SISI GELAP PERAWAT, BAGIAN KEDUA (Ceritaku Saat Praktik di Rumah Sakit)


Setelah satu minggu aku praktek di Ruang Panjalu, dengan berbagai macam pengalaman yang kudapatkan, berbagai macam cerita suka dan duka, aku berpindah ke salah satu ruangan yang teman-teman banyak cerita, ruangan paling “slow living” atau bisa dibilang santai.


Ruang Daha, salah satu ruang rawat inap yang dengan kapasitas kurang lebih 30-an pasien, namun di ruang ini pembagian SDM nya lebih tertata dengan baik. Berbeda dengan ruangan praktek sebelumnya yang 30 lebih pasien ditangani hanya oleh 3-5 orang perawat setiap shift belum termasuk mahasiswa praktek. Ruang Daha ditangani oleh 2 tim, setiap tim terdiri dari 3 perawat, tim pertama bertanggung jawab dalam merawat pasien di ruang Daha A tim kedua bertanggung jawab di ruang Daha B.


Seperti biasa, kami mahasiswa praktek dibagi menjadi 3 shift, setiap shift terdiri dari 2 mahasiswa, dan karena terdapat 2 tim, kami bekerja secara terpisah, saat praktik di ruang Daha, aku memilih untuk membantu tim perawat di ruang Daha A.


Tugas kami tidak jauh berbeda dengan ruangan sebelumnya. Aku datang, mengisi buku panduan absen, berkeliling untuk mengecek kondisi pasien bersama perawat senior, melakukan operan shift, dan menyiapkan obat untuk pasien. 


Benar kata teman-temanku yang sebelumnya mendapatkan jadwal tugas di ruangan ini. Mereka katanya bisa tidur di kasur (ini hal yang mustahil terjadi di ruang sebelumnya, bisa tidur aja udah alhamdulillah), tidak terlalu banyak tugas, bahkan laporan pendahuluan (askep) mereka bisa selesai kurang dari seminggu, karena tidak terlalu banyak pasien yang ada di ruangan itu, okupansinya tidak sampai 100%. Ketika baru sampai, di ruangan aku sudah membayangkan betapa sibuknya ruangan ini nanti, dan aku mengira tidak akan jauh berbeda dengan ruanganku bertugas sebelumnya. Eh, malah sebaliknya, kita malah lebih banyak duduk alih-alih gedebak-gedebuk  lari kesana kemari merawat pasien.


Setiap ruangan di rumah sakit tentunya memiliki karakter dan jenis pasien dengan penyakit berbeda-beda. Ruangan ini saat ku amati memiliki pasien dengan kondisi tidak kritis, ya kira-kira 80% pasien dalam keadaan cukup baik, tidak dengan penyakit yang parah. Bahkan pasien yang aku kaji juga tidak memiliki penyakit yang parah, dan uniknya ia termasuk pasien yang masih muda, termuda bahkan.


Koko sebut saja namanya, Ia ternyata adalah temannya temanku, dan pernah satu SMA dengan temanku di kampus, yang berbeda program studi. Ia dirawat dirumah sakit karena terdapat infeksi di usus, ia terdiagnosa GEA (Gastroenteritis Akut), nah apa tuh maksudnya mas?


Jadi, GEA itu bahasa medis untuk orang-orang yang diare, biasanya diikuti mual, muntah dan nafsu makan menurun. Penyebabnya macam-macam sih, bisa karena makan sembarangan, nggak cuci tangan sebelum makan, makan-makanan yang terlalu pedas atau panas yang menyebabkan peradangan dan infeksi di usus, tapi penyebab terbesarnya sih karena bakteri, virus atau parasit.


