Banting Setir Putar Balik

 Cerita pengalamanku satu bulan berkuliah di IIK BHAKTA



Judulnya memang agak aneh, mengapa harus banting setir, memangnya tulisanku ini akan bercerita tentang balapan mobil seperti di film “Fast & Furious”? Hehehe, Tentu tidak.

Aku pada dasarnya telah belajar di lingkungan pesantren selama kurang lebih enam tahun, dan selama di pesantren aku banyak belajar tentang agama. Apakah tidak belajar ilmu pengetahuan umum seperti sekolah-sekolah lain? Tentu iya, aku tentu tidak meninggalkan pendidikan formal, istilahnya, jika aku hanya mengejar akhirat dengan belajar agama, lalu, aku hidup dimana selama dua puluh tahun ini?


Sekedar informasi saja, saat lulus MTS (SMP versi islaminya) aku tetap meneruskan pendidikan di salah satu SMK swasta yang dibawah naungan pesantren yang sama dengan sekolah menengah pertamaku dulu. Aku memang berencana bersekolah di SMK, Karena apa? Karena ingin cepat kerja? Bisa juga, Tapi, Pada dasarnya aku nggak terlalu suka teori tanpa praktek, ya istilanya, aku nggak mau banyak ngomong tapi nol aksi, ya macam politisi di negeri ini, “BBM GRATIS!, PENGANGGURAN NOL PERSEN! KEMISKINAN TIDAK ADA!” eh pas kepilih jadi wakil rakyat di “Istana Rakyat” mereka malah tidur dan main “Candy Crush” hehehe, maaf memang orangnya agak nggladur. Oke kembali ke laptop, Intinya aku masuk SMK karena lebih banyak praktek dan aku suka praktek daripada teori, aku memilih jurusan multimedia.


Saat masuk SMK aku bertekad untuk setelah lulus nanti aku ingin masuk ke PTN yang paling favorit di seluruh alam semesta, UGM atau ITS. Sejak kelas sepuluh nilai rapor sudah ku pastikan bagus dan meningkat secara signifikan dari waktu ke waktu, banyak lomba lomba kuikuti untuk mencari pengalaman dan…? ya! tidak lain tidak bukan! sertifikat. Karena kertas lembaran itu sangat amat diperhatikan oleh perguruan tinggi negeri jika ingin mendapatkan kursi di kampusnya. Mulai dari lomba yang tidak pernah menyangka aku akan ikut dan menang, sampai lomba yang deadline nya cuman dua hari sampai hari H pernah ku ikuti. Namun ketika hari besar tiba, ketika semua siswa SMA/K mencoba memperebutkan kursi di kampus negeri dengan mengikuti jalur prestasi dan juga beasiswa mandiri, syukurnya aku adalah salah satu siswa yang dapat mendaftar di jalur itu, namun, sayang seribu sayang, impianku masuk di kampus teknik terkenal di Surabaya itu pupus, aku ditolak. Baiklah memang manusia sombong ini harus sadar diri, tapi aku nggak akan menyerah mencoba, kucoba masuk ke kampus impianku sejak kecil, UGM. Aku memilih mendaftar di program diploma IV karena aku lebih yakin jika anak SMK memiliki peluang diterima lebih besar. Dengan jalur prestasi, kukerahkan semua lembaran sertifikat yang aku miliki, Namun, aku ditolak.


Karena kecewa ditolak tiga kali, padahal perjuanganku sejak masuk SMK bukan main-main, aku memutuskan untuk tetap berkuliah dan tidak ingin gap year, menurutku aku akan kesulitan jika harus jeda setahun untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi negeri lagi. Akhirnya disinilah cerita dimulai.


Aku mulai berpikir lebih realistis, ”Apa kira-kira jurusan yang tidak akan tergantikan oleh AI? Lalu apa jurusan yang kira kira nggak bakal nganggur dulu, alias cepet dapet kerja? Dan karena aku pengen kuliah di tempat yang bagus, manajemen bagus, bersih, fasilitas nyaman dan aman, Kira-kira dimana ya tempat itu?” Tidak lain tidak bukan, tempat itu ada di kota sendiri, S1 Keperawatan, Institut Ilmu Kesehatan Bhakti WIyata, Itulah dia.


