Sebagai mahasiswa, santri dan rakyat Indonesia, Sudah sepatutnya kita semua memahami tentang adab dan tatakrama. Tata Krama dan adab seringkali diajarkan kepada saya waktu menjadi santri di dua pondok pesantren yang berbeda, satu di pesantren modern, satu di pesantren salaf yang masih tradisional. Penerapan adab pada dua pesantren tersebut jelas berbeda, ada yang lebih santai dan tata krama tetap dijadikan panutan, tapi tidak berlebihan, ada yang sangat saklek dengan tata krama, sampai menurut saya “sedikit berlebihan”. Namun keduanya tetaplah pada tujuan yang sama, menjunjung tinggi adab, diatas ilmu. Karena representasi dari ilmu pengetahuan, adalah adab dan tata krama si pembawa ilmu tersebut, yaitu kita, manusia.
Baru-baru ini tersebar video, seorang tokoh agama yang masyhur dan menurut saya sedang pada puncak karirnya, bahkan baru saja diangkat menjadi utusan khusus Presiden RI. Dan FYI saya sangat suka dan mengidolakan beliau, beliau adalah pendakwah nyentrik, estetik dan unik, beda dengan pendakwah pada umumnya. Beliau punya gaya bahasa sendiri, jamaahnya yang punya pasar sendiri, bukan hanya dari kalangan umat Islam yang sudah tahu akan keislamannya, bahkan beliau menjadi pendakwah bagi orang yang mungkin Islam, tapi belum tahu akan keislamannya. Beliau sangat menyukai medan dakwah yang penuh tantangan, dan hal ini adalah suatu inspirasi bagi saya.
Namun sayang, beliau sepertinya lupa akan jati dirinya, beliau saat ini bukan hanya berperan sebagai pendakwah biasa, tapi setelah beliau diangkat menjadi utusan khusus Presiden RI, Beliau punya status sebagai seorang pejabat negara, yang dibayar oleh rakyat dan punya tanggung jawab kepada rakyat juga Presiden sebagai pemegang kekuasaan. Kita tentu tahu, bahwa setiap jabatan punya kode etik, terlepas dari apapun latar belakang orang itu sebelumnya, kode etik adalah hal dasar yang sudah sepatutnya diterapkan dan dibawa oleh dirinya setiap saat.
Satu hal yang saya sadari dan juga pernah saya rasakan adalah, ketika manusia berada pada titik tertinggi hidup yang ia rasakan, maka ia akan lupa sedikit atau sebentar tentang hal-hal yang membuatnya berada di titik tertinggi itu, entah pengalaman masa lalu atau hal-hal yang membantunya, dan bukan tidak mungkin, ia akan sedikit congkak dan sombong. Hal itu adalah yang pernah saya alami, dan mungkin dialami oleh beliau.
Sebagai seseorang yang berada di tempat yang tinggi, tidak hanya sebagai pejabat, tetapi juga orang yang memiliki tanggung jawab kepada umat, sudah seharusnya beliau dapat mawas dan sadar diri akan setiap perkataan dan perbuatan yang keluar dari tubuhnya.
Saya sadar, bahwa gaya ceramah beliau yang memang berbahasa kasar, santai dan casual adalah ciri khasnya, tetapi, tetap harus melihat situasi dan kondisi. Saya ada pertanyaan, yang mungkin jika beliau baca artikel ini agar dapat jelas alasannya,
Apakah tepat bergurau jika orang yang diajak bergurau tidak merasa itu adalah hal lucu?
Apakah tepat mengatakan “goblok” kepada satu orang yang melakukan pekerjaannya, berjuang untuk keluarga dan agamanya didepan umum?
Apakah tepat, kawan-kawan anda membela diri dan membela anda ketika orang yang anda hina bahkan tidak merasa baik setelah hinaan itu?
dan terakhir,
Mengapa anda menggunakan kata itu? Apakah tidak ada pilihan kata dari ribuan diksi yang ada di Kamus Besar Bahasa Indonesia yang tepat alih-alih mengatakan “goblok” di depan ribuan orang?
dan jika memang anda akhirnya membantu bapak-bapak itu dengan memborong dagangannya, apakah hati bapak yang sudah anda hancurkan dengan kalimat hina itu semata-mata kembali pulih dan beliau senang?
Saya bukan menghakimi beliau, orang-orang yang membela beliau atau kebiasaan beliau, saya sudah terbiasa melihat beliau melakukan hal-hal “unik” diatas panggung, kesempatan ini saya pergunakan untuk bertanya, alih-alih untuk menghakimi, Mana pantas seorang santri yang ngajinya baru sampai IQRO ini menghakimi seorang pendakwah yang bacaan kitabnya sudah kitab kitab tebal nan besar? yang ilmunya jelas lebih tinggi dari saya, dan Mana pantas saya sebagai orang rendahan menghina hamba Allah yang pastinya doa dan keinginannya lebih cepat terkabul?
Mari kita jadikan kejadian ini sebagai pelajaran dan pengingat akan pentingnya adab dan tata krama bagi kita semua, siapapun anda & apapun pangkat dan pekerjaan anda
Untuk bapak yang mulia, Saya prihatin, dan saya ikut sedih, semoga bapak selalu dalam lindunganNya, AAMIIN.
Komentar
Posting Komentar