Saat pengkajian hari pertama aku cukup terkejut. Saat itu aku bertugas di shift pagi, seperti biasa, aku membantu perawat senior menyiapkan obat di ruang obat. Saat selesai, dan obat sudah siap di spuit, siap untuk disuntikan, aku menuju ruangan pertama, kamar A, semua berjalan lancar. Lanjut ke kamar B sebelahnya, bertemulah aku dengan Koko, dan hal yang membuat terkejut adalah ia masih muda, seumuranku mungkin, agak awkward juga, merawat pasien yang seusiaku, karena dalam bayanganku, orang sakit itu pasti sudah lanjut usia. Aku lupa, kalau anak muda juga manusia yang bisa sakit fisik juga, meskipun mentalnya juga lebih rawan sakit sih, wkwkwkwk.


Saat menyuntikkan obat, aku ajak dia ngobrol santai sambil mengkaji kondisi fisiknya, aku bertanya, kenapa ia bisa sampai berakhir di ranjang rumah sakit ini? ternyata ia baru saja makan-makanan yang ia kurang memperhatikan kebersihannya, ditambah ia sering telat makan, ditambah ia saat ini sedang menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negeri yang cukup ternama di Jawa Timur, and.. that’s it! stres karena tugas kuliah, telat makan, sekalinya makan kurang bersih, datanglah bakteri bersama kawanannya, menyerang saat kondisi imunnya lemah. Cukup disayangkan memang, dia masih muda, tampan, harus terbaring sakit di sini, tapi ya, namanya sakit, tidak memandang usia, penampilan, apalagi kekayaan.


Namun, ada hal yang paling membuatku iri, dan menjadikan satu pelajaran penting yang ada dalam hidupku. Koko memiliki pacar, yang sangat cantik, bukan bermaksud untuk ingin memiliki ya (siapalah aku ini), namun ia tetap setia menemani Koko saat sakit di rumah sakit, sebut saja pacarnya Cece (karena memang ia memiliki wajah khas Tionghoa/Chindo). Saat ibu dari Koko pulang kerumah untuk pergi bekerja, sang pacar, Cece datang untuk menjaga dan merawat Koko. Mulai dari membantunya berjalan ke kamar mandi, menyuapi makanan, memberinya semangat untuk segera sembuh, mengobrol bercerita, aduh, cemburulah hati jomblowan ini.


Bagaimana tidak, mereka tampak begitu serasi, satunya tampan, satunya cantik, meskipun Koko sakit, sang pacar tetap setia menemani, istilahnya itu loh, setia menemani dalam keadaan sehat maupun sakit, bahagia atau sedih, bahkan hidup atau mati, awww.


Dan beruntungnya A tidak lama setelah aku rawat, ia segera pulih, betapa beruntungnya ia mendapat pasangan yang begitu setia menemaninya berhari-hari selama di rumah sakit, gimana nggak cepat sembuh, orang support system-nya selalu ada disisinya kok.


Nggak cuman kisah Koko dan Cece aja yang bikin aku terenyuh. Ada seorang pasangan kakek-nenek yang juga membuatku terenyuh atas kisah cinta mereka dan kesetiaannya.


Biar mudah ingatnya, sebut saja sang kakek sebagai Opa dan sang nenek dengan Oma. Opa sakit Stroke saat dirawat di ruangan ini, Kondisinya benar-benar kritis, saat hari pertama aku menyuntikan obat saja, Opa tidak sadar sama sekali, terpasang masker oksigen dengan kecepatan paling tinggi, memakai alat bantu berkemih atau kateter dan popok. Duduk di samping Opa ialah Oma. Saat aku datang menyibakkan tirai, Oma menyambutku dengan senyuman lemah, kulihat matanya sayu, lelah akibat kurang tidur, tubuhnya renta sedikit membungkuk, namun kulitnya tampak bersih meski keriputnya tidak bisa disembunyikan. 


