CAPE CAPE USAHA, EH, YANG MENANG GITUAN JUGA

        CAPE CAPE USAHA, EH, YANG MENANG GITUAN JUGA



    Desember 2023, Menjadi minggu-minggu penuh perjuangan, katanya orang dulu kan “Siapa yang berusaha, ia akan meraih hasilnya” agaknya pepatah itu agar segera diganti menjadi seperti ini “Siapa yang punya uang dan kuasa, ia akan meraih apa yang diinginkannya”.


    Jadi, apa yang sebenarnya ingin saya bicarakan hari ini?

Sembari menunggu masuk kuliah setelah tahun ajaran baru dimulai, ibu saya tiba-tiba nyeletuk dan ngomong gini “nak, kamu ikut aja seleksi perangkat desa, ada tiga posisi jabatan, kamu coba daftar aja, biar dikenal orang desa”. Kata kuncinya disini, “biar dikenal orang desa” ya, memang benar, selama enam tahun saya tidak pernah dirumah, karya saya memilih untuk menempuh studi sekolah menengah pertama dan akhir di kota, karena saya percaya, pendidikan di kota lebih baik dan layak. Karena hidup di desa tidak sama dengan hidup di kota, dimana orang desa setidaknya harus mengenal satu sama lain agar… agar apa ya? intinya harus saling kenal lah, jadi nanti pas butuh bantuan biar bisa saling menolong gitu sih.


    Singkat cerita saya cari informasi terkait rekrutmen perangkat desa itu ke grup chat RT di handphone ibu saya, disitu tertera poster yang berisikan tentang jabatan yang dibutuhkan, link yang berisikan dokumen syarat pendaftaran dan timeline pendaftaran.


    Tidak disangka, surat pernyataannya saja ada sepuluh kurang lebih, isinya kalau kalian pengen tau sih, ada surat pernyataan bertakwa kepada tuhan yang maha esa, dan dari situ saya bisa menyimpulkan, bahwa di negara ini, bertakwa saja tidak dibuktikan dengan ibadah dan akhlak, tapi cukup dengan surat pernyataan bertakwa kepada tuhan yang cukup dibubuhi meterai Rp,10.000,00. Lalu ada surat pernyataan patuh kepada UUD 1945 dan Pancasila, wah saya terkejut dua kali dong, ternyata di negara ini, menyatakan diri patuh kepada UUD 1945 dan Pancasila itu tidak dilihat dari sikap dan perbuatan, tapi dilihat dari bagaimana ia menandatangani surat yang dihargai Rp,10.000,00 itu (soalnya ada meterai-nya sih). Dan masih banyak lagi surat pernyataan-pernyataan lainnya. Lalu tidak lupa persyaratan birokrat yang penuh sesak, ribet dan sepertinya mental tempe akan menyerah ditengah jalan, seperti, kita harus nyari SKCK atau surat keterangan catatan kriminal yang alurnya, panjang kali lebar dan bakalan ngabisin banyak bensin, saya harus datang ke polsek, kembali ke kantor desa, kembali lagi ke polsek, ternyata harus minta tanda tangan ke kantor kecamatan, habis itu, kembali lagi ke polsek, baru habis itu pulang, syukurlah, akhirnya istirahat, anggap saja kita sedekah kaya ke pemilik perusahaan minyak bumi.


    Singkat cerita, setumpuk dokumen sudah terkumpul, dan tinggal mengantarkannya ke kantor desa, saya merupakan pendaftar terakhir yang tidak penuh niat, karena hanya ingin mencoba peruntungan, dan penasaran aja sih “kaya gimana sih jadi perangkat desa itu, apa cuman datang ke kantor, terus ngopi, cek cek dokumen, habis itu pulang dan terima gaji? ups!” tapi saya percaya kok, pasti perangkat desa itu sibuk dengan urusan kerakyatan.


    Setelah pengumpulan dokumen, dua minggu setelahnya kami mengikuti ujian, kabar baiknya, mayoritas kandidat calon perangkat desa adalah pemuda dan pemudi produktif, dalam hati saya “Nah, gini dong, masa desa ini masih ada dipimpin sama orang-orang tua yang kolot dan nggak inovatif, kalau gini kan bisa maju desa kita” harapannya.


    Karena rekrutmen perangkat desa ini dilakukan secara serentak, yaitu se-kabupaten, maka ujiannya pun dilakukan secara serentak. Ujian dilaksanakan oleh pihak ketiga dari salah satu universitas di provinsi saya, saya sempat mempertanyakan kredibilitas dan integritas pihak ketiga yang akan menjadi penguji, karena seperti yang anda tahu, Negara kita penuh dengan “keajaiban” jadi kecurigaan saya tidak pernah berhenti, Saya hanya bisa berharap semoga tidak ada kecurangan.


    Ujian menggunakan metode CAT yaitu menggunakan komputer, meskipun sebenarnya pakainya laptop. Pada saat hari H, memang benar tidak ada kecurigaan saya terhadap penguji terkait pelaksanaan ujian, TAPI…, Ujian sepenting ini, kok bisa-bisanya molor lebih dari satu jam. Rencananya, ujian dilaksanakan sebanyak dua sesi, rencananya, tapi, karena alasan server error, dan tidak bisa login ke web, termasuk di laptop yang saya pilih, berkali-kali saya coba untuk login tapi tetap gagal, dan bukan saya ternyata, teman sebelah saya juga mengalami hal yang sama, bahkan bukan hanya teman saya dan teman sebelah saya, namun, hampir separuh peserta dari total enam ratusan gagal login dengan alasan server error. Kecurigaan saya muncul kembali. Akhirnya, sesi pertama yang seharusnya dilaksanakan pukul 07.00-12.00 berubah menjadi satu shift dua sesi, artinya sesi pertama pukul 07.00-12.00 dan shift pertama sesi kedua dimulai pukul 13.00-sore, entah lupa jam berapa. Heran juga saya, selevel ujian perangkat desa yang dilaksanakan se-kabupaten bisa terkendala server error, mengapa?


