Ceritaku Menari dan Menjadi Gatot Kaca Untuk Pertama Kalinya, Tampil Bersama Rektor

Hai, lama nggak ketemu, lama banget aku nggak nulis blog, dan sebenernya aku sibuk akhir-akhir ini sama urusan kuliah, kerja plus beberapa kejadian drama kehidupan yang datangnya tiba-tiba perginya gak bilang-bilang.


Kali ini aku bakal ceritain pengalaman aku nari tradisional untuk pertama kalinya sebagai orang yang gerak aja mager, tentu ini sebuah pencapaian dan of course ini pengalaman yang mengubah hidupku lebih ngerti soal seni dan lebih mencintai seni.


Malam itu, seperti biasa, hidup di desa, penuh ketenangan, minim suara motor dikejutkan oleh notifikasi WA “Mak Klunthing” teman perempuanku, menghubungi melalui pesan WhatsApp, Putri namanya:

 

“Tan, aku minta tolong boleh nggak?” 

Aku: “Minta tolong apa? asal nggak ngutang aku bisa nolong” 

Putri: “Nggak lah, Ini kita disuruh nampilin tari buat PKKMB kampus kita buat persembahan ke mahasiswa baru” 

Aku: “Hah? Tari!? Terus hubungannya sama aku apa? kan aku nggak bisa nari” Putri: “Nah itu dia, kita udah nyari nyari pemeran buat kisah tari kita nanti, kan kita tampilnya sama rektor” Aku “Hah!? Serius? Sama Rektor? REKTOR!!!?? Beneran Rektor? Buat apa beliau nari!?” 

Putri: “Ih, nggak gitu, maksudnya tuh gini, Jadi Rektor mau ngasih persembahan juga, Beliau mau jadi dalang dalam sebuah lakon wayang gitu, nah lakonnya itu Gatot Kaca musuh Buta Kala, Nah kita tim tari bakalan jadi pasukan buat Gatot Kaca dan sebagian jadi pasukannya Buta Kala, ceritanya kita perang gitu nanti di panggung, terus sambil ada tariannya gitu” 

Aku: “Oh gitu, Terus aku jadi siapa nih ceritanya nanti?” 

Putri: “Ya kamu jadi Gatot Kaca-nya” 

Aku: “Hah!? Ga salah? Aku krempeng lo, ya kalau tinggi sih iya, tapi otot aja aku nggak punya, soalnya yang aku latih otak, heheheh” 

Putri: “Udah, nggak masalah, soalnya kita nyari-nyari nggak nemu sampai sekarang, dan kayanya kamu kandidat paling cocok” 

Aku: “Tapi aku beneran nggak pernah nari lo, aku liat Kuda Lumping aja nggak pernah” 

Putri: “Udah, gapapa, ada yang ngajarin kok, asal kamu mau aja, nanti kita latihan bareng” 

Aku: “Emmm, Bentar deh, aku pikirin dulu, Soalnya aku kuliah sambil kerja juga” 


A few minutes later


Aku: “Oke lah, aku mau, Tapi janji diajarin sampe bisa ya… aku nggak bisa nari beneran soalnya”

Putri: “Alhamdulillah, thank you banget ya tan… aman lah pokoknya, janji bakal latihan bareng sampe bisa semua”


Keesokan harinya latihan pun dimulai. Aku diajak latihan bersama dengan teman-teman Putri dari UKM Tari, Kami rutin berlatih di ruang teras Auditorium kampus, Hampir 1-2 kali dalam seminggu.


Hari pertama aku berlatih bertemu dengan teman-teman UKM Tari yang jelas, anggotanya totally cewek semua, Dan jelas aku satu-satunya cowo disitu, Malu? Oh jelas, Tapi namanya juga cari pengalaman dan relasi baru, Malu-nya disimpan dulu buat nanti.  Waktu itu aku hanya cuman ngeliatin mereka nari dan you know what? They’re so amazing mereka bener-bener talented & exciting waktu nari. Jujur aku suka liat pentas tari meskipun via Youtube, Tapi aku lebih sering liat tari yang gerakannya halus seperti tari Bedhaya dari Yogyakarta yang lebih magis. Tapi waktu lihat mereka menari, Mereka bener-bener penuh semangat, apalagi musiknya menggelegar, diwaktu yang sama aku juga mikir “Nah, kalau mereka aja power-nya kaya gini, Aku harus lebih powerful dong ya, Selain peranku jadi Gatot aku juga cowok, nah masalahnya aku bisa nggak nih!”


