Di Awal bulan Januari lalu, Seluruh mahasiswa S1 Keperawatan di kampus kami yang sedang menempuh semester 6 melaksanakan Praktik Belajar Klinis (PBL) ya.. kalau di jurusan lain non-kesehatan biasa disebut PKL.
Kami tidak melakukan PBL di satu rumah sakit saja, terdapat 4 rumah sakit yang kami tempati, dan kebetulan aku bersama beberapa teman-teman satu kelompokku bertugas di salah satu rumah sakit tertua dan rujukan utama semua rumah sakit di Kota kami. PBL yang kami lakukan berlangsung 1 bulan saja, meskipun sebenarnya aku mau lebih lama hehehe, ya.. karena jujur, PBL se-seru itu, bagi aku yang nggak suka basa-basi, teori dan presentasi, lebih seru langsung turun ke pasien dan belajar dari perawat senior atau bahkan ke pasiennya langsung.
Oke, disini aku bakal ceritain pengalaman aku PBL selama satu bulan di empat ruangan berbeda, dan setiap ruangan memiliki cerita, ciri khas, karakter perawat, karakter pasien, dan pola kerja yang tentunya berbeda.
Nah, waktu PBL kami dibagi menjadi beberapa kelompok, satu kelompok terdiri dari 6 mahasiswa. Di kelompokku terdapat 4 mahasiswi dan 2 mahasiswa termasuk aku. 5 orang termasuk aku berasal dari Jawa, dan satu temanku cowo berasal dari Kaimana, Papua.
Minggu pertama, aku bersama 6 temanku, bertugas di salah satu ruangan terbesar kedua dan paling sibuk di RS itu, Ruang Panjalu namanya. Bagaimana tidak? ruangan itu terdapat 30-an ranjang, dan hanya ditangani oleh 3-5 perawat senior tiap shift-nya, dan kehadiran kami sangat membantu mereka juga pasien saat melakukan perawatan. Ruang Panjalu menangani pasien dengan penyakit paling banyak adalah TBC dan DM (Diabetes Melitus).
Saat orientasi kami di wanti-wanti oleh CI (Clinical Instructor) yang juga perawat senior, agar selalu mengenakan masker, biar nggak ketularan virus waktu tindakan. Bagi mahasiswa yang baru PBL pertama kali, Ruang Panjalu merupakan sebuah “Mimpi Buruk” kalau sudah dapat ruangan ini, jangan harap bisa leha-leha, santai, atau bahkan buka gawai, yang ada cuman lari sana lari sini. Tiap mau duduk, pasti ada saja panggilan dari pasien atau keluarganya yang meminta tolong ke kami.
Kegiatan rutin kami selama PBL yang pasti adalah ketika datang operan shift, bersama para perawat shift sebelumnya, kita keliling setiap kamar untuk mengobservasi kondisi pasien. Setelah berkeliling kita berkumpul di ruang perawat untuk pengarahan dan doa bersama, setelah itu baru kami bersama para perawat senior membagi tugas. Ada yang bertugas mengisi rekam medis dan mengurus administrasi pasien, dan kami mahasiswa praktik membantu perawat senior lain untuk menyiapkan obat. Bagi mahasiswa praktik yang baru saja terjun ke rumah sakit, tentu kami mencoba aktif dan membantu sebanyak mungkin, dan yang pasti selalu diingatkan oleh dosen dan bahkan perawat senior di sana adalah “kalau nggak tahu, tanya ya dek”. Kenapa begitu? ya jelas dong, kita disini berurusan dengan nyawa manusia, resikonya nggak main-main.
Kita menyiapkan obat untuk lebih dari 30 pasien, dan semua ranjang saat kami praktek di minggu pertama kondisinya adalah penuh semua ðŸ˜. Jadi, kami benar-benar dilatih dalam kondisi yang sangat penuh tekanan dan dituntut untuk sangat teliti, apalagi dalam pemberian obat. Setelah 1 jam an menyiapkan obat di dalam spuit kami pun mulai mendorong troli dan datang ke tiap kamar menyuntikan obat ke setiap pasien.