Aku meminta izin untuk menyuntikkan obat ke Opa dan disambut dengan sangat baik, bahkan, Oma segera beranjak dari tempat duduknya dan menyambutku dengan bahagia, Di matanya tampak harapan akan kesembuhan suaminya tercinta, ia berharap setiap obat yang disuntikkan adalah ramuan yang akan menyembuhkan dan segera membuat Opa pulih dan sadar sehingga mereka berdua bisa bersua kembali. Oma menjaga Opa tidak sendirian, Kadang anak dan cucunya bergantian menjaga, agar Oma bisa pulang dan beristirahat dengan baik. Namun setiap pagi, pasti Oma datang untuk menjaga Opa, membersihkan popoknya, menyeka badannya dan seringkali datang memintaku untuk membantu memberi makan Opa melalui selang, tentu sudah tugasku, dan aku melakukannya dengan senang hati. Aku merawat Opa cukup intens selama kurang lebih 4 hari, Mulai dari menyuntikkan obat, memberi makan, mengganti cairan infus, mengganti sprei kasur, mengukur tanda-tanda vitalnya, bahkan kadang membantu mengganti popoknya. Namun selama 4 hari tersebut tidak tampak kondisi Opa yang semakin membaik, kondisinya tetap sama, tidak sadar. Opa sebenarnya sudah masuk rumah sakit sejak lama, mungkin sudah beberapa minggu yang lalu sebelum aku bertugas di ruangan ini, namun kondisinya tidak ada perubahan.


Aku bahkan sudah memiliki firasat buruk tentang Opa. Benar nyatanya, sore itu, aku bertugas mengecek tanda-tanda vital semua pasien di ruang Daha A, tentu aku mulai dari kamar A. Opa adalah pasien yang aku cek terakhir di kamar itu. Untuk efisiensi waktu, ruangan kami menggunakan alat pengukur tekanan darah digital, yang tentu lebih cepat untuk melihat hasil pengukuran tekanan darahnya. Saat itu seperti biasa aku bertemu Oma, beliau memberikan senyum hangatnya saat aku datang dan meminta izin untuk memeriksa Opa. Saat itu nafas Opa tampak sangat berat, tersengal-sengal, tidak seperti biasanya, aku cek aliran oksigen, tidak ada yang salah, alirannya mengalir 15 lpm, aliran paling tinggi. Aku coba fokus kembali untuk memeriksa Opa, kupasangkan manset ke tangan kanannya, aku rekatkan dengan erat, dan ku pencet tombol “mulai” sembari menunggu hasil, aku jepitkan alat pengukur saturasi oksigen atau Oxymeter  ke jari Opa. Namun anehnya Oxymeter itu tidak bekerja, padahal aku sudah cek sebelum memeriksa semua pasien, bahwa alat itu bisa berfungsi dengan baik. Aku coba menyelipkannya di jari yang lain, namun tetap tidak muncul hasil apapun, kucoba di semua jari di tangan, tetap tidak muncul. Aku pun mencoba mengeceknya di tanganku, apakah Oxymeter ini rusak atau memang aku salah memasangkannya? padahal biasanya baik-baik saja, kurang dari 10 detik hasil saturasi oksigen sudah keluar. Aneh, saat kucoba ditanganku, alatnya berfungsi, muncul hasil pengukuran dengan cepat dan akurat. Tapi kenapa tidak mau muncul di jari Opa? 


