Mirisnya Indonesia, Pejabat Boomer kayanya Luar Biasa, Gen Z "terpaksa" Bahagia dengan gaji ratusan ribuannya
Mirisnya Indonesia, Pejabat Boomer kayanya Luar Biasa, Gen Z "terpaksa" Bahagia dengan gaji ratusan ribuannya
80 tahun Indonesia merdeka, namun belum juga selesai dari pelbagai masalah yang selalu itu-itu saja, korupsi, kolusi, nepotisme, ketidakadilan hukum, kesewenang-wenangan pejabat dan keluarga-nya, kemiskinan, pengangguran, kebersihan, pencemaran lingkungan, pendidikan, kesehatan dan tethek bengek lainnya. Mungkin jika kita mau membuat daftar “Masalah Indonesia Selama 80 Tahun Merdeka” bisa kali ya satu perpustakaan nasional isinya?
Baru-baru ini aku dapet kerjaan jadi salah satu crew di sebuah Warung Kopi yang cukup sederhana, karyawannya masih muda-muda kurang lebih ada 20-an orang, cukup banyak memang, tapi warung kopi kami cukup besar ukurannya, bisa menampung hingga 100 orang lebih mungkin. Dalam satu shift ada 2 chef, 2 barista, 3 waiter, 1 dishwasher dan 1 kasir, ditambah aku sebagai content creator, tugasku memang tidak terlalu berat, hanya fokus membuat video dan mengenal lebih dalam semua crew yang ada di warkop itu.
Mereka kuakui adalah orang-orang yang hebat dan keren. Tapi sebelum itu mari kita sepakati dulu satu hal, Hebat tidak harus memenuhi standarisasi umumnya orang sukses seperti yang dikatakan bocil “Shaolin Soccer” yang harus ngerintis dari bayi usia setahun itu, NO, mari kita berpikir lebih waras dan dewasa. Menurutku, hebat adalah ketika kita semakin dewasa dan semakin mengerti arti dari tanggung jawab. “Tapi kan orang kaya kan juga orang hebat” oh tentu, tapi sejak kapan mereka orang-orang kaya hasil menggarong uang haram dari rakyat itu hebat? “Kan artis terkenal juga hebat?” Sejak kapan juga artis penuh sensasi jadi hebat? menurut standar siapa? Apakah hebat juga orang hamil diluar nikah yang di up lalu menjadi role model buruk, Queen of Party, bisa dikatakan hebat? Just answer it by yourself.
Teman-teman kerjaku berasal dari berbagai macam latar belakang, ada yang dari keluarga berada dan memang ingin mencari pengalaman, ada juga yang memang membutuhkan pekerjaan untuk meraih impian yang sesungguhnya, ada yang memang impiannya hanya sekedar bisa bekerja dan menghidupi dirinya sendiri bahkan ada yang ia bekerja di warung kopi itu karena agar tidak membebani orang tuanya. Macam-macam memang alasan mereka bekerja disana, kadang aku ngobrol dengan mereka, apakah ini pekerjaan pertama mereka? atau ini pekerjaan sambilan saja? Ada yang katanya ini pekerjaan sambilan karena sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, ada yang mengatakan ini pekerjaan kedua atau bahkan ketiga mereka dan ada yang bahkan mengatakan dia mungkin tidak bisa bekerja di tempat lain kecuali di warung kopi itu karena pendidikannya hanya sampai sekolah menengah pertama (SMP) saja, katanya ia tidak bisa melanjutkan ke jenjang selanjutnya karena keterbatasan ekonomi.
Meskipun rata-rata masih lulusan SMA/K angkatan tahun ini atau masih fresh graduate. Ternyata mereka ada yang sudah sambil bekerja saat masih menempuh SMA/K, bahkan pekerjaan mereka terbilang cukup sulit untuk usianya yang masih remaja, ada yang rela menjaga angkringan yang tentu buka-nya dini hari hingga petang, meskipun mereka harus pergi sekolah besok paginya. Ada yang hanya membantu orang tuanya berjualan es di pinggir jalan sambil bekerja menjaga anak orang, ada yang bahkan kerjanya memasak dan menjaga kantin yang jam kerjanya seperti rodi, lembur tiap hari dan ada satu lagi yang unik, ia adalah seorang santri yang sedang mengenyam pendidikan di salah satu pesantren kecil, ia bekerja di warung kopi itu untuk mencari tambahan uang saku sendiri, tidak ingin membebani orang tua katanya.