Saat menyuntikan obat ada 2 hal yang selalu ada di pikiranku, dan jujur, “Kalau obatnya benar, berarti pasien sembuh, aku jadi pahlawan, tapi kalau salah obat, pasiennya meninggal, tamatlah riwayatku😢”. Setiap aku ingat 2 hal itu, aku selalu memastikan obat dan penerima, dosis serta waktu pemberian obatnya benar, karena kalau nggak benar, matilah aku.
Namun beruntungnya, berkat ketelitian dan kerja sama, kami tidak pernah sekalipun salah memberikan obat atau mengatur dosis saat mengoplos. Setelah itu kami biasanya mengganti cairan infus pasien, agar ketika malam tiba saat mereka tidur, tidak kehabisan, sehingga kebutuhan cairannya dapat terpenuhi sesuai dengan anjuran dari dokter dan perawat. Namun, kadang niatnya kita hanya mengganti cairan infus, tapi ketika datang ke pasien, ternyata masalahnya bisa diluar itu, yang infusnya nggak mau netes lah, yang tangannya sakit lah, yang nanyain udah punya pacar atau belum lah (eh🥲), ada ajalah pokoknya. Tapi, karena namanya juga kita mahasiswa praktek yang baru terjun ke lapangan dan harus belajar banyak, so, want it or not kita harus belajar menangani keluhan pasien dan ngasih solusi biar keluhan mereka teratasi. Belum lagi setelah itu, kita harus mengukur tanda-tanda vital pasien, mulai dari tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, saturasi oksigen bahkan keluhan pasien. Kami mengukurnya satu demi satu pasien dan kalian masih ingat berapa jumlah pasiennya tadi? Yup! Lebih dari 40 pasien. Kalau diperkirakan kami membutuhkan waktu 30-60 menit sampai seluruh pasien selesai kami ukur tanda-tanda vitalnya. Apakah setelah itu kami bisa duduk-duduk? Oh tidak! Kami masih harus memberikan terapi nebulizer atau pemberian obat melalui uap, yang mana ada 10-an pasien yang harus mendapatkan terapi obat dengan uap, dan setiap orang membutuhkan waktu 4-7 menit agar obat yang di-uap habis sempurna, kami membutuhkan waktu hingga satu jam an mungkin untuk seluruh pasien. Setelah selesai apakah kami bisa langsung duduk? Tentu bisa, tapi bukan duduk untuk istirahat, kami duduk untuk mengerjakan laporan asuhan keperawatan. Jadi buat kalian yang belum tahu apa itu laporan asuhan keperawatan, itu semacam makalah yang berisi tentang laporan kasus pasien yang kita tangani, setiap mahasiswa menangani satu pasien dengan kasus diagnosa berbeda, lalu kita menyusun rencana asuhan keperawatan yang akan kita berikan kedepannya. Biasanya saat ada waktu untuk beristirahat kami bukan malah bersantai bermain gawai, namun mencari data rekam medis pasien untuk kami rangkum dan tulis di laporan kami, sembari mengkaji kondisi pasien sebelumnya.
Ruang Panjalu merupakan ruangan yang memberiku banyak pengalaman, karena perawat-perawat senior disana membebaskan dan memberikan kepercayaan kami dalam belajar langsung untuk merawat pasien. Pernah aku diminta untuk memasang infus ke pasien oleh salah satu perawat senior dan tentunya aku didampingi, karena masih mahasiswa dan tindakan memasang infus adalah tindakan invasif atau tindakan yang menyakiti tubuh seseorang. Sebuah kebanggaan tentunya bagiku bisa diberi kesempatan untuk memasang infus ke pasien langsung, dan syukurnya berhasil, meskipun dalam jantung berdegup kencang, wkwkwk.
