SATU LANGIT, DUA DUNIA
YANG BAPERAN DILARANG BACA, LANJUT SCROLL TIKTOK LAGI AJA!
Percayalah guys, planet kita tinggali yang bernama bumi itu, cuman satu, tapi dunianya bisa ribuan.
Pesantren tempatku mencari ilmu selama enam tahun dulu itu ternyata sangat berbeda dengan dunia kampusku dua tahun ini, bisa dibilang lebih kompleks dan complicated. Lebih berdrama dan menantang lah istilahnya, ya itu bagus, karena aku bisa lebih banyak belajar hal baru yang belum pernah aku pelajari di pesantren, karena sebaik-baiknya ilmu adalah pengalaman.
Mari kita mulai dengan 3 jenis perbedaan besar yang ada di dunia kampus dan pesantren, aku menyebutnya dengan “dunia” karena memang sangat berbeda adanya.
Pergaulan, di pesantren aku biasa bergaul dengan orang yang lebih tua atau senior, karena dalam satu kelas madrasah diniyah (sekolah agama/ngaji istilahnya) yang sama bisa terdiri dari berbagai macam usia. Yah, lalu apa bedanya dengan dunia kampus, bukankah kadang juga ada yang lebih tua atau bahkan lebih muda? Ya… betul, tapi cara bergaulnya yang beda. Di pesantren tempatku tinggal, Keilmuan seseorang lebih dipandang alih-alih usia, kadang aku “berguru” kepada yang lebih muda dariku, bahkan yang lebih tua dariku sering berguru ke adik-adiknya yang usianya terpaut jauh. Hal itu bisa terjadi karena keilmuan di pesantren dari segi referensi atau kitabnya. Beda dengan dunia pendidikan formal, maksudnya gimana? Misal nih, kita di pesantren biasanya mengaji dengan membawa kitab kuning yang semuanya berbahasa Arab dan tidak ada harokatnya alias gundul. Membaca kitab kuning dengan bahasa Arab gundul tidak semua orang bisa, karena berbeda pengartian saja sudah merubah tafsir dan arti sebenarnya. Makannya tidak jarang, di kelas bisa dihitung siapa yang bisa membaca kitab dengan lancar atau tidak, makannya, kadang kita saling bantu untuk mendapatkan penjelasan, tidak peduli dengan usianya, yang penting, ilmu dan pemahamannya.
Hal lain adalah, di pesantren, attitude is number one. Dalam bergaul dan bercengkrama dengan guru-guru kita selalu menunduk, sudah menjadi kebiasaan ketika ada guru yang lewat atau pimpinan pesantren lewat entah menggunakan kendaraan atau tidak kita selalu membuka jalan dan menunduk. Mungkin terlihat berlebihan, tapi kita menunduk bukan tanpa alasan, Beliau-beliau ini level ilmunya sudah jelas diatas kita, tidak patut kalau kita petantang-petenteng jika lewat didepan beliau, ingat, di pesantren, kita tidak hanya melihat latar belakang orang-orangnya, tetapi ilmu dan pengetahuan yang mereka miliki.
Berbeda dengan dunia kampus, apalagi aku berkuliah di salah satu kampus yang, ya… bisa dibilang cukup bergengsi. Aku menjadi mahasiswa di sana berkat bantuan beasiswa, dan aku bersyukur akan hal itu, karena melihat kampus itu sangat Luxury. Pergaulan di kampus lebih santai, tidak memandang latar belakang tapi juga tidak memandang keilmuan yang dimiliki seseorang. Interaksi kami dengan dosen saja biasa, ketika mereka lewat hanya sekedar menyapa tersenyum, tidak seperti kebiasaanku di pesantren yang selalu menundukan kepala dan membukakan jalan, yah bisa dimaklumi, ini salah satu culture shock yang aku alami, karena sudah menjadi kebiasaan.