Kampus yang mau menerimaku, sebelumnya, aku mau ngucapin terimakasih banyak karena sudah mau menerima anak SMK dengan jurusan multimedia seperti saya, maaf kalau memang nanti saya bakal sering nggak pahamnya, karena basically aku bukan anak IPA, Lebih sering bercengkrama dengan headphone, mouse, keyboard, pc dan aplikasi aplikasi di laptop alih alih eksperimen dengan benda benda hidup dan anatomi tubuh manusia, karena saya lebih tau anatomi laptop atau pc, wkwkwk (ketawa khas Indonesia).


Hal yang aku sukai pertama saat masuk IIK BHAKTA adalah bangunannya paling bagus, tinggi dan bersih. Mana ada kampus yang lift nya ada 5 (atau enam ya?), ada bioskop, parkiran dua lantai, sport center dan tempat gym. Semua tempatnya bersih dan kinclong seperti kulit artis korea, glowing.


Selain itu, kantin kita bukan seperti kantin pada umumnya, Kalau mau pesan, harus pake pake layar yang biasanya kalian temui di MCD, Bisa scroll menu sampai bawah, dan biasanya yang paling lama itu bukan nungguin makanannya dateng, tapi, milih menu yang bisa dibilang ratusan. Yang penting anti antri, nggak ribet dan nggak bakal tuh ada yang namanya salah pesanan (kecuali emang kamu pesennya salah ya).


Perpustakaan paling kece kayaknya adanya di IIK BHAKTA deh, Mana ada coba perpustakaan se-chill, sebagus dan sekeren Adipadma Library, Bukunya emang nggak sebanyak Gramedia, tapi, tempatnya luas plus dua lantai, buat aku yang suka nugas, diskusi atau baca buku, kayaknya bakalan nginep deh, hehehe.


Dosen dosen yang aku temui sejauh ini sejauh ini, biasa saja. Tapi…, ada tapinya dong… Ada dosen yang the best kok, Dosen praktikum yang aku kira garang dan bakal jadi dosen killer pertama ku sejak masuk kampus, ternyata sangat ramah lingkungan eh, ramah manusia maksudnya. Meskipun beliau berperawakan besar dan berjenggot, tapi ketika mengajar praktek, jiwa keperawatan dan kemanusiannya sangat tinggi, bahkan beliau memiliki selera humor yang bagus.


Ada juga dosen yang mengajar falsafah dan teori keperawatan, beliau adalah dosen wanita paling kharismatik yang pernah saya temui. Ketika itu kelas kami daring, dan memang sudah menjadi rahasia umum kalau daring itu tantangannya ngantuk, hampir semua dosen yang mengajar secara daring aku selalu ngantuk, atau bahkan kami ya, hehe, Tapi ketika beliau pertama mengajar, suasana daring terasa berbeda, yang hanya hening menjadi riuh banyak pertanyaan dan jawaban, Inilah suasana yang aku inginkan, aktif dan tidak pasif. Beliau memang lebih menyukai kelas yang ramai akan diskusi alih alih diam tak sepi dan hanya mendengarkan materi. Sepertinya memang beliau memiliki keahlian khusus dalam mengajar, Bagaimana tidak? Beliau mengatakan kepada kami sendiri bahwa ia telah memiliki pengalaman selama 30 tahun mengajar, dan juga pernah berkuliah di Australia, Bahkan beliau juga membagikan beberapa pengalaman ia berkuliah di sana.


Kesimpulannya, IIK BHAKTA adalah universitas yang selama ini kucari, meskipun tidak sesuai dengan apa yang kuinginkan, namun tuhan tahu apa yang terbaik untukku, jawabannya adalah Institut Ilmu Kesehatan Bhakti Wiyata.


Komentar