita tersiksa dengan amarah kita sendiri. Kuncinya dalam mengendalikan amarah atau emosi, adalah diri kita sendiri, kita tidak bisa mengontrol perlakuan atau perkataan orang yang menyakiti hati kita, namun kita bisa mengendalikan emosi yang ada pada diri kita sendiri. Tidak hanya musik, aku yakin, tidak semua orang hanya cukup melampiaskan emosinya melalui musik, asal respons kita positif, dan tidak merugikan orang lain, maka kita sudah sangat bijak dalam mengendalikan emosi. Namun, bagiku, pengendalian emosi pada diri sendiri, dengan cara apapun itu, tidak terkecuali dengan musik adalah opsi paling murah dan mudah. Tetap kendalikan dirimu sendiri, tidak ada yang bisa mengendalikan emosimu kecuali dirimu sendiri, Salam.




Sumber: Gendhing Soran Volume 1 - Yogyakarta. (n.d.). Kraton Jogja. Retrieved May 3, 2026, from https://www.kratonjogja.id/kagungan-dalem/51-gendhing-soran-volume-1/ Wulandari, D. R., & Laili, N. (2025). Music Therapy to Reduce Angry Emotions in People with Mental Disorders : Terapi Musik untuk Mengurangi Emosi Marah pada Orang dengan Gangguan Mental. Indonesian Journal on Health Science and Medicine, 2(2), 1-14.

Komentar