100 HARI

 


Pagi itu, Jam 06.30 pagi sudah bersiap untuk pergi ke acara wisuda kampus, aku bertugas sebagai narator pemandu keselamatan atau safety induction. Namun ku sempatkan mampir ke rumah mbah karena kemarin malam ibu bilang kalau mbah dok jatuh saat berjalan, ibuku mengira kalau itu karena tekanan darahnya rendah, mbah dok memang tidak pernah makan yang berdaging, bukan vegan, tapi memang lebih suka makan sayur-sayuran, ibuku mengira karena kurang makan daging atau protein tinggi tekanan darahnya menjadi rendah sehingga mungkin pusing dan jatuh saat berjalan.


Sebenarnya tidak saat itu saja mbah dok terjatuh saat jalan, minggu-minggu itu mbah dok memang sering terjatuh, entah karena alasan pusing, tersandung atau tiba-tiba kakinya lemas. Mungkin faktor usia juga, yang sudah menginjak kepala 7 tidak menutup kemungkinan beberapa fungsi sendi dan ototnya melemah. Namun mbah dok bukan tipe lansia yang suka bermalas-malasan di rumah, beliau sangat aktif, di usia itu mbah dok masih sering ke sawah merawat ladangnya, rutin setiap pagi hingga tengah hari.




 



Saat itu aku sudah bersiap datang ke rumah mbah, membawa beberapa baju ganti, karena agendanya setelah bertugas di kampus, sore aku akan mengisi sebuah acara pengajian di kota dan aku secara khusus diundang oleh tuan rumah yang memiliki hajat. Tak lupa aku membawa tas merah yang berisi peralatan medis yang aku dapat dari kampus, tentu, tujuanku untuk mengecek tekanan darah dan kesehatan mbah sebisaku. Sebetulnya tidak hanya saat itu saja aku mengecek tekanan darah mbah, tapi juga kadang satu bulan sekali atau seminggu sekali.


Langit pagi itu cerah, tidak terlalu panas dan tidak mendung, awan-awan terlukis sempurna di langit yang sangat biru merata. Aku sampai di rumah mbah yang hanya 5 menit berjalan kaki dan 3 menit dengan motor. Betapa terkejutnya aku…


Ketika aku sampai, mbah sudah dibopong oleh bibi dan pakde ku. Wajah bibi penuh cemas sambil mengangkat tubuh kecil nan kurus mbah dok, Mbah di bopong dari ladang yang tidak jauh dari rumah. Aku pun cepat-cepat masuk rumah dan membantu memindahkannya ke tempat tidurnya. Langsung kubuka tas merahku, kuambil stetoskop, aku cek pernapasan mbah dok dan nihil. Kupasangkan stetoskop ke telingaku, kucari denyut jantungnya, ku raba nadinya, nihil. Bibi sudah panik menanyakan bagaimana kondisi mbah dok, aku pun masih bingung, apakah alatku yang salah? apakah alatku rusak? apakah aku memang benar-benar tidak merasakan denyut nadi dan jantungnya. Tidak menyerah disitu, aku buka pakaian mbah dok, kupikir mungkin beliau merasa sesak sehingga tidak tampak napas, beliau mungkin pagi itu cukup kedinginan, ada 3 lapis pakaian yang dikenakan mbah, kubuka satu per satu, hingga tersisa selapis baju, kubuka kaus kakinya, aku mencoba menyadarkan mbah dok dengan kucubit kakinya, kuberi respon rasa sakit, namun tetap nihil. Sekali lagi ku pakai stetoskop, kucari denyut jantungnya untuk berkali-kali, memastikan bahwa kehidupan itu masih ada, tidak puas menggunakan stetoskop, kulepas stetoskop, kudekatkan telingaku ke dada mbah, namun nihil. Aku berinisiatif menelpon bibiku yang berprofesi sebagai bidan, memintanya untuk datang ke rumah mbah segera saat itu juga, aku bilang kalau mbah hilang kesadaran baru saja. Tidak lama kemudian bibi datang membawa peralatannya, dengan wajah penuh cemas, kutuntun bibi ke tempat tidur mbah, ku bantu seadanya mengambil alat-alatnya, beliau mulai mengeluarkan stetoskopnya, beliau memanggil-manggil mbah dok “mbah…mbah…” beliau juga memberikan rangsangan rasa sakit, namun nihil, ku ambilkan senterku cek apakah mata mbah masih merespon, namun nihil, sekali lagi, NIHIL. Bibi pun menyimpulkan dan memutuskan “Ta, mbah dok sudah pergi, sudah tidak ada”.