Giliran aku berlatih tiba, Waktu itu aku dilatih oleh kakak tingkat, Mbak Eka sapaan akrabnya. Perawakannya sedikit berisi, berkacamata, dengan rambut panjang sering dikuncir kuda, Tariannya yang paling powerful di antara penari-penari lain. Waktu diajari gerakan dasar pertama, Oh jelas, gerakanku membuat diriku sendiri tertawa, Yang seharusnya tangan kanan maju kaki kiri maju, aku malah mbagong nggak karuan karena bingung, Tentu gerakanku mengundang gelak tawa teman-teman penari lainnya, Tapi meskipun aku ditertawai aku nggak ngerasa malu, Toh mereka juga ikut membantu bagaimana cara bergeraknya agar sinkron antara kaki dan tangan. Memang sulit awalnya, Bahkan Mbak Eka bisa dibilang kesabarannya setebal tembok Berlin ketika mengajariku. Uniknya, Ketika mbak Eka yang mengajariku menari, peranku sebagai Gatotkaca yang gerakan dan pembawaannya harus gagah, malah lebih gagah mbak Eka daripada aku, Mungkin karena ia sudah lama bergelut dengan dunia tari kali ya.


Singkat cerita, kami butuh pemeran tambahan, tentu, bagaimana mungkin bisa lakon dengan jalan cerita peperangan antara Gatotkaca dengan Buto tapi Buto-nya malah tidak ada. Untungnya dalam waktu dekat kami sudah menemukan pemeran yang cocok, Kebetulan ia adalah teman dekatku sendiri, Amir namanya, Perawakannya gagah, besar dan gempal, gerakannya juga lincah, Memang cocok untuk dijadikan Buto. Akhirnya, aku jadi ada teman, Tidak menjadi Adam di antara para Hawa, wkwkwk.


Kami pun sering berlatih bersama, mulai dari gerakan awal pembukaan, Inti peperangan hingga gerakan penutup, kami terus berlatih sehari hampir 2-3 kali, seperti minum obat, anggap saja itu olahraga, toh aku juga suka. Tantangannya jelas, mensinkronisasi bagaimana antara satu penari dengan penari lain agar gerakannya kompak, sama dan timing-nya pas, Apalagi kami, Gatotkaca dan Buto menjadi pusat perhatian dan patokan dari setiap gerakan, Tentu menjadi tantangan bagi kami semua, Khususnya aku yang kadang Nggladur gerakannya karena lupa.


Setelah berlatih berminggu-minggu, Akhirnya hari penampilan tiba. Biar kita tahu gimana konsep tari kita nanti, aku ceritain singkatnya aja.


Jadi ada dua tim nih, Aku Gatotkaca punya pasukan sendiri, Masing-masing 5-7 orang penari wanita, Nah pasukan Gatotkaca ini dipimpin sama mbak Eka sebagai jenderal tertinggi ceritanya. Lalu di kubu lain Amir yang berperan sebagai Buto memimpin sekelompok pasukan dengan temanku Putri disisinya. So, Jadi sudah jelas ya disini, Siapa yang berperan sebagai antagonis dan protagonis-nya.

Kami tampil saat setelah sidang senat terbuka untuk pengukuhan mahasiswa baru di kampus kami usai. Kami tampil sebagai persembahan utama untuk mahasiswa-mahasiswi baru, Bersama dengan Rektor yang berperan menjadi dalang dalam lakon cerita ini.


Ada satu kejadian unik dan juga terjadi pada saat kami tampil. Panggung yang kami gunakan sebagai tempat menampilkan tarian adalah panggung yang sama yang digunakan Rektor dan jajaran pimpinan untuk membuka sidang senat terbuka ini, Mejanya dipasangi taplak berwarna merah dengan paku payung di setiap sisi-nya, Ini penting, tolong diingat, Paku payung di setiap sisi mejanya. Saat mahasiswa baru selesai dikukuhkan, Semua jajaran pimpinan meninggalkan panggung, Lalu meja dan kursi tempat beliau-beliau duduk dipindahkan dari atas panggung, Semuanya, termasuk meja tersebut. Lalu diganti dengan meja dan kursi kecil untuk tempat duduk Rektor yang berperan sebagai dalang.


Urutan penampilannya seperti ini, Ketika dalang mulai menceritakan kisahnya, Tentang kelahiran Gatotkaca hingga tumbuh kembangnya menjadi lelaki dewasa dan bertemu dengan Buto, Aku dan temanku Amir yang berperan sebagai Buto keluar dari sisi kanan dan kiri panggung bertemu di tengah panggung. Ketika ada aba-aba dari dalang untuk bertarung, Kami berdua pun langsung bertarung meskipun sebentar, Adegan itu hanya untuk mengenalkan atau istilahnya disclaimer bahwa tarian ini akan menceritakan tentang Gatotkaca yang berperang melawan Bhuta Kala.

Setelah pertarungan kecil tadi usai, Barulah persiapan untuk gerakan tarian utama bersama seluruh pasukan berkuda (kuda lumping anyway) yang terdiri dari semua penari perempuan, aku di sisi kanan panggung bersama pasukanku  dan Amir sebagai Buto di sisi kiri panggung bersama pasukannya, termasuk Putri temanku yang berperan sebagai pasukannya Buto.

