Hidup sebagai ketua takmir salah satu masjid besar di Kota Kediri, Beliau yang biasa dipanggil Pak Djasri telah mengabdikan hampir separuh hidupnya di masjid itu, Masjid Besar Darussalam yang berdiri kokoh di pinggiran kota Kediri. Nama lengkap beliau adalah Mohammad Djasri Mustofa, Beliau telah menjadi pengurus masjid itu sejak tahun (jujur saya tidak tahu kapan tepatnya, mungkin sebelum saya lahir) bersama dengan rekan-rekan seperjuangannya, salah seorang yang menurut saya sangat kharismatik selain Pak Djasri, Ialah Pak Dawam, Wajahnya sekilas mirip dengan salah satu kyai pendiri pesantren tertua di Indonesia, Lirboyo.
Saya tidak akan bercerita tentang Pak Dawam, Masjid Darussalam atau Pondok Pesantren Lirboyo, tapi saya akan menceritakan betapa hebatnya, Bapak Djasri memimpin dan melanjutkan perjuangan Nabi Muhammad SAW dalam berdakwah di Masjid Besar Darussalam.
Awal bertemu beliau saat itu saya masih duduk di bangku SMP, Pertemuan saya dengan beliau waktu itu masih canggung dan belum tahu kalau beliau adalah ketua takmir di masjid megah itu. Perawakannya tidak terlalu tinggi, mungkin hanya setinggi bahu saya, berkumis tebal, memiliki kelopak mata sayu yang tampak lelah tapi pandangannya selalu penuh semangat, bicaranya sedikit gagap dan pelan, senyumnya jarang tapi menentramkan, pakaiannya selalu sederhana, beliau selalu identik dengan sarung bermotif kotak-kotak dengan baju batik berwarna coklat. FYI, Rumah beliau bahkan terbilang cukup jauh, dan beliau harus bolak-balik dengan motor butut Grand Astrea-nya hampir setiap hari dengan jarak 11 kilometer, bagi saya itu sudah jelas melelahkan, Dengan tubuh berusia taulah, motor butut itu dikendarai sangat pelan, mungkin hanya 20 km/jam.
Dari sini kalian pasti bertanya-tanya, kenapa kok beliau nggak menetap di sekitar masjid saja? mungkin ngekos atau tinggal di salah satu ruangan masjid? Yah, awalnya saya juga berpikir demikian, beliau memiliki tempat sendiri, di dekat masjid, sebuah kamar di rumah saudara, namun itu hanya tempat beliau beristirahat setelah perjalanan panjang, istilahnya hanya sebagai pos, tapi beliau harus pulang karena beliau memiliki ladang dan sawah yang harus diurus di desa. Mungkin muncul pertanyaan lagi, Kenapa Pak Djasri nggak tinggal menetap saja di masjid? Bukankah menjadi takmir masjid besar juga digaji? Yah, mungkin, tapi saya tidak pernah tahu sebesar apa imbalan yang diterima Pak Djasri, yang saya tahu, beliau bukan bekerja, tetapi mengabdi. Pak Djasri tidak pernah lelah bolak-balik Mojo-Mojoroto untuk selalu rutin menjadi imam sholat di waktu maghrib-isya, Lalu lanjut mengisi pengajian dan tahlilan, Kadang jika ada pengajian besar beliau harus standby di masjid sampai tengah malam memastikan persiapan acara dari awal sampai akhir lancar. Tidak peduli hujan bercampur badai dan angin, panas menthang-menthang atau sakit yang ringan seperti batuk pilek, beliau gas terus motor itu untuk mengurus dan memastikan masjid itu tetap hidup dan ramai. Kalau saya jelas batuk pilek langsung libur, hujan badai, ya ngurung diri dirumah lah wkwkwkwk. Tapi itulah yang membuat saya yakin, bahwa Pak Djasri, bukan hidup sebagai seorang pekerja biasa, beliau sudah mencapai titik hidup yang paling bermakna, mengabdi kepada Allah ta’ala.
Pak Djasri bukan seorang kyai apalagi kyai bergelar haji, bisa dibilang beliau hanya kyai desa yang kebetulan diberikan amanah untuk memimpin kepengurusan sebuah masjid besar di kota. Pendidikan beliau bahkan setauku tidak sampai SMA, berbeda dengan pengurus lain, yang memang rata-rata S1, cukup jauh memang, tapi kepemimpinan di masjid itu sangat bagus, tetap menghargai siapapun pemimpinnya, tidak peduli strata pendidikan atau status sosial. Pak Djasri hanya belajar di pondok salaf kuno yang pelajarannya menggunakan kitab kuning dan arab gundul, kalau membaca buku latin yang tebal mungkin beliau kewalahan, tapi jangan tanya kalau kitab kuning, beliau lebih mahir dari saya.