Aku diam, tidak berkutik, menarik napas dalam, memegang tangan mbah yang sudah dingin, pagi itu sangat sunyi, hembusan angin yang lembut dan sejuk masuk kedalam rumah, suara burung dan ayam terdengar di luar. Bibiku mondar-mandir bingung tanpa arah, setelah kehilangan mbah dok yang sudah ia rawat bertahun-tahun.


Tak banyak bingung, ku ambil hp ku, kuhubungi adik ponakanku yang tinggal bersebelahan dengan rumahku “Shin, mbah dok sudah meninggal, kamu kesini sekarang sama bulek ya” ia terkejut bukan main, saat mengangkat telfon ku ia masih tidur, ketika kabar duka itu datang, ngantuknya seketika itu hilang. Tidak lama kemudian ia datang bersama bulek/mamanya, kusambut mereka di depan rumah, kuberi isyarat menggeleng kepala, sambil dalam hatiku menyampaikan “mbah dok sudah tidak ada, ia sudah pergi”. Aku kembali menemani mbah di ranjangnya, aku masih bingung dan tidak percaya, aku datang untuk mengharapkan kondisi mbah baik-baik saja, namun tidak mengira ia pergi tepat didepan mataku, dihadapanku, tanpa meninggalkan pesan apapun. Bibiku yang masih disitu bilang “Yang sabar le, kalau nangis jangan sampai menetes ke jasadnya mbah, didoakan saja” di saat itu juga air mataku baru tumpah, aku menangis sejadi-jadinya, yang awalnya aku berusaha menguatkan diri untuk tidak menangis karena aku harus menghubungi seluruh anggota keluarga. Kutinggalkan hp ku sebentar untuk menangisi kepergian mbah, sembari menali tangan, kaki dan kepalanya dengan kain kerudung seadanya. Adik ponakanku yang tadinya bingung dan tidak mau apa, mendengar dan melihatku menangis ia pun ikut menangis sejadi-jadinya, kenangannya bersama mbah dok sangat banyak. 


Mata yang masih sembab dengan air mata ini, aku sadar bahwa semua anggota keluarga harus dikabari, aku meminta tolong bibi untuk mencari ibuku yang sedang bekerja di lahan orang, yang aku pun juga tidak tahu dimana tempatnya, dan ibu memang tidak pernah membawa ponsel ketika ke ladang. Bibi langsung berangkat mencari keberadaan ibu. Aku menghubungi paman dan bibiku yang tinggal berbeda kecamatan namun masih dalam satu kota. Kukabari kakakku yang sudah berumah tangga dan tinggal bersama istrinya. Meskipun kondisi hatiku sedang sangat hancur, aku tidak lupa untuk menghubungi pihak kampus, bahwa aku tidak bisa bertugas hari itu karena sedang berduka, kukabari budeku selaku ketua jamaah pengajian yang ada di kota menyampaikan permohonan maaf karena tidak bisa mengisi acara sore itu karena kepergian mbah dok. Aku meminta tolong bibi ku yang tinggal serumah dengan mbah untuk segera mengabari pak de-pak de ku yang memang menjadi pengurus beberapa musholla di lingkungan desa untuk menyiarkan kematian mbah dok. Aku meminta adik ponakanku untuk mengabari modin yang bertugas sebagai pengurus jenazah.


Setelah semua selesai, aku pergi ke ruang tamu, segera membereskan kursi dan meja, meskipun rasa sedih dan terkejut masih menyelimuti, aku sadar, kepergian mbah harus dipersiapkan sebaik mungkin. Namun sudah banyak tetangga berdatangan membantu, aku pun kembali duduk disamping mbah dok yang sudah tidak bernyawa. Kupegang tangannya, kupandang wajahnya, sambil menangis penuh isak. Tak lama kemudian, ibu datang. Ibu adalah salah satu anak yang sering datang mengunjungi mbah, kemarin bahkan baru saja ibu datang untuk memapahnya sehabis jatuh, ibu adalah orang yang paling tahu kondisi kesehatan mbah. Ibu masih berpakaian berantakan dan memakai sepatu boot dan mengenakan caping, dengan lemas, ibu melepas semua atributnya, penuh isak mendekati jenazah mbah dok yang berada di sampingku, ia peluk mbah, ia menangis dan sembari berkata “maafkan aku ya mak, maafkan anakmu ini, mohon maaf sebanyak-banyaknya nggeh mak…” aku pun menangis semakin jadi. 


Orang-orang mulai berdatangan, pagi yang tadinya sunyi hanya bersuarakan burung, ayam dan kucing, sekarang riuh penuh tangis isak, dan orang-orang riuh mempersiapkan segalanya untuk mengantar kepergian mbah.


Aku tetap disamping mbah, tidak pergi, tidak kemanapun, kakiku lemas, sangat amat lemas, untuk berdiri saja tidak kuat, wajahku kosong, mataku sembab, masih tidak menyangka, mbah pergi secepat ini, dan setiba-tiba ini.