Lifestyle, Sisi lain di dunia kampus adalah, gaya hidupnya. Yup, Mereka sangat bebas, like, Bener-bener bebas, Minum alkohol, Dugem, Ngafe di tempat yang mahalnya minta ampun, Main sama pacar sampe keluar kota, bahkan check-in, Is a usual things. Hal kaya gitu menurutku udah WOW banget, udah kaya “How dare all of you doing that?” hal semacam itu dianggap biasa, dan kata “dosa” itu seolah-olah hilang dari kamus. Dulu di pesantren, hal yang paling nakal ya, kabur, kalau nggak itu, tuker-tukeran surat sama santri putri, dan, oh ya, bawa hp, itu udah di level maksimal. Ngomongin masalah hp, kalau di pesantren hp merk apapun yang penting bisa buat nelpon orang tua buat minta kiriman uang udah syukur, Tapi, di kampus is like another level of phone, Hal lumrah jika kalian menemui user iPhone dimana-mana, Sekarang tipe A misal, besok bisa tuh ganti ke tipe yang lebih bagus. Apalah dayaku yang menggunakan hp Korea yang layarnya kadang kepencet sendiri dan kameranya burik maksimal, tapi nggak papa, setidaknya punya. Level gengsi-gengsian di kampus lebih gila lagi, dan aku yakin nggak semua orang kaya gitu, mungkin karena memang kebutuhan aja sih, tapi emang, yang kaya gitu banyak, wkwkwkwk.
Pertemanan dan Communication Skills, Banyak yang sering memandang sebelah mata ke anak pesantren, Dari segi outfit (mungkin) meskipun jaman sekarang makin banyak santri yang nggak kalah keren dari anak muda pada umumnya, teknologi mungkin sama trend yang lagi hype di dunia luar. Ya and that’s true tapi kalau masalah public speaking mereka lebih banyak yang jago, ingat ya, gak semua, tapi banyak yang jago ngomong di depan orang banyak. Nggak diragukan, ini karena memang tuntutan bagi kami yang harus bisa mengkomunikasikan ilmu pengetahuan dari pesantren kepada masyarakat, karena, gimana masyarakatnya paham agama kalau santrinya nggak bisa ngomong. Ini memang sudah dilatih sejak masih kelas pemula di madrasah diniyah, kita selalu dibiasakan untuk melakukan musyawarah membahas pelajaran sebelum kelas dimulai, dan akan ada satu penanggung jawab mata pelajaran atau kami menyebutnya Ro’is yang tugasnya adalah membuka topik pelajaran dan mengatur jalannya diskusi (semacam moderator). Disitu kami bebas berdebat, menyampaikan pendapat, pendapat yang masuk akal sampai tidak, semua ditampung, bahkan kadang terpecah menjadi dua blok, pro dan kontra, dan saat itulah menjadi momen paling seru, aku sangat menikmati momen perseturuan penuh dengan pengetahuan itu, bahkan jika memang sedang seru-serunya, ketika guru datang, beliau bahkan mempersilahkan untuk melanjutkan diskusi kami, guru kami hanya bertugas meluruskan pendapat yang kurang tepat agar ilmu yang kami dapatkan tidak salah. Bahkan aku juga pernah menjadi salah satu Ro’is salah satu pelajaran, Jelas cukup menantang, Aku harus berhasil membuka sebuah topik dan permasalahan untuk diperdebatkan agar kelas tidak sepi dan aktif.
Tapi jauh berbeda dengan dunia kampusku saat ini, Kenapa? Banyak teman-temanku yang harus belajar cara ngomong dan presentasi lagi yang keren, bukan berarti aku merasa caraku presentasi sudah bagus, tapi, aku sudah diajarkan bagaimana cara presentasi dan berbicara yang baik di depan banyak orang. Kebanyakan mereka ketika diberi tugas presentasi hanya membaca slide full dari awal hingga akhir, Yang jelas itu membosankan, Kalau hanya membaca, Jelas kami bisa, tidak perlu diajari lagi, Kita jadi kehilangan esensi dari presentasi itu sendiri. Bahkan kadang ketika membaca pun masih ada yang salah, Entah salah titik, koma atau pengucapan, Padahal itu masih Bahasa Indonesia. Tapi jelas itu tidak semua, Masih ada mahasiswa-mahasiswa hebat yang ketika presentasi ia menggebu-gebu seperti Bung Tomo ada juga mereka yang ketika presentasi seperti panjang banget kaya motivator yang ngasih motivasi.