Selain itu, kami pernah diminta untuk mengambil sampel darah ke beberapa pasien, ada sekitar 5 pasien yang harus kami ambil sampel darahnya untuk diuji. Waktu itu, pagi-pagi sekali, baru pukul 06.00 WIB, Pak Agung salah satu perawat senior meminta kami beberapa mahasiswa praktik untuk belajar mengambil sampel darah. Awalnya di salah satu pasien kami diberi contoh bagaimana prosedur pengambilan yang benar, lalu beliau memberikan kesempatan kami untuk mengambil sampel darah sisa pasien berikutnya. Tentu aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, dengan bersemangat aku mendatangi pasien-pasien yang memang harus diambil sampel darahnya sesuai catatan dari beliau, dan syukurnya berkat kepercayaan yang diberikan pak Agung kepadaku, aku berhasil mengambil sampel darah semua pasien yang diminta.
Hari pertama mungkin terasa sangat berat dan melelahkan, apalagi, kami mahasiswa yang baru praktek dan terjun ke rumah sakit mendapat ruangan yang cukup sibuk di minggu pertama dengan okupansi pasien 100%, tentu kami harus beradaptasi dengan sangat amat cepat.
Aku punya satu pengalaman yang cukup menyedihkan. Seperti yang aku sebutkan sebelumnya, bahwa kami harus membuat laporan asuhan keperawatan yang mengkaji tentang diagnosa keperawatan dan medis pasien kan? dan setiap mahasiswa harus mengkaji satu pasien masing-masing. Aku mendapatkan pasien seorang ibu-ibu berusia 60 tahun dengan penyakit diabetes mellitus kering tipe 2, anemia dan TBC. Saat hari pertama pengkajian, beliau tampak sangat gelisah, teriak-teriak, terlalu banyak bergerak hingga harus di tali kaki dan tangannya agar infus-nya tidak lepas. Saat itu aku datang setelah orientasi ruangan, beliau dijaga oleh seorang ibu-ibu juga yang merupakan saudara jauhnya, katanya ibu X (nama samaran pasienku) sulit makan. Ketika aku datang aku mencoba merayu menyuapi makanan cair yang sudah disiapkan, dan beruntungnya beliau mau. Karena sebelumnya dikatakan bahwa ibu x tidak kooperatif saat dilakukan tindakan perawatan, untungnya, saat aku mengkaji dan merawat beliau selama 3 hari, beliau cukup kooperatif meskipun aku juga harus jago merayu. Kenapa hanya 3 hari ta? Yup, ini dia, yang aku katakan salah satu momen menyedihkan. Selama 3 hari beliau kurawat cukup kooperatif, namun di hari ketiga pengkajian sayangnya tuhan berkata lain.
Saat itu aku masuk shift siang, seperti biasa aku sedang sibuk menyiapkan obat dan mengantar pasien pulang. Tiba-tiba, ibu-ibu saudara dari ibu x mendatangiku sekembaliku dari memulangkan pasien. “Mas-mas, tolong itu ibunya coba sampeyan ukur suhunya, kok saya raba dingin ya, dan sudah nggak teriak-teriak kayak biasanya” aku pun bergegas mengambil termometer dan pergi menuju kamar ibu x. Disana kulihat kondisi beliau benar-benar sudah kritis, nafas tersengal-sengal, tidak terdengar lagi suara teriakannya, bahkan untuk berbicara pun tidak ada tenaganya, kuraba tangannya, benar-benar dingin. Kuletakan thermometer ke ketiaknya, kutunggu 1 menit dan anehnya suhu tubuhnya tinggi, 37,9 derajat celcius. Aku pun segera melaporkan ke perawat senior agar bisa ditindaklanjuti. Setelah itu aku melanjutkan tugasku membantu memulangkan pasien yang hari itu jika ditotal aku sudah bolak balik lebih dari 30 kali ruangan-lobi, yang mana ruanganku di lantai 4, dan lobi di lantai 1. Meskipun aku tahu bahwa pasienku dalam kondisi kritis, ingin rasanya membantu merawat dan memulihkan kondisi beliau dengan bantuanku sebisanya, namun kondisi ruangan cukup sibuk, sehingga aku harus tetap mengantar semua pasien yang diminta pulang keluar dari rumah sakit.