Singkat cerita tempat memandikan sudah siap, semua anggota keluarga sudah datang, aku, pak de dan mas keponakan segera mengangkat mbah dan memangkunya untuk dimandikan. Aku tidak pernah memangku mbah, untuk pertama dan terakhir kalinya mbah aku pangku sambil kumandikan. Setelah selesai mbah segera dibawa masuk dan dikafani. Setelah memandikan aku masuk kedalam rumah, bajuku basah semua, dan aku langsung mengganti baju dengan busana putih dan bersarung, baju itu sebetulnya kupersiapkan untuk mengisi pengajian di rumah orang nanti sore, namun tidak disangka, ternyata baju itu kupersiapkan untuk mengantar kepergian mbah hari itu juga.


Saat di sholatkan aku tidak ketinggalan jamaah, karena masih ganti baju dan menenangkan diri, aku menyolatkan mbah sendirian, setelah sholat aku duduk di kerandanya sendirian menunggu segalanya siap, kupandangi keranda itu, ku benahi bunga yang mengalung ke keranda, tangisku sudah tidak separah sebelumnya, namun aku masih merasakan kesedihannya.



Semua sudah siap, keranda sudah siap diberangkatkan, kami berjalan mengantar mbah ke liang lahat, jarak rumah mbah ke pemakaman tidak jauh, hanya 10 menit berjalan kaki. Sesampai disana kami makamkan mbah dok dengan penuh rasa kehilangan, tidak siap? memang, tidak ada yang pernah siap kehilangan orang yang dicintai dan disayanginya, tepat didepan mata dan tiba-tiba.


Aku hidup dan tinggal serumah bersama mbah dok belasan tahun, semenjak ditinggal ibu pergi merantau ke negeri orang, mbah dok lah yang merawatku dari mengantar sekolah, memberi makan, mengajari ngaji, mengajak untuk merawat mushola peninggalan kakek buyut, mengurus kerewelanku ketika sering ditinggal pergi oleh ayah, bahkan mengurusku ketika aku masih mengompol waktu itu. Aku tidak bisa menceritakan semua kenanganku bersama mbah di blog ini, semua kenangan tentang mbah syukurnya telah kutuliskan dalam novel berjudul “Akbar Sang Pemimpi”.



Mbah dok bukanlah orang yang hebat, bukan orang besar, bukan pula orang yang disegani di masyarakat. Ia hanyalah lansia pada umumnya, senantiasa bangun pukul 04.00 pagi sebelum matahari terbit, pergi ke sawah untuk memenuhi kebutuhan rumah, kadang membantu tetangga dengan tanaman-tanaman yang ia tanam, membersihkan musholla warisan kakek moyang, merawat kucing-kucing kesayangannya dan pergi ke pengajian tiap selasa siang bersama para lansia lain. Ketika konflik dalam keluarga, semenjak mbah kung masih ada, mereka berdua berprinsip “ngalah” atau lebih memilih mengalah, dalam hal apapun, tidak terkecuali masalah harta benda dan warisan. 


Tidak ada yang luar biasa dari hidup mbah dok, tapi pelajaran paling penting yang dapat kuambil dari hidup mbah dok adalah, konsisten. Tidak sekalipun beliau meninggalkan pengajian rutin selasa siang itu, tidak sekalipun ia meninggalkan sawah warisan nenek moyang, tidak sekalipun pernah dijual dan hanya terus dirawat hingga akhir hayatnya, karena beliau sadar, ini warisan, bukan untuk dijual dan demi kesenangan pribadi, namun untuk dilestarikan dan dijadikan ladang mencari penghidupan bagi banyak orang. Tidak sekalipun beliau meninggalkan sholatnya, bahkan karena faktor usia mbah dok pernah sholat berkali-kali karena ia takut meninggalkan sholat padahal sudah ia lakukan, dan hanya lupa. Meskipun tidak cukup kaya, mbah dok adalah orang yang sangat dermawan, setiap ada tadarus di bulan Ramadhan beliau pasti ikut menyajikan makanan dan minuman sederhana yang ia buat sendiri, hampir tiap hari. Tidak sekalipun ia meninggalkan puasa Senin-Kamis dan hanya berbuka dengan makanan hasil panennya sendiri sayur- mayur sederhana. 


Sekarang rumah yang selalu kami juluki “rumah mbah dok” sudah kehilangan pemiliknya, namun dihatiku, rumah itu tetaplah mbah dok, tempat dimana mbah dok dan aku pernah hidup bersama. Sudah 100 hari sejak kepergiannya, namun mbah dok tetap berada dalam hati kecilku, jika tidak bisa bertemu di mimpi, semoga mbah dok bisa bertemu denganku di surga nanti, aamiin, salam.

Komentar