KISAH SANG BAPAK, ANAK DAN MIE KUAH 5 RIBU



Baru saja terjadi, Siang itu aku diiingatkan oleh Tuhan, betapa aku harus banyak bersyukur kepada-Nya. Warung kami yang menjadi tempat strategis bagi semua kalangan berkumpul untuk sekedar menyesap kopi, bekerja, bercengkrama atau bahkan berbisnis.


Waktu itu sepertinya jam makan siang, kami kedatangan begitu banyak pelanggan, ibu-ibu dengan gaya berpakaiannya yang ramai dan khas, menenteng tas ransel kecil sambil menggandeng anak-anaknya yang sepertinya baru pulang menjemput dari taman kanak-kanak serombongan datang dan makan siang di warung kami, aku bersama rekan kerjaku cukup keteteran dengan pesanan makanan dan minuman yang tiba-tiba menumpuk. Dengan tenang dan sigap segera kami selesaikan pesanan itu satu demi satu pesanan selesai. Akhirnya, aku bisa duduk sambil melepas dahaga di siang yang panas itu dengan segelas air putih.


Saat itu karena lama menahan kencing, aku langsung ke belakang untuk mengosongkan kandung kemihku yang tertahan tadi. Sekembalinya aku dari toilet, kasir mendatangiku dengan wajah sedih “Mas, ini tadi ada yang pesan mie tapi uangnya cuman 5 ribu…”

“Lhoh, kok bisa kamu terima? kan ini gak sesuai harganya, kenapa kamu terima?”

“Itu mas, orang yang duduk didepan sama anak perempuan” sambil menunjuk ke meja dekat dapur “Kenapa mereka? Yang pesan mie?” dengan gugup kasir menjawab “Iya mas, mereka kadang datang kesini meminta uang sekedarnya” “Terus? udah kamu kasih?” “Iya mas, udah tak kasih 2 ribu, tapi tadi langsung dibelikan mie tapi uangnya cuman 5 ribu” “Terus gimana?” “Entah anak atau cucu nya si bapak itu tadi agak mengeluh kok lama banget pesenannya?” “Lhoh ya maklum dong, kan antri, toh mereka juga cuman bayar 5 ribu! Terus gimana? udah dimasakin?” rekan waitersku menjawab “Sudah mas, ini sudah jadi tinggal di antar” “Yaudah, antar sana!” aku sambil agak sebal masuk ke dapur, setelah serangan pesanan makan siang yang begitu banyak aku sepertinya agak lelah dengan complain dan lain sebagainya itu.


Sesaat aku berpikir, sambil duduk disebelah kulkas, menenggak air putih untuk mendinginkan badan dan tenggorakanku, aku berpikir jernih, melihat ke sisi luar, pemandangan yang mengharukan, si bapak yang berpakaian lusuh seadanya, membawa kecrekan untuk mengamen memandangi anaknya makan semangkuk mie kuah hangat sambil mengelap wajahnya yang belepotan dengan kuah, si adik juga terlihat sangat lahap memakan mie itu, tangannya yang kecil menyuapkan sedikit demi sedikit mie itu ke mulutnya. Sesekali sang bapak memberikan minum si anak dengan air mineral yang mereka bawa dari tadi. Sang bapak benar-benar tidak mengambil sedikitpun mie yang ia pesan dan dimakan anaknya, menyicip pun tidak, dalam hati aku berkata “Kenapa kok si bapak tidak sekalian makan saja? apa dia tidak lapar juga?” aku langsung memalingkan pandanganku dan berpikir kembali apa yang telah kulakukan tadi saat berbicara dengan kasir “Kok jahat banget ya aku, mungkin saja si bapak lapar, namun uang yang ia punya hanya itu saja, atau mungkin jika ada uang pun itu ia hemat agar bisa makan nanti, Lalu mungkin juga anak perempuannya yang kesal karena pesanannya belum juga sampai karena ia benar-benar lapar, belum makan dari pagi, ya Allah, betapa jahatnya sikapku kepada mereka” tak menunggu lama, sambil menyiapkan pesanan lain, kuambil piring dan kusiapkan nasi dengan lauk telur dan tempe lengkap dengan sambal dan lalapan khusus kusiapkan untuk si bapak, ku panggil rekan waiters ku “Mas, minta tolong ya, ini sampean anter ke bapak yang itu, yang tadi pesen mie rebus, sampean kasihkan saja” “Oke mas”. Sesampai sepiring nasi lauk telur dan tempe itu ke sang bapak, aku melihat pemandangan mengharukan lagi, telur dadar itu langsung diberikan ke sang anak, bukan langsung ia makan sendiri. Sang anak langsung bergembira bisa makan mie kuah hangat dengan telur dadar yang mungkin kesukaannya, karena wajahnya kulihat langsung sumringah ketika diberi telur oleh sang bapak. Sang bapak pun langsung makan nasi yang tinggal dengan tempe dan sambal dengan sedikit lalapan itu, Mereka pun makan dengan lahap.


Selesai makan, piring dan mangkuk yang ada di meja bersih dari sisa makanan, mereka pulang tetapi tidak lupa pamit kepada kami sang bapak mendekat ke area dapur kami yang memiliki jendela lebar terbuka, sambil berjalan sang bapak dengan ringkih mengucapkan “Mas mbak, maturnuwun nggeh” lalu pergi melanjutkan perjalanan yang entah akan berakhir dimana bersama putri kecilnya yang berpakaian kurang rapi. Aku tidak bisa membalas ucapan terima kasih sang bapak tadi, aku terlalu sungkan untuk menatap mereka, aku malu.


Hal ini menjadi pengingat bagiku, untuk tidak berburuk sangka kepada siapapun, mencintai sesama manusia bagaimanapun keadaannya, acuh kepada saudara kita yang ada di depan mata kita, kelaparan, nelangsa menunggu pertolongan, semoga Allah menjadikanku dan kalian orang-orang baik diluar sana kaya raya, dan selalu bersyukur agak selalu bisa membantu sesama, AAMIIN.

Komentar