Lampu dimatikan, musik diputar, dan kepulan asap buatan mulai dikeluarkan. Sebagai permulaan, Aku masuk dari sisi kanan panggung sambil melompat seolah-olah terbang, Karena Gatotkaca memiliki kekuatan terbang. Ketika aku keluar dari pintu masuk, Tidak terjadi apapun, Sama sekali. Bahkan aku lancar saja menari di depan penonton. Aku keluar disusul oleh pasukan-pasukan penari yang berada di belakangku disambut riuh penonton.


Setelah itu keluarlah Buto dan pasukannya yang muncul dari sisi lainnya bersama pasukannya. Sebelum kami saling bertarung, penari perempuan yang terdiri dari pasukan Buto dan pasukan Gatot menari dengan sangat gagah dan penuh gairah, pasukanku membawa panah sedangkan pasukan Buto membawa jaranan. 

Setelah menari beberapa saat aku pun masuk untuk memamerkan kekuatan lalu menepi dan menari menunggu keluarnya Buto yang muncul diantara pasukan berkudanya yang gagah melindungi sang Buto, Mulailah pertarungan yang intens. Pasukan Buto menyerang terlebih dahulu, pasukanku pun melindungi diri dan menyerang balik. Saat pasukan sudah mulai melemah, baru kami bertarung one by one, Singkat cerita peperangan dimenangkan olehku sebagai Gatotkaca, Buto dan pasukannya mati terkapar (Ceritanya).


Lalu dimana letak magisnya? dan mana kejadian unik itu?


Kalian ingat dengan meja yang digunakan para pimpinan dan rektor tadi yang sudah dipindah? kalian ingat kan kalau meja itu dipasang taplak dengan dipaku?


Salah satu temanku, yaitu Putri, yang notabene adalah pasukan dari Buto, saat selesai menari, kakinya tertancap oleh paku payung yang entah datang dari mana.


Begini, sebenarnya jika membicarakan masalah timing, seharusnya yang kena paku duluan adalah aku, sebagai Gatotkaca, kenapa? Karena aku keluar dari pintu yang sama dengan Putri dan aku melewati jalannya Putri sebagai pasukan Buto, Kami berdua melewati jalan yang sama, Namun, anehnya paku payung itu malah mengenai Putri.


Jadi Putri sudah tertancap paku di telapak kakinya sejak awal menari dan mau tidak mau harus ia tahan hingga penampilan selesai yang mana penampilan itu tadi cukup lama, karena jalan ceritanya panjang, kurang lebih 10 menit. Ia menahan sakit hingga selama itu. Namun ia tetap berusaha profesional.


Setelah penampilan selesai barulah ia jatuh kesakitan dan tidak bisa jalan, teman-teman langsung menggendongnya dan dibawa ke rumah sakit kampus kami. Singkatnya ia sudah mendapat perawatan, paku dari kakinya sudah dicabut dan keadaannya sudah membaik.


Setelah penampilan, malamnya kami meramaikan grup Whatsapp para penari, kami membahas segala hal tentang penampilan tadi pagi, mulai dari yang ngerasa gerakannya salah, gerakanku yang kaku kaya kanebo kering, timingnya yang kurang pas dan….. kejadian paku payung tadi. Gimana mungkin malah si Putri yang kena paku padahal jalan masuk kita sama dan aku keluar duluan dibanding dia? Kami pun menganalisa sendiri, Kalau sebenarnya alam mendukung penampilan kita dengan benar-benar mendukung penampilan tadi. Begini, pasukanku, Gatotkaca ceritanya adalah sebagai pemeran protagonis, Putri tidak termasuk dalam pasukanku. Pasukan Amir sebagai Buto berperan sebagai pasukan yang jahat atau antagonis. Mungkin alam mendukung untuk kekalahan dari pasukan Buto, sesuai dengan jalan cerita yang sudah disusun dan di skenariokan, bahwa pasukan Buto harus kalah. Bahkan setelah di ulik cukup lama di grup Whatsapp malam itu,, Ternyata pasukan Buto yang terluka tidak hanya Putri, termasuk Amir sebagai Buto, katanya punggungnya tergores aksesoris penari yang tajam hingga memerah, ada pasukan lain selain Putri, Angger namanya juga tergores di bagian tangannya oleh aksesoris pasukanku. Sedangkan, pasukanku sebagai Gatotkaca, tidak satupun dari mereka terluka, bener-bener kejadian yang membuatku “wah semagis dan sekeren ini penampilan kita”.


Begitulah ceritaku pengalaman pertama menari dengan tarian yang sulit dan jalan cerita yang sangat menarik dengan kejadian-kejadian yang cukup sulit dinalar oleh manusia, semoga tulisan ini menghibur kalian dan see you di cerita selanjutnya, Terima kasih banyak buat Mbak Eka, Putri dan semua teman-teman crew penari waktu itu yang sudah banyak membantuku belajar hal baru, Salam Tan. 


Komentar