KISAH MANUSIA YANG TIDAK PERNAH PUAS

 



Pernahkah kamu di posisi ini,

“Enak ya dia, bisa check out barang apapun yang dia ingin”

“Enak ya dia, bisa punya banyak teman”

“Enak ya dia, bisa disayang orang tuanya yang masih lengkap”

“Enak ya dia, bisa liburan keluar negeri, kesana kemari tanpa mikir biaya”

“Enak ya dia, punya pacar, tiap hari ada yang bisa diajak deep talk”

“Enak ya dia, punya jabatan dan posisi penting dibandingkan aku sekarang”

“Enak ya dia, bisa kuliah di kampus impiannya, dan nggak perlu sambil kerja buat bantu-bantu orang tua”

“Enak ya mereka, bisa punya keluarga yang harmonis”

“Enak ya dia, punya wajah good looking, gampang banget cari duitnya bermodalkan tampang bagusnya”

dan hal-hal enak lain yang mungkin kita nggak, atau belum pernah merasakan, semua hal itu pernah aku alami, dan mungkin kamu juga pernah di posisi ini.


Jujur, Kadang aku merasa iri dengan apa yang dimiliki oleh orang-orang terdekatku atau bahkan orang-orang di sosial media, yang kesehariannya begitu indah jika dibayangkan. Jika diimajinasikan, mungkin seperti ini skenarionya:


Setiap pagi bisa jogging dengan sepatu bermerk tiga garis tebal  seharga gaji kerja paruh waktu ku dalam sebulan. Lalu sepulang jogging langsung ke cafe kalcer pesan Americano 2 shot yang harganya seharga uang bensinku seminggu. Pulang ke rumah dengan gaya arsitektur modern minimalis yang didesain sama omahome dengan teknologi yang banyak kata smart-nya, yang smart gate-lah, smart door lock-lah, yang smart ini dan itu-nya lah. Mandi dengan shower yang bisa mengeluarkan air panas dengan sabun impor dari Italia yang harganya separuh dari UMR di kota ku. Sarapan pagi dengan menu Chicken Heavy Garlic With Mashed Potato dengan komposisi karbohidrat, protein, vitamin yang seimbang, dengan bahan-bahan terbaik dibeli dari supermarket besar yang harga buah dan sayurnya tidak dihitung perkilo namun per seratus gram. Berangkat kerja dengan mobil hybrid impor dari Korea yang bahkan jika di starter tidak mungkin membuat tetangga marah akibat suara khas mobil bobrok tahun 90-an. Sampai di kantor dengan ruangan pribadi dan jabatan tinggi dengan kursi empuk yang bisa berputar 360 derajat nyaman digunakan kerja berjam-jam. Atau jika seusiaku, berangkat kuliah dengan diantar sopir pribadi, sambil mengerjakan tugas yang belum selesai semalam dengan tablet berlogo apel dengan mobil bagus yang tentu ber-AC, tidak perlu panas-panasan atau berjuang melawan badai dengan mantel sobek harga 10 ribu itu. Lalu sesampainya di kampus, bertemu dengan pacar yang cantik atau ganteng, kuliah bareng, lalu seusai kuliah makan di cafe yang baru grand opening bareng, sambil bersenda gurau merencanakan masa depan sambil bermanja-manja, kalau dibayangkan, aiihhhh, indahnya dunia.


Apakah kalian juga membayangkan hal yang sama denganku? Yah….. hidup memang tidak selalu seperti yang kita inginkan dan rencanakan, ada quotes  yang mengatakan seperti ini 


“Manusia boleh berencana, tapi Tuhanlah yang berkehendak”


Bukan bermaksud mematahkan semangat kalian dalam meraih mimpi-mimpi kalian, namun, memang kita harus sadar, bahwa kita hidup atas kuasa dan skenario-Nya.