Nah, ini nih GONG-nya, Kalau dari segi pertemanan, Percayalah, anak pesantren solid-solid semua insyaallah dan mereka punya empati juga simpati yang tinggi. Selama enam tahun aku di pesantren, mereka selalu mengedepankan kebersamaan, Bagaimana tidak, Mereka tidak punya siapa-siapa di pesantren, Semua keluarga mereka dirumah, Hanya ada mereka dan teman-temannya, Jadi harus saling menjaga dan saling memiliki. Pertengkaran, Oh jelas ada, Tapi tidak berlarut-larut. Mungkin kalian pernah bertengkar dengan teman atau saudara kan? Lalu setelah bertengkar apa yang terjadi? Diem-dieman, Nggak mau nyapa lagi, Nggak mau ngobrol sama sekali, bahkan memandang aja gak sudi. BIG NO kalau di pesantren. Aku bahkan ada pengalaman tidak enak waktu di pesantren. Pernah aku bertengkar karena selisih pendapat dengan salah seorang teman, Tapi setelah bertengkar, Masalah selesai dan kami tetap saling sapa seperti biasa, Bahkan aku merasa tidak enak karena mempermasalahkan hal kecil kepadanya, Dan aku sangat berterima kasih kepadanya karena sudah memaafkan kebodohanku. Kami tidak mengenal circle di pesantren, Yang kami tahu hanya semua adalah teman dan sahabat, Kalau ada yang kesusahan ya dibantu, Kalau ada yang tidak makan ya diajak makan meskipun sedang sama-sama susah, Bagi kami kesusahan jika ditanggung bersama pasti terasa ringan.
Berbeda dengan di kehidupan kampus yang aku alami saat ini. Banyak drama pertemanan yang bahkan aku tidak menyangka akan menghadapi hal seperti ini, is another level of my culture shock. Kita pasti tahu, circle-circle an di dunia kampus itu hal biasa, Sekarang kita temenan sama si A, eh besoknya si A bisa tuh ganti teman ke si B, terus si B ternyata nggak suka sama kita, ada tuh, ya di kampus aja deh kayaknya. Ada istilah kalau di kampus tembok aja ada telinganya, ya gitu deh, kita ngomong apa aja pasti kesebar, entahlah dari mana berita itu tersebar, padahal cuman ngomong kesatu orang, apa beritanya kesebar lewat angin ya kira-kira, wkwkwk.
Sekarang kita bandingin gimana dunia kampus kalau lagi ada pertengkaran antar individu, Misal nih, ada sahabat deket banget, udah kaya saudara KANDUNG, ada masalah, bertengkar, Bisa tuh mereka besoknya diem-diem an sampe entah kapan, Padahal awalnya mereka deket banget kaya botol sama tutup, udah klop banget lah istilahnya dan kadang masalah yang dipermasalahkan juga nggak besar-besar banget, paling gara gara salah ngomong doang. Harus dimaklumi, kalau banyak orang baperan di dunia ini, Tapi mungkin itu kecuali di pesantren, Apa itu baper? Laper iya.
Dari sini aku jadi tahu, bahwa duniaku waktu di pesantren itu sempit banget, meskipun kaya penjara, tapi itu penjara terbaik yang ada di dunia yang rasanya sudah se-complicated ini. Kalau kalian yang baca udah nikah, punya anak, atau ada rencana buat bangun rumah tangga, saranku, masukin deh anak kalian nanti ke pesantren yang bagus, bukan cuman bangunan, tapi lingkungannya juga, dunia ini udah nggak ”se-sehat” dulu. Harapannya sih biar anak-anak kalian imannya setebal tembok China ditumpuk ping sewidak jaran. Karena dengan ilmu dari pesantren dan segala kebiasaan baiknya, Kita jadi dapat pengetahuan dan pemahaman yang kuat, mana yang benar mana yang salah, Karena di sisi lain dunia ini, Banyak hal yang salah dibenarkan, bahkan dibesarkan dan dibangga-banggakan sedangkan yang bener-bener benar malah dituduh sok suci dan disebut dengan “si paling surga” ya nggak ada salahnya kan kalau kita semua pengen masuk surga? Aneh kamu.
Komentar
Posting Komentar