Katanya Pendekar, Kok Beraninya Keroyokan?
Fenomena “Pendekar Jalanan Yang Sok Jagoan”. Kali ini saya bakal cerita sambil curhat juga tentang salah satu organisasi bela diri yang sangat dihormati, dijunjung tinggi bahkan banyak diminati oleh pemuda dan pemudi. Namun sayang seribu sayang, Kekuatan fisik mereka tidak dilatih bersama dengan mentalnya. Kalian pasti tahu cerita saya mengarah kemana.
Jelek-jelek begini saya juga pernah ikut bela diri, waktu itu saya sempat bergabung dengan salah satu padepokan pencak silat, Yah, meskipun nggak sampai jadi atlet, cuman buat ngisi waktu luang waktu SMK. Saya juga sempat ikut perlombaan tanding silat tingkat nasional, meskipun hasilnya saya kalah, Banyak pelajaran dan pengalaman berharga disitu. Beberapa diantaranya adalah, Sebagai pendekar silat, kita harus tahu sopan santun, setiap sebelum dan sesudah bertanding, kita diharuskan memberi hormat kepada wasit, juri, pelatih kita sendiri, pelatih musuh dan bahkan, musuh kita sendiri. Sungguh luar biasa, Saya sadar, bahwa jika kita ingin dihormati, kita harus hormat dan santun kepada orang lain, Jangan cuman maunya dihormati mulu. Tidak hanya saat di gelanggang, Saat pelatihan kami selalu diajarkan sopan santun, Dan satu hal, JANGAN SOMBONG. Bahkan pelatih kami selalu bilang “Saat pulang dan berangkat kalau bisa tutupi seragam silat kalian dengan jaket, jangan sampai memancing kerusuhan yang tidak perlu” kurang lebih begitu. Padepokan tempat saya berlatih sangat berbeda dengan padepokan silat lain, Tidak ada senioritas, kami hanya tunduk pada pelatih, semua sama, Sesama anggota harus saling membantu dan saling belajar, Bahkan kami sebagai anggota sebisa mungkin harus bisa menjaga diri dan saat berlatih jangan sampai cedera, Bukan berarti manja, Tapi fokus kami adalah menjadi atlet, harus bisa jaga diri dong. Selain itu, Kalau silat kita nggak ada tuh pertandingan yang keroyokan, kita harus tanding SATU LAWAN SATU, Karena kalau keroyokan bukan silat namanya, Tapi PREMAN.
Saya cukup muak ketika melihat konvoi jalanan yang mereka lakukan, berisik, penuh sesak, jalanan yang bisa dua arah jadi satu arah, suara knalpot brong yang bising menjadikan suasana malam yang tenang menjadi mencekam. Lalu apakah salah dengan konvoi? Oh tentu tidak, Di Indonesia yang banyak budaya konvoi, karnaval atau pawai yang sering diadakan oleh komunitas-komunitas pecinta motor-lah, vespa-lah, mobil-lah dan lah-lah yang lain, tentu tidak ada yang salah, tentunya dengan batas dan peraturan dong.
Bukankah lebih baik jika konvoi yang mereka lakukan tidak perlu memakai knalpot brong?
Bukankah lebih baik jika tidak perlu membawa bendera yang lebarnya bisa nutupin aib orang sejalan raya yang bahkan bisa membahayakan pengendara lain?
Bukankah lebih baik jika kalian tidak perlu teriak-teriak, berkata kasar, bersikap arogan dan menyerang pengendara tidak bersalah karena merasa jalan itu milik kalian?
Dan
Bukankah lebih baik jika kalian merayakan kesenangan kalian dengan melakukan kegiatan yang lebih positif, misal amal, sosial, atau malah lebih baik kalian bikin event turnamen silat, Kan kalian pesilat, bukan preman jalanan? Saya yakin, pasti masyarakat tidak takut dengan kalian, tapi hormat dan selalu mengandalkan kalian.
Mental pemuda seharusnya bukan sebagai mental pengecut, Seharusnya mental yang dimiliki seorang pendekar silat adalah mental ksatria, diam, tidak banyak bicara, tidak sombong dan suka menolong, bukan menyerang.
Indonesia sudah sering didapuk menjadi negara timur yang selalu menjunjung tinggi tata krama, sopan santun dan unggah-ungguh. Bukankah sudah tugas kita sebagai pemuda untuk menjaga gelar itu. Saya sangat paham, mengapa orang-orang seperti kalian saat turun ke jalan merasa diri kalian adalah “gerombolan serigala” yang menguasai suatu wilayah. Saya pernah membaca sebuah teori dalam sebuah buku yang saya baca, sayangnya saya lupa apa judulnya, Manusia cenderung hidup dengan kelompoknya, dan kelompok yang ia ikuti adalah kelompok dimana ia didukung dan merasa memiliki visi yang sama, Dan beberapa manusia enggan untuk keluar dari sebuah kelompok karena takut dianggap aneh, tidak setia kawan, tidak loyal dan takut dicap sebagai pengkhianat. Lalu apakah hidup sebagai penyendiri salah? Oh tentu saja tidak, Bukankah lebih baik menyendiri dan menjadi orang yang tidak merugikan orang lain daripada berkumpul dalam sebuah organisasi yang lebih banyak mudharatnya alih-alih manfaatnya untuk orang lain?
Tulisan ini bukan untuk menjelekan golongan tertentu, Ini menjadi refleksi bagi saya dan pengingat bagi mereka, para pemuda pemudi bangsa, yang sepuluh lima belas tahun lagi akan menjadi pemimpin negeri ini, Sudahilah budaya buruk kalian, bangun budaya baik yang sudah kalian pendam dengan sikap arogan tidak berguna. Jangan mau jadi orang tua kolot yang sudah terlanjur jadi pemimpin di negeri ini, Selalu mau menang sendiri, Selalu ingin kaya sendiri dan selalu ingin menjadi nomor satu, Ingat, Yang nomor satu itu bukan kita, Tapi, Ketuhanan Yang Maha Esa.
Komentar
Posting Komentar