Setelah mengantar semua pasien, aku kembali ke ruangan dalam kondisi sangat amat lelah. Aku kembali menengok ibu x, namun saat melewati selasar, aku merasa tidak enak hati, firasatku buruk, tiada lagi suara yang keluar sama sekali dari ibu x, benar ternyata. Saat memasuki ruangan, saudara ibu x sudah membereskan barang bawaannya dan melipat tikar yang biasa digunakan tidur di lantai, beliau mengetahui kedatanganku bersama temanku satu shift, beliau memberi isyarat menggelengkan kepala yang berarti “Ibu x sudah tiada” kulihat diranjang beliau sudah tidak bergerak sama sekali, sudah terbujur kaku, tidak terlihat tanda-tanda kehidupan sama sekali. Aku terdiam, mencoba untuk menerima keadaan itu, menyedihkan memang, tetapi, perawat tidak boleh terlalu terbawa suasana, perawat hanya boleh empati, tidak boleh bersimpati berlebihan, kita boleh bersedih, tapi tidak boleh berlarut-larut. Segera aku membantu perawat senior merawat jenazahnya, hatiku bergetar melihat orang yang baru saja beberapa menit yang lalu ku ukur suhu tubuhnya, sudah terbaring lemas tanpa nyawa. Setelah selesai aku mengembalikan perlengkapan merawat jenazah itu ke ruang alat, aku kembali lagi ke kamar almarhumah dan dari selasar tampak suara tangisan seorang pria remaja, yang saat kutemui ternyata ia adalah cucunya. Ia menangisi kepergian sang nenek, tidak rela, tidak mau ditinggal neneknya pergi, ia tidak ingin nenek meninggalkannya, di sampingnya anak dari ibu x yang merupakan ibu dari pria itu, terus menenangkan pria itu sambil terisak oleh tangisnya sendiri.
Awalnya aku tidak ingin menangis, karena memang terlalu banyak hal yang harus dilakukan, menangis hanya akan menghabiskan waktu dan mengganggu fokus saat merawat pasien lain, yang lebih membutuhkan bantuan. Namun, tangisan sang cucu mengingatkanku pada tangisanku saat ditinggal nenekku 1 bulan sebelum PBL. Aku berusaha menahan tangisan itu sebisa mungkin, berlindung di balik kacamataku dan masker. Temanku yang tak kuasa menahan air matanya segera masuk ke toilet dan berdiam di sana untuk menangis. Setelah bagian pengurus jenazah rumah sakit tiba, aku membantu memindahkan jenazah ke ranjang untuk dipindahkan ke ruang jenazah, kuantar ibu x sampai depan pintu ruangan saja, karena masih banyak hal yang harus kukerjakan. Aku hanya berdoa dalam hati saat mengantar kepergiannya, semoga beliau tenang disisi-Nya, diampuni segala dosanya, dan diterima segala amal baiknya.
Di Ruang Panjalu, aku tidak hanya belajar memasang infus, mengambil sampel darah, mengurus jenazah, mengkaji pasien atau mengoplos obat saja. Satu pengalaman luar biasa lain adalah, aku diajari bagaimana cara merawat luka pasien diabetes melitus. Jika kalian belum tahu, orang dengan penyakit diabetes melitus dan memiliki luka, cenderung sulit kering dan harus rutin dirawat untuk mencegah infeksi. Hari itu, aku merawat 4 pasien, dengan estimasi setiap pasien menghabiskan waktu 30-45 menit untuk merawat lukanya, tergantung kondisi dan luas luka. Pasien pertama seorang kakek berusia 70-an memiliki luka diabetes melitus yang sangat parah, dan sudah disarankan untuk diamputasi, namun keluarga menolak. Agar mudah untuk dibayangkan betapa parah luka beliau, luka beliau ada di kaki kanan mulai dari ujung jempol hingga lutut, lukanya berwarna coklat seperti kanebo yang basah setengah kering, dan saat disentuh, sudah tidak terasa seperti kulit, sudah terasa kering namun lunak didalam, dan beliau mengeluh kesakitan saat dirawat lukanya, kami menghabiskan bergulung-gulung kain kasa untuk membalut lukanya. Aku tidak bisa membayangkan betapa sakit dan tidak nyamannya beliau bertahan dengan kondisi kaki seperti itu.