Tidak berhenti disitu, alat pengukur tekanan darah juga mengeluarkan hasil error. Tidak hanya kucoba sekali, namun berkali-kali, mungkin aku berdiam di samping ranjang Opa satu jam-an. Kulihat Oma yang berada diseberangku melihatku begitu bingung, “apakah ada yang salah? kenapa kok gak selesai-selesai dari tadi periksanya? apakah suamiku baik-baik saja?” aku mencoba mengira-ngira mungkin itu yang ada dipikiran Oma, namun Oma tetap mencoba tenang sambil sesekali senyum padaku. Kembali ku tekan tombol “mulai” di alat pengukur tekanan darah itu, untuk kedua kalinya, ketiga kalinya, keempat kalinya, hingga aku menyerah dan meminta bantuan ke mas perawat yang sedang magang “mas minta tolong, kok aku ngecek tekanan darahnya Pak X di kamar A nggak bisa-bisa ya? sudah aku cek berkali-kali, Oxymeter nya juga nggak bisa deteksi saturasi oksigennya, itupun sudah aku cek di semua jari tangan”. Mas magang segera datang bersamaku ke ruangan itu, ia segera memeriksa respon tubuhnya, ia panggil Opa tidak ada respon, ia cubit tangannya tidak merespon, ia tekan dadanya dengan kepalan tangan pun tidak ada respon kesakitan. Aku pun berlari mengambil stetoskop ke ruang perawat, aku serahkan ke masnya, ia langsung memeriksa bunyi jantungnya, nihil. Akupun diminta oleh mas magang untuk memanggil perawat senior, dengan keadaan yang cukup panik, kupanggil 2 ibu perawat senior, mereka pun bergegas datang ke kamar A dan segera memeriksa kondisinya, namun benar-benar tidak ada kesadaran. Salah satu perawat senior kembali ke ruang perawat dan menelpon dokter jaga di IGD. Sembari menunggu dokter datang, beliau mengambil alat EKG (alat pengukur kelistrikan jantung) untuk memeriksa adanya denyut jantung yang lebih jelas.


Ketika alat datang aku membantu memasangkan ke tubuh Opa, Oma tampak begitu makin khawatir di sudut kamar, ia dipeluk oleh sang anak perempuan, sembari terus melafalkan doa yang tak putus. Sebelum dokter tiba, Oma sempat mendekat ke ranjang Opa, ia seperti memanggil “Pak.. bangun… ayo pak… lailahailallah”  ia kembali ke pelukan sang anak, dokter tiba dan bertanya, sejak kapan kondisinya menurun, karena aku yang terakhir memeriksa disaat kritis, aku pun menjawab “sejak pukul 4 tadi dok, saat saya cek saturasi oksigen, alatnya tidak bisa mendeteksi”. Sang dokter memeriksa nadi karotis, nadi brakialis, mendengarkan denyut jantung dengan stetoskopnya, ia bergeming beberapa saat. Ia melihat layar mesin EKG, lalu mencetak hasilnya.


“Keluarganya mana?” kata sang dokter, perawat senior yang ada di sampingku menjawab “Ini dok, istrinya pak x dan anaknya”, Oma mendekat ke sampingku, “Mohon maaf bu, ini pak x sudah meninggal dunia, ibu yang sabar nggeh, semoga pak x diterima amal baiknya”. Anak perempuannya pun menangis, tangis yang ia tahan sejak dari tadi, pecah saat mengetahui sang ayah meninggalkannya untuk selamanya di depan matanya sendiri. Oma? Oma tentu menangis, tapi ia sudah tabah dan seperti sudah menduga sang suami tidak lama lagi dipanggil sang pencipta, ia hanya duduk lemas, sambil memandang kosong jasad Opa, dengan mata penuh linang air mata. Melihat Oma begitu rapuh kehilangan suaminya, mengingatkanku saat ibu ditinggalkan oleh ayah dulu, air mataku mulai terbendung, namun belum sempat air mataku jatuh, aku sadar, bahwa jasad Opa harus segera dirawat. Aku pergi ke ruang alat mengambil perlengkapan untuk merawat jenazah, Bersama mas perawat magang aku rawat jenazah Opa sembari ibu-ibu perawat senior menghubungi bagian pengurus jenazah rumah sakit dan mengurus administrasi.


Saat selesai mengurus jenazahnya, aku dan mas mengucapkan bela sungkawa kepada Oma dan keluarganya yang sudah datang saat kami merawat jenazah. Bahkan dikala Oma sedih dan berduka, ia tidak lupa mengucapkan “terima kasih ya mas, terima kasih banyak” meskipun dalam kondisi yang lemah. Semakin aku terharu, betapa tidak, Oma begitu tabah dan ikhlas menerima takdir tuhan yang harus memisahkan mereka berbeda alam.