Hal mengejutkan lainnya adalah gaji mereka yang bahkan tidak mencapai separuh UMR di daerah itu, Namun aku sering amaze melihat mereka saat bekerja, Mereka bekerja begitu keras. Mereka tetap melayani para pengunjung dengan senyuman dan selalu memastikan semua kebutuhan pelanggan di siapkan dengan baik, makanan dan minuman disajikan dengan sempurna dan selalu bergerak secepat mungkin. Dan perlu kalian tahu, bahwa warung kopi kami tidak akan pernah tutup kecuali kiamat tiba, karena buka selama 24/7. Kami bekerja terbagi menjadi 3 shift, Pagi-Sore, Sore-Malam, Malam-Pagi, terus seperti itu hingga dajjal keluar katanya, wkwkwk, Sudah seperti IGD di Rumah Sakit, buka setiap hari setiap saat.
Beruntungnya pemilik warung kopi kami sangat baik, beliau tidak pernah membolehkan para karyawannya kelaparan, mau makan 2-3 kali saat kerja silahkan, bahkan kalau mau bungkus untuk dibawa pulang juga tidak masalah, asal mereka mau bekerja dengan jujur dan bertanggung jawab.
Ngomong-omong masalah kejujuran dan tanggung jawab, mereka adalah karyawan paling jujur yang pernah kutemui, Bagaimana tidak, absensi kehadiran kami hanya mengirimkan chat di WA Group sebatas “Hadir” saja, tidak perlu menyertakan foto kehadiran, memang terdengar kuno “Padahal kan sekarang udah ada teknologi namanya absen fingerprint” Namun itu yang menarik, mereka bahkan tidak akan berani mengirim pesan “Hadir” sebelum mereka benar-benar sampai di warung, atau malah ketika mereka telat mereka sangat profesional, mereka akan langsung menyampaikan keterlambatan beserta alasan tanpa perlu ditanya blablabla. “Apa hebatnya? Toh memang itu sudah tanggung jawab orang yang bekerja kan? absen tepat waktu” Oh tentu ini letak hebatnya, pernah dengar berita “Ratusan Anggota DPR tidak hadir pada saat sidang” Ya kita tidak tahu ya “se-sibuk” apakah mereka dengan “rakyat-nya” hingga tidak bisa datang rapat, tapi datang pun mereka paling juga hanya duduk dan bablas turu (mungkin). Tentu kita bisa lihat, Masa sekelas anggota dewan masih sering bolos kerja? mana tanggung jawabnya ya?
Padahal baru-baru ini kan mereka dapat tunjangan uang rumah yang kalau dihitung-hitung gedenya segede gaji kita nih crew warung dikalikan 4, itupun sehari, kalau kita gaji 4 bulan itu, eh kerjanya taunya cuman joget goyang kanan kiri doang, Pak..Buk…(Yang kerudung merah anyway) Enak juga ya kalian kerja becanda gaji serius, mana kita juga lagi yang bayarin kalian makan, minum sama sekolah anak-anaknya, padahal masih banyak anak-anak di daerah kita yang mau sekolah aja harus liat kondisi ekonomi.
Sungguh menyebalkan rasanya melihat pejabat boomers yang kerjanya ngandelin millenials sama Gen Z padahal sebenernya nggak becus-becus amat, sekalinya kerja bikin UU malah nggak logis bikin kondisi negeri ini makin miris, semua hukum ditangkis, paling gercep kalau soal urusan bisnis, paling lemot kalau ngurusin anak kelaparan sampe nangis, katanya pejabat tapu isinya cuman ngemis (minta tunjangan ini lah, beras lah, anak lah, jabatan, kehormatan apalah itu t*i)
Hal ini tentu menyadarkanku, Kalau tidak heran di Indonesia mereka yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin, toh mereka yang buat juga peraturan untuk memiskinkan rakyatnya sendiri, Cari pekerjaan susahnya minta ampun, sekalinya dapat kita-kita yang Gen Z mau gak mau harus kerja dengan gaji yang bahkan bagi mereka para tikus itu cuman uang ngekos sehari (tapi cuman di hotel bintang 5) Kita bahkan sudah sangat amat bersyukur dengan gaji yang tidak seberapa, Namun kami tetap rela dan ikhlas, karena ya.. kami harus memberi makan anak-cucu mereka, Tapi, Gimana kalau kita berhenti nge-gaji mereka dengan ga bayar pajak se-Indonesia? Masa kita yang bayar pajak kita pula yang dipijak? will there be life for them?
Komentar
Posting Komentar