Tapi saya akui, meskipun jika dilihat Pak Djasri adalah sosok yang, maaf, mudah sekali untuk diremehkan, hanya kyai desa, tidak pernah mengenyam pendidikan formal yang cukup tinggi, kesehariannya hanya bertani, tetapi beliau adalah sosok orang tua yang hebat, tidak hanya bagi anak-anaknya, bahkan bagi saya.
Waktu itu saya mungkin masih SMP, Kebiasaan saya waktu SD adalah sering adzan di mushola dekat rumah nenek, yang jaraknya hanya 5 kali lompatan, alias sangat dekat didepan rumah. Kala itu saya ingin mencoba adzan di masjid itu, jika dibilang bagus, ya tidak sebagus suara muadzin profesional, tapi suara saya tidak buruk.
Waktu itu sore hari menjelang maghrib, saya datang ke masjid dan bertemu salah satu takmir (bukan Pak Djasri) saya meminta izin untuk adzan, dan langsung diperbolehkan, saya cukup terkejut, saya kira orang yang adzan di masjid sebesar itu haruslah orang yang profesional atau ada muadzin tetapnya, ternyata siapapun boleh. Akhirnya saya adzan di waktu sholat maghrib sore itu. Dan saat itulah saya bertemu Pak Djasri, yang datang dengan penampilan sederhana, saat beliau mulai memimpin sholat dan mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran suaranya unik, berat namun memiliki ciri khas, beliau melantunkan dengan langgam Jawa, tidak banyak imam yang melantunkan bacaan Quran dengan langgam itu di lingkungan itu. Dalam hatiku, “Wah, beliau pasti orang yang sangat kuno dan sangat tradisional” begitulah istilahnya. Saat sholat selesai beliau menemui saya, kami berkenalan sebentar, kebetulan Pak Djasri dan Budhe saya cukup dekat, karena kebetulan Budhe saya juga salah seorang pengurus di masjid itu, jadi mereka berdua cukup sering ngobrol tentang masjid.
Selang beberapa waktu, kalau tidak salah ketika saya sudah duduk di bangku SMA (FYI dari SMP-SMA saya belajar di lingkungan pesantren) saya mulai diminta oleh Pak Djasri untuk menggantikan beliau menjadi imam di satu waktu sholat, Saya lupa itu sholat apa. Tapi, kenapa? Kenapa beliau memintaku menjadi imam, Apakah beliau sakit? awalnya iya, tapi lama-kelamaan beliau memang sengaja meminta saya menjadi imam di masjid sebesar itu, bagi seorang remaja berusia 17 tahun itu tentu menjadi kesempatan yang sangat mendebarkan “gimana kalau salah baca surat AL-Fatihah jadi surat cinta untuk STARLA, gimana kalau nanti aku lupa bacaan lanjutan ayatnya? gimana nanti kalau aku mimpin doanya salah? dan berbagai kekhawatiran lain” tapi ternyata, tidak ada hal buruk yang terjadi, menjadi imam dan memimpin shalat sudah menjadi hal biasa dalam waktu setahun kira-kira.
Hal lainnya, Saat itu bulan Ramadhan tiba, masjid selalu sibuk dengan kegiatan keagamaan dari sahur sampai tarawih. Waktu itu beliau datang ke rumah bude, memang sering beliau datang ke rumah bude untuk berdiskusi perihal kegiatan di masjid, saat mengantarkan teh kepada beliau, Pak Djasri mengajakku ngobrol dan aku diminta untuk menjadi imam tarawih selama kurang lebih 10 hari bergantian dengan imam lain. Dalam hatiku “Loh, masa anak sekecil ini udah diminta mengimami shalat tarawih aja, kok Pak Djasri percaya sih? kalau aku sholatnya nggak bener gimana? kalau nanti rakaatnya salah gimana? apalagi itu jamaahnya pasti penuh” tapi beliau menyampaikan “Sambil belajar ya le” dalam bahasa Jawa. Aku yakin, ini kesempatan yang bagus, karena di pesantren kami selalu diajarkan untuk selalu belajar apapun, apalagi perihal ibadah, agar kami nanti ketika terjun di masyarakat selalu siap dan siaga jika diminta untuk memimpin dalam hal apapun. Akhirnya aku mengiyakan. Pada saat waktunya tiba, saya masih membawa kertas sobekan berisi daftar surat pendek apa saja yang harus kubaca, ku letakkan itu di sajadah agar mudah terlihat, maklum, takut salah baca surat, karena dibelakangku banyak makmum yang sudah jelas lebih senior dariku, apalagi Pak Djasri sering mengambil shaf paling depan tepat di belakangku, mungkin beliau bersiap seandainya aku membuat kesalahan agar bisa segera diingatkan. Syukurnya tidak ada hal fatal terjadi, semua berjalan lancar, aku puas dan lega, karena bisa membantu Pak Djasri.
