LEBIH BAIK KALAH DEBAT DARI ORANG PINTAR DARIPADA MENANG DEBAT DARI ORANG BODOH


Debat, siapa yang tidak suka melihat orang beradu argumen, saling sangkal menyangkal, saling menyerang dengan kata-kata tajam, menyiksa hati juga pikiran. Saya adalah salah satu orang yang suka melihat perdebatan, apalagi waktu pilpres dan pilkada lalu, menurut saya, episode paling epik adalah ketika debat antara cawapres termuda dan tertua di negeri kita tercinta ini, yang satu slengekan namun berhasil menimbulkan sensasi, yang satu tetap tenang namun tetap berisi, Namun perdebatan yang saya ceritakan ini berbeda, karena lebih seru wkwkwk.


Akhir-akhir ini saya mendapat cerita dari seorang teman yang sedang menghadapi  sebuah masalah pertengkaran kecil yang menimbulkan perdebatan, cukup panjang memang, dan bahkan belum selesai sampai saat ini katanya, Ia sampai lelah sendiri dibuatnya. Bagaimana tidak, hal yang di perdebat-kan adalah sebuah topik kesalahpahaman yang membuat dia dan orang yang dihadapinya, sebut saja “B” mengalami kerusakan hubungan sebagai teman, padahal dulu baik-baik saja.


Sebelumnya kita kenalkan dulu tokoh-tokoh pemain dalam cerita teman saya ini P adalah teman saya, yang menjadi sumber cerita panjang ini. B adalah teman baik P. Sedangkan B dalam posisi ini adalah teman kenalan P, Kawan saya, tapi tidak terlalu dekat, sekedar kenal saja, Memiliki kepribadian yang unik.


Singkatnya P dan B adalah teman baik, namun P memiliki kawan, ingat, kawan, bukan teman, sebut saja F. P dan F adalah kawan karib sejak awal masuk institusi ini, Namun ada sedikit masalah yang tidak mau P ceritakan kepada saya, yang intinya, F berpisah darinya dan mulai mendekati B. Ia tidak masalah dengan pertemanan F dan B, karena P menganggap itu haknya, ia sangat tidak masalah.


Namun, tiba-tiba keesokan harinya, teman saya P mendapat pesan panjang penuh makian dan kemarahan dari B, yang notabene, teman baik, bukan kawan, teman biasa saja lah. Pesan itu sangat panjang dan P sampai bingung dengan susunan kata-katanya yang aneh, menurutnya B harus belajar cara menyusun kata-kata lagi, dan mungkin harus belajar bahasa Indonesia LAGI. P mencoba memahami kata demi kata, kalimat demi kalimat, bubble demi bubble agar tidak salah paham, katanya. Intinya, B marah, karena dia mendapat berita, bahwa P, teman saya ini, membicarakan B dibelakangnya tentang lifestyle nya. Teman saya P bilang ke saya, kalau lifestyle B memang sangat wah, sampai membuatnya bingung “darimana uangnya?” dan ia memang benar membicarakan B bersama kawan-kawan di belakang, tapi ia hanya berniat untuk mengambil hikmah dari gaya hidup si B dengan lebih bersyukur, bahwa P dan kawan-kawan dekatnya tidak memiliki gaya hidup yang terlalu mewah, karena terlalu mahal dan menurutnya kurang faedah. Yah tidak salah, tapi kembali lagi ke pesan dari B, P tidak ingin ambil pusing, menyadari B sepertinya sangat marah, ya bisa dibilang murka sehingga memang emosinya tidak stabil, ia hanya membalas, “Maaf, emosimu nggak stabil, bicara lain kali”. Yang dilakukan P menurutku benar, alih alih ikut tersulut emosi, ia menahan diri dan menunggu beberapa hari.


Sebetulnya P terkejut dengan pembicaraan yang dimaksud B ini, karena ia yakin bahwa pembicaraan itu hanya diantara kawan-kawannya saja, ingat KAWAN-KAWAN DEKAT saja. Ia langsung bertanya ke beberapa kawan dekat yang pernah ia ajak cerita tentang si B, kawan pertama mengatakan tidak, kedua dan ketiga juga tidak, tapi yang keempat Si F, entahlah, P tidak ingin berburuk sangka (tapi memang hanya beberapa orang saja yang tahu). Prasangka buruknya semakin terbukti karena kawan lama-nya si F semakin dekat dengan B, kemungkinan besar F menceritakan apa yang dibicarakan temanku ini kepada B, entahlah, tapi itu hal yang paling mungkin.


