PAUS FRANSISKUS, TOKOH PERDAMAIAN DAN SIMBOL KESEDERHANAAN
Jauh sebelum kepopulerannya ketika datang ke Tanah Air, Saya sudah lama mengidolakan beliau, terlepas dari keyakinan yang saya percayai, beliau memang sosok yang sangat menarik dan kharismatik.
Saya sudah mengidolakan Paus Fransiskus sejak masih duduk di bangku MTS (Setingkat SMP) saya suka melihat kegiatan dan keseharian beliau di kanal media sosial. Banyak Paus yang saya ikuti dari hal yang membuat tertawa hingga menangis bahagia. Mungkin salah satu contohnya adalah ketika beliau saat berkhotbah atau berceramah dalam bahasa saya (mohon koreksinya kalau salah) berkali-kali beliau didatangi oleh anak-anak berkebutuhan khusus atau bahkan sesekali mikrofon yang beliau gunakan untuk menyampaikan pesan-pesan perdamaian ingin direbut istilahnya karena mungkin anak itu penasaran dengan benda itu, namun tidak sekalipun Paus marah atau merasa tidak nyaman, beliau tetap fokus menyampaikan pesan-nya sambil sesekali menyapa anak kecil itu, bahkan para kardinal yang duduk di samping beliau juga tidak ingin mengganggu anak itu bercengkrama dengan Paus, tidak ada bodyguard atau pengawal juga yang berani menegur kecuali sang Paus meminta, bahkan dalam sebuah video lain Paus mempersilahkan seorang anak berbicara dengan mikrofonnya.
Tidak hanya itu, dalam sebuah kesempatan saat beliau berkunjung ke suatu negara kalau tidak salah, beliau seperti biasa naik mobil kepausan dengan kap terbuka dan singgasana sambil menyapa umat-nya dikawal dengan beberapa polisi berkuda yang berjaga di pinggir jalan, namun, saat dalam perjalanannya ada seorang polisi wanita berkuda yang kudanya tiba-tiba terkejut oleh sesuatu mungkin sehingga tepat saat mobil Paus melintas di sampingnya, polisi wanita tersebut jatuh tersungkur dengan sangat keras ke jalan beraspal, tentu hal tersebut mengejutkan Paus dan beberapa orang yang semobil dengan beliau, Paus bisa saja terus melanjutkan perjalanannya karena tentu pasti ada orang yang sudah bertugas untuk menolong polisi itu, namun beliau langsung berhenti dan berjalan menuju polisi yang jatuh itu, beliau melihat kondisinya, setelah polisi itu dipindahkan ke ranjang yang akan membawanya ke rumah sakit, beliau sempat mendoakannya dan mencium keningnya, lalu beliau kembali melanjutkan perjalanan.
Beliau telah berkali-kali membuat saya terkesan dengan sikap dan kebaikannya tidak hanya kepada umatnya, tetapi juga kepada setiap manusia. Beliau adalah orang yang selalu mengajak perdamaian, beliau selalu berada di garda terdepan dalam membela saudara-saudara kita di Palestina, beliau selalu menyampaikan pesan kedamaian dan meminta Israel untuk menghentikan perang dan membunuh manusia tidak berdosa disana. Hal ini tentu sejalan dengan pemikiran saya dan kebanyakan umat muslim, bahwa kemerdekaan untuk rakyat Palestina adalah mutlak dan harus terus diperjuangkan bagaimanapun caranya.
Saya juga sempat menonton film “The Two Popes” karya Fernando Meirelles dan ditulis oleh Anthony McCarten yang menceritakan bagaimana Kardinal Jorge Mario Bergoglio yang saat itu ingin mengundurkan diri sebagai kardinal kepada Paus Benediktus XVI yang ditolak dan akhirnya sekarang menjadi Paus Fransiskus dan dikenal seluruh dunia sebagai Paus Pionir.
Film tersebut secara gamblang menceritakan bagaimana kehidupan seorang Jorge Mario Bergoglio sebelum menjadi Paus hingga akhir hayatnya. Beliau fokus berdakwah kepada seluruh umat dari berbagai macam kalangan dan bahkan lebih banyak di jalanan. Pahit dan manis kehidupan beliau yang pernah bekerja di club malam hingga menyukai seorang wanita semua diceritakan lewat film itu, hingga pada suatu scene yang banyak dibicarakan di internet saat Jorge Mario Bergoglio mengatakan sesuatu kepada wanita yang disukainya beliau berkata kurang lebih seperti ini yang saya ingat “Jika aku tidak bersamamu, maka aku akan menjadi pastor” yang mana, kalau tidak salah sejauh pengetahuan saya, dalam agama Katolik, jika seseorang menjadi pastor atau suster maka mereka tidak diperbolehkan menikah dan fokus mengabdikan diri kepada tuhan, sungguh puncak kecintaan yang luar biasa.
Dalam film itu juga diceritakan betapa sederhananya beliau sudah memang menjadi keseharian beliau, bukan sekedar citra. Seperti yang kita tahu, kedatangan Paus ke Indonesia tahun lalu banyak membuat orang kagum, bagaimana beliau terbang menggunakan pesawat komersil, hanya menaiki mobil sekelas “Innova” dan bahkan duduk didepan, tidak seperti umumnya pemimpin negara atau pejabat yang biasanya duduk di belakang. Memang sudah menjadi kebiasaan beliau sejak saat menjadi kardinal, beliau memang suka duduk di depan, bahkan beliau lebih suka membawa barang bawaannya sendiri saat masih menjadi kardinal, beliau tidak ingin diistimewakan, beliau hanya ingin dianggap sebagai manusia pada umumnya, tidak ada yang luar biasa. Bahkan pada saat konklaf setelah Paus Benediktus XVI mengundurkan diri karena alasan kesehatan fisik dan mental, Kardinal Bergoglio adalah salah seorang kardinal yang mengikuti konklaf pada saat itu, namun beliau memang tidak berminat menjadi Paus bahkan ketika Paus Benediktus sendiri menginginkan dan mendukung beliau menjadi Paus menggantikannya.