Tidak hanya itu, Setelah dipercaya menjadi, muadzin, imam shalat fardhu, imam shalat tarawih, Beliau kembali mempercayakan tugas lain kepadaku, memimpin acara doa bersama atau tahlil yang rutin diselenggarakan setiap kamis malam, waktu itu juga sama awal mulanya, karena beliau sakit, akhirnya saya diminta untuk menggantikan, karena beliau percaya mungkin, kan aku anak pesantren, pasti bisalah, karena di lingkungan masjid tidak banyak anak muda yang mengenyam pendidikan di pesantren. Aku pun langsung mengiyakan, karena memimpin doa tahlil bukan hal yang sulit, tapi, berhadapan dengan orang-orang yang lebih tua itulah tantangannya, aku harus bisa menyesuaikan ritme nada dan kecepatan agar acara tahlil berjalan harmonis, tidak ada yang diam lalu tertidur atau telat membacanya, Cukup sulit memang, Tapi kesempatan belajar yang diberikan Pak Djasri jelas tidak boleh disia-siakan. Syukurnya acara tahlil berjalan lancar sampai selesai. Pada kesempatan lain terkadang Pak Djasri sengaja memintaku memimpin acara tahlil rutin itu meskipun beliau memang berada di masjid, jelas memimpin tahlil di depan pemimpin masjid itu membuatku lebih ndredeg dari biasanya, hehehe.
Yang terakhir, saya diminta menjadi pembawa acara setiap ada acara pengajian besar yang sering diselenggarakan saat hari besar Islam. Dulunya setiap ada acara pengajian akbar, pembawa acaranya adalah budhe saya yang sekarang berusia 60 tahun, dan beliau mungkin sudah cukup bosan dengan jobdesk itu, wkwkwk. Akhirnya pada suatu waktu setelah acara pengajian selesai, saya bertanya ke budhe “budhe, yang jadi MC itu budhe terus ya? memangnya nggak ada yang muda?” bertanya dengan nada lembut dan berbahasa Jawa ya gengs, Beliau menjawab “Nggak ada ta, ya budhe teruslah, wong ga ada yang bisa dan mau, la kamu mau to gantikan budhe?” saya dengan percaya diri bilang “ya mau dong bude, tapi memangnya boleh?” Bude dengan wajah judes tapi tutur bahasanya ramah menjawab “Ya besok tak bilang ke Pak Djasri pas ada pengajian lagi”.
Selang beberapa bulan saat ada acara pengajian lagi, tiba tiba aku diminta Pak Djasri menjadi pembawa acara “Wah, beneran nih? Kok gampang banget ngebolehin bocil jadi pembawa acara, kalau nanti tiba-tiba acaranya pengajian tapi vibe-nya konser gimana?” canda konser wkwkwk. Aku jelas langsung mengiyakan dan saat itu juga menyiapkan baju terbaik, sarung dan teks untuk menjadi tuntunanku membawakan acara pengajian malam itu agar lancar. Awalnya pasti bingung, masih sering bertanya kepada bude, seperti apa acaranya, terus siapa saja yang datang, susunan acara biasanya seperti apa, biasalah, masih belajar, Pak Djasri hanya memastikan aku mau, masalah kemampuan beliau serahkan penuh kepadaku, akhirnya aku mau tidak mau belajar sendiri. Singkat cerita, acara berjalan dengan lancar, aku memandu acara dengan baik dan sangat percaya diri, bahkan beberapa pengurus memuji keberhasilanku menjadi pembawa acara. Akhirnya sampai saat ini aku sering diminta menjadi pembawa acara di masjid itu hampir setiap hari besar Islam, bahkan sekarang aku tak perlu membawa kertas berlembar-lembar berisi kata-perkata, hanya perlu secarik kertas kecil berisikan nama tamu dan pengisi acara saja.
Lalu, dimana sisi kehebatan Pak Djasri? Wong itu cuman nyuruh aku ini, nyuruh aku buat ngelakuin itu, Biasa aja tuh? Oh tidak kawan jelas beda, dan perbedaannya baru terasa sekarang, saat aku kembali pulang ke desa.