Merasa tidak beres, karena kemarahan B sangat luar biasa, P berniat untuk berbicara empat mata saja dengan B, karena menurut dia, ceritanya tentang B kepada kawannya tidak seburuk itu dan tidak separah itu. P menghubungi B meminta untuk bertemu dan B setuju di hari yang sama. Tapi ternyata ia ada kepentingan, baiklah, P merasa tidak masalah, mungkin lain waktu saja kalau bertemu.


Beberapa hari kemudian, dengan canggung P mengajak B bertemu dan berbicara empat mata, mereka duduk di kursi taman yang catnya sudah mengelupas berwarna coklat tua. Ia mempersilahkan B berbicara dulu, Sebelum ia menjelaskan yang sebenarnya, ia ingin tahu apa yang ia dengar dari “anonymous” itu (yang memang dipercayai itu adalah F). Setelah B mengungkapkan perasaannya dan ceritanya yang ngalor ngidul itu (kata P) baru P berbicara. Teman saya P mengaku salah dan meminta maaf berkali-kali dan lanjut menjelaskan cerita yang dimaksud B dengan runtut, tenang, dan berbicara dengan nada lembut tanpa nada tinggi sedikitpun, berharap P dapat memahami setiap kalimatnya dengan baik. Sebelum itu P waktu bercerita kepada saya di telepon ia bertanya “Menurutmu gimana responnya ketika aku ngomong kaya gitu ke dia, apalagi aku mencoba berkali-kali minta maaf meskipun responnya ketus?” saya jelas menjawab “pasti masalah selesai dan kalian bersalaman, kalian berteman baik kembali” P dengan ketawa tipis bilang “SALAH BESAR, Ia marah, bahkan lebih marah dari bubble chat di pesan waktu itu, ia tidak percaya, dan hanya yakin dengan yang dibicarakan informan-nya, penjelasanku yang panjang lebar itu hanya dianggap alasan munafik untuk menenangkan hatinya, katanya, aku sudah jelas berbohong dan tidak mungkin perkataan informannya itu salah, karena katanya lagi, informasi itu dari orang yang VALID dan LEGIT”. Saya mendengar P bukan terkejut heran, tapi terkejut tertawa, bahkan durasi tertawa itu adalah yang terlama dalam hidupku. Bagaimana tidak? dalam percakapan kami malam itu, P berulang kali menjelaskan ke B waktu di taman, “itu adalah yang sebenarnya, tidak ada yang dikurangi atau dilebih-lebihkan” namun B tetap dengan pendiriannya, P sebagai orang yang membicarakannya tetap salah dan B dengan berita dari informan VALID nya yang benar.


Setelah panjang lebar P bercerita, saya baru merespon, tindakan P sudah benar, ia mengaku salah, meminta maaf, meskipun berita yang membuat P dan B beradu domba itu salah. Menurut saya F adalah orang yang harus paling dicurigai, bisa saja cerita tentang B yang diceritakan teman saya P kepada kawan-kawannya di belokan sehingga menimbulkan kesalahpahaman besar dan menyebabkan pertengkaran dan perdebatan bodoh ini. Tindakan B juga sudah benar, ia tetap mau menemui P meskipun ia masih marah dan benci. Kasian juga P sudah dikhianati kawan, diadu domba pula, wkwkwk, semoga baik nasibmu P. Kembali ke perdebatan di taman itu antara P dan B, saat perdebatan belum selesai, B pergi begitu saja tidak mau mendengar penjelasan yang sebenarnya dari P. Saat ditelepon P bilang “Menyesal aku” saya jawab “Menyesal kenapa?” P menyambung perkataan tadi dengan nada lelah “Menyesal telah berdebat dengan orang yang tidak mau mendengar penjelasanku, tidak bisakah dia mendengar sampai selesai, atau setidaknya bertanya kalau ada yang belum jelas, aku merasa seperti orang bodoh” aku menjawab “bodoh? maksudnya” P “ya bodoh lah, aku berdebat dengan orang yang tidak paham perkataanku, aku seperti bicara dengan anjing, hanya menyalak dan tidak bisa memahami perkataanku” aku pun memotong sambil tertawa “hahahaha, kasian kamu, kamu pernah dengar istilah ini belum?” P bertanya penasaran “istilah apa?” aku menyambung perkataanku “katanya lebih baik kalah debat dari orang pintar dan berilmu daripada menang debat dari orang bodoh yang merasa pintar dan benar” P dengan respon wah-nya “Oh aku paham, kalau kita berdebat dengan orang pintar dan kalah, kita tetap beruntung karena mendapat pengetahuan baru, tapi walaupun menang perdebatan dari orang bodoh, kita nggak akan dapat apa-apa kecuali lebih bodoh dari dia” aku mengapresiasinya dengan menjawab “Nah, itu kamu pinter” untung dia kalah debat dari B, bayangkan kalau dia menang.

Komentar