Rama dan Sinta, Ungkapan Cinta dan Kesetiaan Tanpa Kata

RAMA dan SINTA

UNGKAPAN CINTA DAN KESETIAAN TANPA KATA




Usai belajar melakonkan kisah Gatot Kaca dan Buta Kala, aku tidak berhenti belajar menari. Beberapa minggu setelah acara orientasi mahasiswa baru, aku dan putri temanku menari diminta untuk menarikan kisah Rama dan Sinta sebagai persembahan acara sumpah profesi ners. 


Aku yang baru belajar kemarin sore pun mau tidak mau belajar lagi, tari, dengan gerakan yang lebih halus “yang kemarin aja aku kaku banget kaya wayang, apalagi yang halus kaya gini, hadeh” batinku, Meskipun sekarang aku sudah terhitung menari Rama Sinta 3 kali. Berkat Putri yang tidak pernah lelah mengajarkan gerakan tari bersama Mbak Eka, yang memang multitalenta dalam segala jenis tari.

Setiap sore kami belajar di depan auditorium kampus, membawa sampur dan membawa botol minum (starter pack anak tari anyway). Kami mencari beberapa referensi tarian yang sekiranya tidak terlalu panjang namun tidak terlalu pendek juga untuk ditampilkan sebagai persembahan pada acara itu. Ketemulah kami pada salah satu tarian karonsih atau sebutan untuk tarian yang dilakukan berpasangan. Mbak Eka sebagai eksekutor gerakan bersama Putri, kalau aku mah, ngikut aja apa kata mereka.

Awal gerakan aku merasa ada hal yang aneh pada gerakan tarian Rama dan Sinta itu. Pada umumnya kita sudah sama tahu lah kalau Rama dan Sinta adalah salah satu couple goals yang selalu diharapkan “kapalnya” berlabuh, Aku yang tidak pernah merasakan adegan romantis bingung “Kenapa dari awal gerakan pertama si Rama ini selalu ngintil dan nggrundel terus ke Sinta? Bikin risih ga sih?”. Tentu aku bakalan awkward dong kalau bakalan kaya gitu di depan orang, notabene aku gak pernah ngintil atau deketin orang yang aku suka. Aku pun tanya ke Mbak Eka “Mbak! ini kok si Rama di video ngikut terus ke Sinta ya? Bikin risih ga sih?” “Oalah ta…. Namanya juga orang jatuh cinta, ya pasti ngikut, ngintil, caper kan pastinya, kaya ga pernah aja” “Lhah emang iya mbak, hehe”.


Setelah diskusi singkat itu, kami mulai mencoba gerakan yang kami lihat dari video tersebut. Yah…. Seperti biasa, aku terlihat kaku di awal, maklum baru kali ini menari dengan genre dunia percintaan yang ga sesuai sama sekali dengan genre hidupku.


Beberapa hari kemudian, saat hari H


Kami datang ke kampus pagi-pagi sekali, sejak pukul 06.00 WIB untuk bersiap dandan dan memakai kostum. Singkat cerita kami sudah selesai dandan, dan menuju ke gedung acara.


Saat kami mulai menari sambil mempelajari gerakan aku mulai paham, tarian ini lebih halus, dan sangat lembut. Ya,  bahkan jika aku terlalu cepat dalam menggerakan tubuh, Mbak Eka sudah memarahiku dengan nada emak-emaknya. Aku mulai paham, ternyata tarian ini memang bukan tentang perang, tapi cinta. Cinta tidak bisa dipaksakan dan tidak bisa kasar, kita harus mencarinya dengan penuh kehati-hatian dan kewaspadaan.



Bagaimana tidak, dalam tarian itu, Aku sebagai Rama terus berusaha mengejar, mendekati dan merayu Sinta, Seorang wanita yang disukainya. Sinta yang cantik tentu tidak dengan mudah memberikan cintanya, ia terus mencoba tarik ulur, menjauh, mendekat, menjauh lagi lalu ghosting, Canda ghosting wkwkwk.


Namun, karena Rama benar-benar menyukai Sinta, dalam tariannya, ia tidak berhenti mengejar dan merayu, ia terus membujuk dan merayu Sinta sampai mendapatkan cintanya. Tidak dengan memaksa, namun hanya dengan terus mengikuti dan ada disisinya. Setelah penantian yang lama, akhirnya Sinta menerima cinta dari Rama.


Saat sudah official nih ceritanya, yang awalnya HTS-an ga jelas dan resmi jadi pasangan. Mereka menari bersama, menunjukan kebahagiaan mereka kepada seluruh dunia, Seolah mereka ingin seisi dunia tahu kalau mereka adalah pasangan paling bahagia dan paling couple goals-lah ya.


Nah ada satu hal unik, setiap kami menari, Mbak Eka melarang kami berbicara kata apapun, ya, apapun saat tampil. Karena tarian ini merupakan kisah cinta yang romantis dan mungkin juga paten-nya kali ya, sehingga tidak sekalipun aku mengucapkan satu huruf saat tampil.


Namun dari situ, aku jadi bisa ambil satu pelajaran. Cintanya Rama itu ga banyak omong, tapi dia selalu berusaha jadi orang yang ada di sisi Sinta kapanpun dan bagaimanapun kondisinya. Pada kisah aslinya, Rama berjuang untuk mendapatkan cinta Sinta dengan mengikuti sayembara mengangkat busur Dewa Siwa, yang ratusan pangeran dari seluruh negeri tidak mampu mengangkatnya. Kesetiaan Sinta juga diuji ketika couple goals ini di asingkan karena intrik kerajaan, mereka berdua terpaksa hidup sederhana di hutan selama 14 tahun dan Sinta tetap setia menemani Rama. 


Kalau dilihat dari cara berhubungan gen z sekarang, yang variasinya makin banyak, ada yang HTS, ada yang unofficial, ada yang official dan ada tetek bengek lain yang intinya mereka ga pacaran tapi sama-sama suka, alias banyak chatting nya tapi ga jelas hubungannya, CETASSSSS!!! Diketawain Rama nohh!!!.


Kisah Rama dan Sinta dalam tariannya memang sederhana, namun pesannya sangat amat bermakna. Untuk membuktikan kita suka atau cinta ke seseorang, ga perlu banyak omong kalau suka sama seseorang, cukup buktikan dengan selalu ada buat dia, selalu dengerin ceritanya, dan selalu siap kalau dia butuh kamu. Karena bahasa tubuh sebenarnya lebih disuka alih-alih dan dipahami daripada omongan CINTA doang yang gede, tapi ga modal, wkwkwk, salam budaya.


Komentar