Memang, jika dituruti kemauan manusia, tidak akan ada habisnya, sudah diberi hati, minta jantung, sudah diberi jantung, terus minta dikasih untung. Tidak bisa dipungkiri, di era dijilat, eh, di era digital ini maksudnya, kita sudah terlalu banyak “diracuni” oleh gaya hidup mewah influencer atau bahkan teman kita sendiri, yang dengan mudah terpampang nyata didepan mata, hingga membuat hati dan jantung membara ingin ikut memiliki apa yang mereka miliki.


Karena dasarnya manusia tercipta atas dasar karakter dan mental tidak ingin kalah. Bukankah kalian terlahir akibat pertandingan balapan sel sperma yang berebut tempat untuk sampai ke indung telur ibu kalian atas kerja keras ayah kalian di malam hari? wkwkwk. Dari situ sudah terbukti, bahwa manusia sesungguhnya tidak ingin kalah.


Dan nyatanya, hal itulah yang membuat kita merasa lelah secara mental dan fisik, terus-menerus mengejar yang tidak ditakdirkan menjadi milik kita. Ditambah tekanan dari luar, dari orang tua mungkin, keluarga, teman atau bahkan dari omongan orang yang selalu membandingkan diri kita dengan mereka, yang ingin rasanya di suatu kesempatan di masa depan nanti, kita bungkam mereka dengan hasil kesuksesan dan kemenangan kita, namun menang atau sukses dari siapa?


Apakah itu sebuah ambisi atau motivasi? Semua tergantung padamu.


Jika kamu merasa senang bekerja keras, berusaha lebih dari orang lain untuk meraih mimpi dan merasa selalu bersemangat, bisa jadi hal itu akan jadi motivasi. Namun, jika kamu merasa lelah alih-alih semangat, merasa tertekan secara mental dan fisik, dan merasa selalu kurang dan kalah dengan apa yang orang lain ekspektasikan, hentikan itu, mungkin itu ambisi dan ketamakan yang tidak akan ada habisnya jika kalian ikuti.


Hidup tidak selalu tentang kemenangan, kekayaan atau apa yang dimiliki oleh orang lain. Jika orang lain memiliki rumah bagus dua lantai dengan desain modern minimalisnya, bersyukurlah, kita sudah memiliki rumah sederhana meskipun setiap hujan gentengnya selalu bocor, daripada harus mengontrak atau luntang-lantung hidup dari masjid ke masjid, dari emperan toko satu ke emperan toko lain.



Jika orang lain memiliki kendaraan bagus, mobil misalnya, yang memiliki kursi empuk dan AC yang dingin, bebas dari panasnya matahari dan dinginnya hujan, bersyukurlah saja dengan motor butut mu itu yang sudah membawamu bepergian berkilo-kilo meter penuh perjuangan, membawamu ke tempat tujuan dengan cepat bebas macet, meski kadang harus berebut jalan dengan pemotor lain yang kadang brengsek dan ngajak balapan, daripada harus berjalan kaki atau nebeng kesana kemari.


Jika orang lain sudah memiliki pacar yang cantik atau ganteng, selalu sayang, selalu menjadi tempat berkeluh kesah, selalu mengerti keadaan kita, selalu ada disaat kita senang atau susah, selalu menjadi alasan kita untuk tersenyum bahagia setiap harinya. Bersyukurlah dengan diri kita sendiri yang fisiknya sekuat baja, kesabaran setebal tembok China ditumpuk lima, mental sekuat prajurit Spartan dari jaman kerajaan Roma. Yang kalau nangis disimpan sendiri, cerita dan curhat sama diri sendiri bahkan kalau marah, marah sendiri, yang kalau ada masalah selalu diatasi sendiri. Bukan gila, tapi, this is single era. Kita tidak pernah tahu, bagaimana mereka yang sedang pacaran atau menjalin hubungan, badainya, cobaan dan ujiannya, mereka juga sama-sama berjuang mempertahankan hubungannya dikala kita sedang menunggu jodoh yang masih transit di DC Cakung, sambil berharap kalau dia nanti datang di waktu yang tepat, sesuai dengan spesifikasi dan ekspektasi kita, aamiin.