Saat petugas pengurus jenazah tiba, aku pun kembali ikut untuk membantu memindahkan jenazah Opa ke ranjang. Oma bergeming di sudut kamar sembari memandangi suaminya yang sudah tidak bernyawa. Aku mengantar jasad Opa hanya sampai ke depan kamar, namun kutunggu beliau sembari bapak-bapak pengurus jenazah mengurus surat-surat, aku bergeming di samping beliau, sambil menitikkan air mata, aku membelakangi Oma dan keluarganya yang berada di belakang Opa, hari itu aku benar-benar lemas tak berdaya, mengetahui pasien yang aku periksa meninggal di depan mataku sendiri.


Setelah semua selesai, aku duduk kembali ke ruang perawat. Dari Oma aku belajar, beliau adalah salah satu contoh lain, selain ibuku, bahwa cinta sejati itu nyata. Pagi hinggakan siang, siang hinggakan petang, petang hinggakan malam, malam hinggakan pagi lagi, ia setia bersama Opa. Meskipun kondisi Opa yang sangat kecil kemungkinan untuk pulih sempurna, namun Oma tidak berhenti berharap, Oma selalu kooperatif dengan tindakan perawatan apapun yang kami berikan, tidak pernah sekalipun menolak, Oma menaruh harapan besar kepada kami, Ia percaya, apa yang kami lakukan kepada Opa akan berakhir dengan kesembuhan. Namun, takdir tuhan memang tidak pernah bisa diganggu gugat, kematian, tidak ada yang bisa menghindarinya.


Kisah Oma dan Opa hanyalah segelintir, di ruang Dhaha banyak sekali pasangan lansia yang setia menemani satu sama lain. Nenek yang menjaga suaminya, suami yang menjaga istrinya, pemuda yang dirawat oleh kekasihnya.


Aku yang tidak pernah menjalin hubungan percintaan sama sekali kadang merasa bingung 

“Apakah ini yang disebut cinta? 


Kenapa mereka begitu setia menjaga pasangannya yang sudah lemah tak berdaya? 


Kenapa mereka mau repot-repot tidak tidur, bolak-balik kesana kemari memenuhi kebutuhan pasangannya, membuang banyak uang untuk kesembuhan pasangannya?


Kenapa mereka tidak pergi saja mencari pasangan baru yang lebih baik atau mungkin lebih sehat sehingga mereka tidak perlu susah-susah merawatnya? 


Apakah ini yang dinamakan cinta hingga akhir hayat?


Apakah jika aku menjalin hubungan dengan seseorang nanti, akan seperti mereka? yang selalu setia ada di samping pasangannya?” 


Semua pertanyaan itu selalu menggema dalam pikiranku. Ketulusan cinta mereka benar-benar membuatku terharu, begitu banyak pengorbanan mereka untuk pasangannya, mengharapkan agar mereka bisa hidup bersama kembali dirumah yang mereka bangun dengan cinta, menjalani kehidupan dengan penuh bahagia, tidak ada kata sakit, yang ada hanya kesehatan untuk selamanya. Mereka semua adalah orang-orang hebat, bahkan jika aku di posisi mereka belum tentu aku akan sekuat mereka. Memang benar nyatanya, mungkin kamu bisa memiliki uang sebanyak apapun, tapi sangat sulit menemukan pasangan yang benar-benar mencintaimu apa adanya, dalam keadaan apapun, dan mencintai hingga akhir nyawa.


Bagiku, Ruang Daha adalah ruang dimana aku melihat kisah cinta paling romantis di muka bumi ini, aku melihat bagaimana sabarnya mereka saat merawat pasangannya yang lemah tak berdaya, aku melihat betapa besar harapan mereka agar pasangannya kembali sehat dan bahagia, aku melihat betapa kesetiaan cinta hingga akhir tarikan napas itu nyata. Bukan hanya pelajaran bagaimana cara merawat pasien, menggunakan alat kesehatan yang begitu banyak, menghitung dan menyiapkan dosis obat, Namun, di ruangan inilah aku mengerti apa itu makna cinta.

Komentar