Tahun ini, usiaku sudah mencapai dua puluh dua tahun, usia yang masih muda tapi dituntut oleh alur kehidupan untuk menjadi dewasa. Bukannya tidak mau menjadi lelaki dewasa, tetapi, menjadi lelaki dewasa bukan seperti bayanganku nyatanya, yang bebas melakukan dosa dan melanggar norma manusia, tetapi harus sadar akan tanggung jawabnya, pada diriku sendiri maupun keluarga.
Usia dua puluh dua, kualami berbagai drama, bukan masalah tentang cinta, tetapi arti dari kata “setia”. Menjadi semakin dewasa ternyata semakin tahu akan arti kata “persahabatan” sesungguhnya. Tidak ada yang benar-benar menjadi teman, yang ada hanyalah lawan, lawan di dalam selimut atau lawan didepan mata, semua kuhadapi dengan hati gembira, meskipun kadang nelangsa, kenapa aku harus yang menerima? oh mungkin ini caranya untuk mendewasakanku atas realitas hidup yang penuh dusta. Karena mental sekuat baja, sendiri pun tidak apa, karena tidak pernah ada serigala berbulu domba pada diriku, Serigala tetaplah serigala, berjalan sendiri dan fokus pada mimpi.
Usia dua puluh dua, terasa berat namun selalu ingat, ada ibu yang selalu memberi nasi hangat. Tidak peduli dunia berkata apa, jika ibu mendukungku, terserah jika dunia membenciku, karena ibuku tidak. Ujian yang aku dan ibuku hadapi, yang hampir saja mengorbankan mimpiku yang tinggi, bingung mencari kesana dan kemari, bahkan hingga terbawa mimpi, hanya tuhan yang bantu kami lewat tangan-tangan suci yang hatinya bersih dan penuh empati. Mulai hari ini aku bersaksi, siapapun bisa hancurkan tubuhku, tapi tidak dengan tekadku, sampai titik darah penghabisan pun mimpiku harus tercapai dulu, ibuku harus bangga dulu, ayahku dikubur harus tenang dulu, baru aku bisa rela melepas nyawaku, dan semoga tuhan merestuiku.
Usia dua puluh dua, baru sedikit perjuangan yang kualami, masih panjang jalan terjal yang harus kulalui, lelah itu pasti, tapi tidak sebanding dengan lelah orang-orang yang senantiasa mendukung dan selalu menepuk bahuku untuk terus maju melaju tanpa ragu. Mereka selalu berkata “Setinggi apapun posisimu, tetap ingatlah, kakimu akan terus menapak ke tanah” Hanya rasa syukur dan bangga yang tidak bisa kuungkapkan dalam praktiknya, namun hatiku selalu mendoakan orang-orang yang tidak pernah lelah membimbingku, pagi hinggakan siang, siang hinggakan sore, sore hinggakan malam, semoga tuhan senantiasa memberi keberkahan.
Usia dua puluh dua, dibilang muda iya, dibilang tua iya juga, tetapi semoga aku akan bisa terus bermanfaat dengan baik bagi orang-orang baik diluar sana, Aamiin.
Komentar
Posting Komentar