“Lihatlah ke bawahmu maka kamu akan merasa cukup, dan janganlah kamu lihat ke atasmu maka kamu akan terus merasa kurang”


Prinsip yang selalu aku ingat ketika aku merasa dalam posisi kurang bersyukur dan iri atas pencapaian dan apa yang dimiliki orang lain. Dan sebenarnya prinsip itu berdasar pada Hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari 6490, Beliau bersabda:


“Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan janganlah melihat orang yang berada di atas kalian. Hal itu lebih pantas agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang dianugerahkan kepada kalian.”


Manusia dengan sistem kehidupan modern saat ini, tidak akan pernah merasa cukup. Kita dibuat untuk selalu mengejar sesuatu yang bahkan tidak kita inginkan, pengaruh dari menjamurnya konten di sosial media akan pamer kekayaan atau pencapaian, kata-kata bias yang selalu di gemakan “kita harus selalu berkembang, maju, lebih baik” yang seringkali kita salah pahami. Sebenarnya, Bukan harus menjadi lebih baik dari orang lain, kita tidak harus menjadi lebih kaya dari orang lain, tidak harus menjadi lebih berprestasi dari mahasiswa lain, tidak harus menjadi orang yang memiliki jabatan lebih tinggi dari rekan kerja lain, kita hanya perlu menjadi versi lebih baik dari diri kita sendiri.


Jika kemarin kita tidak membaca buku, maka buatlah diri kalian membaca setidaknya satu lembar hari ini. 

Jika kalian kemarin tidak pergi ke gereja, maka pergilah ke gereja untuk membuktikan kalian hamba Tuhan yang baik. 

Jika kemarin kalian tidak shalat tepat waktu, maka hari ini harus tepat waktu. 

Jika kalian tidak pergi berolahraga kemarin, maka pastikan kalian memiliki waktu luang hari ini untuk berolahraga.


Kata kuncinya adalah, bukan menjadi lebih baik dari orang lain, tapi lebih baik dari diri kita sendiri. Versi kita saat ini haruslah lebih baik dari versi kita yang dahulu. Hidup bukan sebuah kompetisi, pun jika kita berkompetisi, maka garis finish-nya hanyalah siapa yang lebih dulu menghadap ke Tuhan alias mati duluan. Tuhan tidak memandang siapa yang lebih baik dari siapa, tapi, apakah kita mau berubah menjadi lebih baik dan mensyukuri apa yang telah ditakdirkan untuk kita.


Jika kalian masih merasa kurang bersyukur, coba lihat kakek-kakek tukang becak yang pagi hingga malamnya mengharapkan penumpang meskipun sudah banyak orang yang memilih menggunakan motor. Lihatlah ibu-ibu yang rela berpanas-panasan berjualan dagangannya di pasar yang panas, kumuh, bau dan harus bersaing dengan penjual lain, mengharapkan dagangannya habis untuk membayar uang sekolah anaknya. Lihatlah anak seusia kita yang harus merelakan mimpinya untuk berkuliah, dan memilih untuk bekerja siang malam demi membantu ekonomi keluarga. Lihatlah anak-anank kecil yang  berjualan di jalan raya bertaruh nyawa di hadapan kendaraan-kendaraan besar mengharapkan agar bisa membeli buku dan alat tulis hasil jerih payah berjualannya tidak mengharapkan belas kasihan orang lain.



Jika aku dalam posisi kurang bersyukur, maka kadang aku hanya pergi keluar rumah, mengendarai motorku, mengikuti instingku, sambil melihat bagaimana banyak orang yang sedang sama-sama berjuang, sehingga aku merasa bahwa apa yang kumiliki saat ini, setidaknya adalah yang cukup bagiku, dikala mereka mati-matian berusaha memiliki, Salam syukur.

Komentar