Pasien kedua, seorang pria tua juga, usianya mungkin tidak jauh sama dengan pasien pertama, lukanya bahkan sudah diamputasi. Lukanya terdapat di ujung telapak kaki bagian kiri, yang jari-jarinya sudah tiada karena diamputasi, kondisi lukanya sudah cukup bersih, namun tetap harus dirawat agar tidak terjadi infeksi. Berlanjut hingga pasien ketiga dan keempat yang jika diceritakan kondisi lukanya aku saja tidak tega. Namun, dengan aku diajari bagaimana rawat luka pada pasien dengan kondisi luka yang bermacam-macam dan sangat menyedihkan, aku diajarkan agar tetap fokus meskipun terdapat rasa jijik atau takut. Meskipun saat dirawat luka, mereka merasa kesakitan, kita sebagai perawat, mau tidak mau kita harus tega, karena, akan lebih menyedihkan lagi kalau kita tidak segera merawat luka mereka, yang hanya akan menambah infeksi dan tidak menyegerakan kesembuhannya. Dan asal kalian tahu, rawat luka adalah kegiatan perawatan yang sangat boros, dari segi waktu maupun dari segi alat/bahan. Bayangkan saja berdiri hingga berjam-jam untuk memastikan bahwa luka pasien dirawat dengan benar dan tidak terdapat infeksi agar mereka dapat beristirahat dengan nyaman dan segera pulih. Belum lagi kita harus memakai masker selama berjam-jam, bahkan aku pernah hampir jatuh karena kehabisan nafas. Tidak bisa kubayangkan betapa kerasnya perjuangan para perawat saat merawat pasien di masa pandemi Covid-19 bertahun-tahun yang lalu.
Selain itu aku belajar, mumpung masih muda, kita harus menjaga pola makan dan asupan dengan baik, mungkin kita bisa bebas makan ini makan itu, minum ini minum itu, namun efeknya baru terasa saat masuk lanjut usia, semua yang kita makan, akan tiba hasilnya saat sudah tua. Akibat terlalu banyak gula, kita harus rela kehilangan sebagian tubuh kita, dan bahkan, kehilangan nyawa.
Ruang Panjalu banyak memberiku pelajaran berharga.
Aku harus cepat beradaptasi, tidak peduli bagaimana caranya
Aku harus teliti, kesalahan sedikit saja menyebabkan keluarga tercinta mereka bertaruh nyawa
Aku harus berempati, bukan bersimpati, terlalu emosional pada kematian pasien tidak baik, cukup sampaikan belasungkawa, dan lanjutkan pekerjaan untuk merawat orang lain agar segera pulih dari sakitnya
Aku harus menjaga kesehatanku, jika tidak mau menghabiskan masa tua di ranjang rumah sakit, dan bergantung hidup pada obat-obatan atau mesin-mesin asing yang harus menempel di tubuhku agar tetap bernafas
Mungkin dimata orang perawat dikenal judes, jutek dan tidak memiliki perasaan, kalian tidak sepenuhnya benar. Bukan bermaksud membela diri, namun, kondisi lah yang membentuk mental kami menjadi seperti itu, melihat pasien meninggal di depan mata, siapa tidak bersedih? namun masih banyak pasien yang lebih membutuhkan uluran tangan kita dan menaruh harapan besar kepada kami agar lekas beranjak dari ranjang sakitnya, agar dapat kembali sehat dan bisa bersua dengan keluarga, kembali bekerja memenuhi kebutuhan hidupnya atau kembali pergi menuntut ilmu di sekolahnya, Bukankah mereka lebih besar mengharapkan kehidupan alih-alih kematian?
Begitu ceritaku saat minggu pertama praktek di Ruang Panjalu yang dijuluki sebagai ruangan perjuangan, tidak hanya perawat yang berjuang untuk memulihkan kesehatan pasiennya, namun keluarga dan pasien sendiri yang berjuang untuk tetap hidup dan kembali sehat.

Komentar
Posting Komentar