Tidak seperti saat aku masih tinggal dirumah bude di kota dan bersama Pak Djasri mengabdikan diri mengurus masjid, di desa tidak sama dengan kota, meskipun beratapkan langit yang sama, istilahnya. Di Depan rumahku dan rumah nenek ada mushola, masing-masing dikelola oleh paman-pamanku, mereka memang orang yang berpendidikan tinggi, bahkan dulu pekerjaannya sebelum pensiun cukup bergengsi. Jelas jika dibandingkan dengan Pak Djasri jauh, dari tingkat pendidikan atau jabatan, Pak Djasri bukan apa-apa, Ya meskipun yang Pak Djasri pimpin adalah masjid besar, bukan mushola kecil, jelas bebannya berat beliau. Tapi dari sisi pemikiran Pak Djasri menurutku lebih maju dan terbuka. Bayangkan, tidak pernah sekalipun aku diminta untuk belajar menjadi imam di kedua mushola itu, tidak sekalipun, kecuali memang pamanku tidak datang karena entah apa alasannya, baru aku menjadi imam, itupun makmumnya hanya nenek dan bibiku (mushola di rumah nenek). Lebih parah di mushola depan rumahku, aku bahkan tidak pernah sekalipun diminta untuk membantu pamanku menjadi imam, ya itung-itung belajar menjadi imam, meskipun aku keponakannya sendiri. Mungkin paling mentok aku hanya adzan dan iqomah saja. Bahkan ketika hari kamis malam yang sudah menjadi kebiasaan kebanyakan warga, acara tahlil pernah absen karena pamanku tidak hadir karena ada acara diluar kota, beliau tidak sekalipun memintaku menjadi imam pengganti untuk terus melanjutkan acara rutin itu, padahal rumahku hanya tinggal melompat selangkah ke mushola itu.
Aku nggak pengen berburuk sangka, mungkin, paman-pamanku itu tidak percaya dengan ilmu yang telah aku pelajari di pesantren dulu, meskipun pesantren tempatku belajar itu sudah berdiri ratusan tahun, tapi, memang itu yang terjadi, kalau tidak dipercaya ya gimana lagi.
Bagiku Pak Djasri adalah sosok yang modern meskipun style tradisionalnya kental sekali, terlihat dari bacaan Quran dengan langgam Jawanya. Beliau sangat senang jika ada anak muda yang mau belajar dan jika diberi kesempatan untuk belajar hal baru selalu mengiyakan, sekali saja aku melakukan hal yang beliau mau, dan hal itu berakhir baik, aku dipercaya untuk terus membantu pengabdian beliau di masjid itu. Tidak banyak takmir masjid yang mudah percaya dan memberikan tugas kesehariannya kepada sembarang orang, Kadang mereka takut “Gimana kalau nanti dia mengambil alih kepemimpinan di masjid/mushola ini? Gimana kalau dia lebih baik dari aku? Gimana kalau orang lebih percaya dia daripada aku?” tidak semua tentunya, Beberapa, Ego mereka mungkin masih tinggi, tidak berpikir jauh kedepan, kenapa tidak mengganti pertanyaan seperti ini, yang mungkin juga dipikirkan oleh Pak Djasri “Gimana kalau masjid/mushola ini tidak ada pemimpinya? Gimana kalau tidak ada yang ilmunya lebih baik dari aku? Gimana kalau aku terlalu dipercaya jamaah padahal ada anak muda yang lebih baik dan energik dariku?” Saya kira itu pemikiran dari Pak Djasri, Memberikan kesempatan-kesempatan besar untuk belajar adalah harta karun berharga bagiku.
Sayangnya, setahun yang lalu, Beliau, Sosok inspiratif bagi saya pribadi, Bapak Mohammad Djasri Mustofa meninggal dunia. Bahkan disaat-saat terakhirnya ketika dirawat dirumah sakit, aku tidak sempat menjenguk. Saat pemakamannya pun aku tidak bisa datang karena tidak tahu alamat rumahnya. Bagiku, Pak Djasri tetap hidup, perjuangan dan ilmunya. Karena beliau aku belajar arti pengabdian, Karena beliau aku belajar apa itu arti kata pantang menyerah, Karena beliau aku belajar tanggung jawab dan karena beliaulah aku belajar apa itu kepemimpinan. Doaku tetap terlantun untuk bapak, semoga kami dipertemukan di surga, aku belum sempat mengucapkan terima kasih dengan benar, semoga tenang disisi-Nya ya pak, salam.
Komentar
Posting Komentar