    Tidak berhenti sampai disitu, setelah ujian dilaksanakan, sebelum itu kami di instruksikan oleh panitia dari desa kami berasal untuk melihat nilai yang keluar dan mencatatnya lalu disetorkan ke panitia desa untuk catatan saja mungkin. Saya memperoleh 44, entah bagaimana mereka mengakumulasikan nilai hasil ujian, tapi setelah saya lihat nilai dari peserta lain dari desa saya, ternyata hasilnya cukup memuaskan, saya termasuk tiga tertinggi, se-penglihatan saya. Hasil ujian yang asli katanya panitia ujian akan keluar besok harinya, tentunya saya pede dong, lumayan lah, nggak goblok-goblok banget ternyata saya.


    Sebelum lanjut ke hasil sesungguhnya, sudah banyak rumor beredar di masyarakat desa, katanya kalau mau jadi perangkat desa itu harus bayar sekian puluh atau bahkan ratus juta ke (?) agar bisa terjamin posisinya, Namun saya percaya itu hanya rumor, saya percaya dan optimis, bahwa kejujuran itu masih ada. Saya tetap percaya diri mendaftarkan diri saat itu, dan akan membuktikan bahwa kejujuran bisa menang, dan nggak mungkin kan, generasi muda kaya saya masih pake cara-cara kolot, bodoh dan korup semacam itu, karena saya pikir mayoritas kandidat berasal dari generasi millenial, pastinya pemikirannya jauh lebih maju dan pintar dong, seharusnya. 


    Tapi eh tapi, ternyata benar juga kata orang, setelah melihat hasilnya di papan pengumuman balai desa, nilai saya bahkan tidak masuk lima besar, jauh dari dugaan saya, jauh banget malah. Dan yang lebih mencurigakan lagi, sempat beredar rumor bahwa kandidat yang sebut saja E & A sudah disiapkan untuk menjadi perangkat desa untuk jabatan kepala dusun di tempat saya si E di wilayah barat dan A di wilayah timur. Awalnya saya tidak percaya “Orang gila mana yang mau membuang-buang uang hanya untuk jabatan!?” eh ternyata ada juga kenyataannya, Begini kronologinya. 



    Salah satu kerabat si E merupakan penyewa tanah bengkok (tanah yang diberikan kepada jajaran pejabat desa untuk dikelola sebagai tambahan penghasilan selain gaji) kerabat si E sudah menyewa tanah bengkok sejak dari perangkat desa sebelumnya untuk ditanami dan menghasilkan uang. Lalu karena perangkat desa yang lama sudah meninggal, maka si E lah diajukan untuk mencalonkan diri sebagai perangkat desa di wilayahnya selanjutnya. Namun, untuk mengamankan posisinya agar tanah yang disewa kerabat E tidak jatuh ke tangan orang lain, maka digunakanlah “keajaiban” agar si E menjadi kepala dusun selanjutnya, dan ia tetap mengikuti tahapan-tahapan seperti normalnya peserta lain, mengurus dokumen, mendaftarkan diri dan mengikuti ujian. Dan katanya, itu hanya formalitas, apapun yang terjadi E akan tetap menjadi kepala dusun-nya. Dan ternyata benar, Namanya berada pada urutan teratas dengan nilai tinggi, kalau tidak salah antara 70-80. Ditambah, ibu saya sendiri yang bertanya kepada kerabat si E, bahwa ia telah menghabiskan ratusan juta untuk memastikan E agar dapat menduduki jabatan itu, dan tentunya mengamankan posisi tanah bengkok agar sewa-nya tidak jatuh ke tangan orang lain.


    Lalu apakah berarti saya gagal menjadi perangkat desa dan membanggakan orang tua saya? Oh tentu tidak, ingat kata kunci yang saya sebutkan di paragraf kedua lembar pertama? Agar dikenal orang-orang di desa. Setidaknya tujuan saya tercapai, semua orang desa tau bahwa saya mantan calon kandidat perangkat desa yang gagal, hahaha (ketawa sarkas).


    Saat itu juga saya percaya, bahwa, kejujuran di desa saya masih belum dihargai, bahkan mungkin di negara ini, kejujuran masih mahal. Seberapa keras pun saya bahkan mungkin teman-teman saya mencoba dan berusaha, akan tetap kalah dengan yang namanya “U-A-N-G”. Karena sudah pada prinsipnya, Uang akan di-tuhankan, menjadi puncak kehidupan manusia, Kematian saja membutuhkan uang, apalagi jabatan penting. Saya juga sudah salah sangka, saya kira menjadi muda, berarti menjadi pembaharu, nyatanya, malah melanjutkan, kalau yang dilanjutkan hal-hal baik yang bagus dong, tapi ya jangan korupsi dan suapnya lah. Setumpuk surat pernyataan yang berisikan pernyataan takwa kepada tuhan, patuh kepada undang-undang sepertinya memang dianggap sebagai kertas bertinta dan bermaterai saja, toh, dalam prosesnya saja sudah banyak hal yang dilanggar. Sejak kapan hamba tuhan tidak percaya atas usahanya sehingga harus menggunakan uang agar posisinya terjamin, sejak kapan “preman pasar” dan penyuap dilindungi undang-undang dan dianggap patuh kepada Pancasila.


    Agaknya desa saya gagal menjadi desa maju secara adab dan integritas. Indonesia EMAS 2045 sepertinya harus diundur, Semoga kita terhindar dari segala mara bahaya dan kebohongan.


Komentar