Ada istilah dalam konklaf yang digambarkan dalam film tersebut “Orang yang pantas menjadi pemimpin, adalah orang yang tidak menginginkannya” artinya semakin berambisi orang tersebut ingin menjadi Paus, maka semakin tidak pantas baginya jabatan tahta suci itu. Dalam film ketika Kardinal Bergoglio terpilih menjadi Paus tidak terlihat senyum cerah di wajahnya, hanya wajah penuh kekhawatiran yang bisa saya baca adalah mungkin beliau memikirkan “apakah saya pantas dan apakah saya mampu mengemban gelar bapa suci untuk semua umat?”. Saat pengumumannya sebagai Paus beliau menolak menggunakan atribut-atribut mewah yang sudah menjadi kebiasaan bagi para pendahulunya, beliau hanya berpakaian putih bersih seperti yang kita tahu saat beliau datang ke Indonesia tahun lalu, tidak memakai atribut kebesaran kepausan sama sekali.
Alasan saya mengidolakan beliau adalah karena dua alasan saja kesederhanaan dan kesadaran. Beliau sebagai pemimpin umat Katolik sedunia sudah menjadi hak-nya untuk mendapat fasilitas yang serba ada, mewah dan segala hal yang beliau ingin bisa didapatkan dengan mudah, namun beliau lebih memilih hidup sederhana karena menurut beliau banyak umatnya diluar sana yang hidup susah dan penuh perjuangan. Kesederhanaan Paus Fransiskus dibuktikan bahkan saat pasca beliau terpilih menjadi Paus, Ia memilih tinggal di apartemen alih-alih di istana yang memang sudah menjadi tempat tinggal Paus terdahulu, bahkan di film “The Two Popes” saat beliau ingin pergi ke Lampedusa sebuah pulau di Italia beliau ingin membeli tiket pesawat komersil melalui agen tapi malah dianggap hanya prank karena bagaimana mungkin seorang pemimpin sebuah negara dan pimpinan tertinggi agama Katolik memesan tiket sendiri? karena dianggap hanya sebuah prank, pihak agen menutup telepon, tapi beliau mencoba cara lain dengan memesan melalui internet, karena beliau tidak mengerti cara memesan tiket melalui internet, akhirnya beliau mencari pertolongan dengan meminta salah seorang penjaga di pintu apartemen-nya yaitu biasa disebut tentara “Garda Swiss Kepausan” yang memang terbilang masih muda sehingga pasti mengerti tentang teknologi, beliau bahkan meminta tolong, tidak memerintahkan, dan bercengkrama seperti tiada jarak antara sang Paus dan tentaranya.
Pelajaran kedua adalah kesadaran. Beliau sadar, meskipun beliau adalah Paus, tokoh agama Katolik paling berpengaruh yang memimpin 1,4 miliar umat, beliau sadar bahwa beliau tetaplah manusia biasa, yang tak luput dari kesalahan-kesalahan kecil. Beliau membuat saya sendiri sadar, bahwa, seorang yang memiliki pengaruh sebesar Paus saja tetap hidup dalam kesederhanaan, tidak ingin dianggap istimewa, tidak seperti saya yang kadang ingin diistimewakan padahal bukan siapa-siapa, hehe.
Terlepas dari perbedaan agama, Paus membuktikan manusia yang hidup di dunia harus senantiasa menjaga perdamaian tidak peduli ras, agama, suku atau bangsa, bagi beliau, perdamaian akan membuat hidup kita lebih indah. Kepribadian sederhana beliau sangat kontradiktif di tengah isu “gus-gus-an dan habib-habib-an” saya tidak akan membandingkan tapi hanya mencoba merefleksikan. Banyak pemuka agama yang selalu menebarkan pesan untuk hidup sederhana namun kedatangan dan kepulangan mereka naik mobil mewah berharga ratusan hingga miliaran ketika jamaah-nya bahkan rela berjalan kaki berkilo-kilo meter demi mendengarkan pesan kebaikannya. Mereka mengajarkan perdamaian tetapi saling mengolok-olok pendakwah lain karena kalah laris job-nya. Mereka mengajarkan ilmunya, tapi tidak dengan prakteknya. Bagi saya, seorang yang sudah dipercaya sebagai seorang tokoh pemuka agama, apapun itu keyakinannya, ketika ia berbicara dan mampu memberikan pengaruh besar, sudah seharusnya perkataannya harus sejalan dengan perbuatannya. Sosok seperti Paus Fransiskus patutnya dapat dijadikan contoh dalam hal kesederhanaan dan pembawa kedamaian bagi seluruh umat manusia, tanpa memandang agama.
Dan saat ini kita sudah kehilangan sosoknya, Paus Fransiskus telah meninggal dunia, saya yakin, surga dan neraka adalah kehendak Tuhan sepenuhnya, terlalu sombong dan congkak jika saya merasa saya pasti masuk surga karena agama saya, tapi saya berharap, jika tuhan berkehendak, selain dipertemukan dengan Rasulullah Muhammad SAW, semoga saya bisa dipertemukan dengan beliau di surga nanti, semoga damai dalam surga Paus Fransiskus.
Komentar
Posting Komentar